TBOnline, LEBAK ¦ Di tengah maraknya usaha budidaya jangkrik yang terus tumbuh pesat di wilayah Banten, satu nama telah berdiri kokoh dan menjadi acuan utama di kalangan petani maupun pembeli : Restu Jangkrik Lebak (RJL), Senin (18/5/2026).
Sebagai pelaku usaha yang telah berkiprah bertahun-tahun, RJL kini resmi mendominasi industri peternakan jangkrik di Kabupaten Lebak, bahkan menjadi ikon keberhasilan ekonomi kreatif berbasis pertanian di daerah ini.
Dominasi RJL bukanlah kebetulan semata, melainkan buah dari manajemen yang rapi, kualitas hasil ternak yang terjamin, serta jaringan pemasaran yang luas dan kuat. Berdiri dengan semangat untuk memajukan potensi lokal, RJL tidak hanya bergerak sebagai peternak mandiri, tetapi juga menjadi pusat pengumpul, penyalur, dan mitra utama bagi ratusan petani kecil yang tersebar di berbagai kecamatan di Lebak. Hal ini membuat aliran pasokan jangkrik dari wilayah Lebak ke berbagai daerah di Pulau Jawa hampir seluruhnya dikelola dan dikendalikan melalui tangan RJL.
Masto, pendiri sekaligus pimpinan Restu Jangkrik Lebak, mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan dan posisi dominan yang diraih saat ini terletak pada konsistensi kualitas dan kepercayaan.
“Kami selalu menjaga agar jangkrik yang dihasilkan maupun yang kami pasarkan memiliki ukuran seragam, sehat, bebas penyakit, dan bobot yang padat. Itu sebabnya pembeli dari Serang, Rangkasbitung, hingga Jakarta dan Bogor selalu kembali kepada kami. Mereka tahu, barang dari RJL tidak pernah mengecewakan,” tuturnya dengan bangga.
Tak hanya mengandalkan kualitas, RJL juga berperan besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. Melalui sistem kemitraan yang dibangun, RJL membimbing warga yang ingin mulai beternak, menyediakan bibit unggul, memberikan pelatihan cara perawatan yang tepat, hingga menjamin pembelian kembali hasil panen dengan harga yang menguntungkan dan stabil. Berkat peran ini, usaha ternak jangkrik yang dulunya hanya sekadar usaha sampingan, kini telah berubah menjadi sumber pendapatan utama yang menjanjikan bagi banyak keluarga di Lebak.
Saat ini, kapasitas produksi dan distribusi RJL mampu mencapai ribuan karung setiap bulannya, memenuhi kebutuhan pasar pakan burung, pakan ternak, hingga bahan baku industri pangan olahan serangga yang kian diminati. Posisi RJL sebagai pemimpin pasar membuat harga jual di wilayah Lebak pun cenderung stabil dan terjaga, jauh dari praktik penekanan harga yang merugikan petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, bahkan memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Restu Jangkrik Lebak. Menurutnya, keberadaan RJL membuktikan bahwa potensi agribisnis di Lebak sangat besar dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“RJL adalah contoh nyata bagaimana usaha skala rumah tangga bisa tumbuh menjadi kekuatan ekonomi daerah yang mendominasi dan menyejahterakan. Kami sangat mendukung pengembangannya ke arah industri yang lebih modern dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Menatap masa depan, RJL bertekad untuk tidak berpuas diri. Rencananya, mereka akan mulai merambah ke pengolahan produk turunan jangkrik seperti tepung protein tinggi dan pakan ternak olahan, agar nilai jual produk Lebak semakin meningkat dan kedaulatan pasar jangkrik di wilayah ini tetap berada di tangan anak-anak daerah sendiri.
Bagi warga Lebak, nama Restu Jangkrik bukan sekadar merek usaha, melainkan jaminan kualitas, simbol keberhasilan, dan harapan baru dalam menggapai kesejahteraan melalui usaha ternak yang sederhana namun bernilai tinggi.






