Nasional

Minggu, 16 Mei 2021 - 11:45 WIB

1 bulan yang lalu

Masjid Nurut Taubah yang berada di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Foto : Ist)

Masjid Nurut Taubah yang berada di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Foto : Ist)

Masjid Nurut Taubah, Jejak Syiar Islam Imam Lapeo di Tanah Mandar

Masjid Nurut Taubah berada di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Lokasinya yang berada di ruas jalur Trans Sulawesi Barat membuat masjid ini tak pernah sepi dari pengunjung dan peziarah dari berbagai daerah untuk singgah menunaikan salat maupun mengunjungi makam Imam Lapeo yang berada di kompleks masjid.

Bagi masyarakat Mandar, sosok Kyai Haji (KH) Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Lapeo merupakan ulama yang mengembangkan syiar Islam di wilayah tanah Mandar sekaligus menjadi imam pertama yang mendirikan Masjid di Lapeo.

Kyai Haji (KH) Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Lapeo (Foto : Ist)

Imam Lapeo lahir di Pambusuang (saat ini masuk dalam wilayah Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat) pada tahun 1839 dan giat menyebarkan syiar Islam hingga wafat pada tahun 1952. Salah satu peninggalannya yaitu Masjid Nurut Taubah yang kini dikelola oleh cucu dan keturunannya.

Dalilul Falihin, salah seorang cucu Imam Lapeo mengisahkan, sebelum ke Lapeo dan mendirikan Masjid Nurut Taubah, KH Muhammad Thahir mengunjungi berbagai tempat untuk menimba ilmu agama, mulai dari Parepare, Madura, Jawa, Sumatera, Istanbul (Turki), hingga Mekkah.

“Itu sebabnya masyarakat juga menyebutnya sebagai Kanne Ambol, artinya kakek dari Istanbul atau disebut Ambol bagi masyarakat di sini,” ungkap Dalilul Falihin kepada Sulbar Kini, Sabtu (24/4).

Meskipun sudah beberapa kali mengalami renovasi, lanjut Dalilul, ada beberapa bagian masjid yang masih dipertahankan yang merupakan peninggalan Imam Lapeo. Di antaranya mihrab, menara masjid, hingga pintu gerbang masjid.

“Mihrab masih mempertahankan bentuk awalnya, begitu pula menara masjid yang modelnya terinspirasi dengan menara masjid di Istanbul. Dinamakan Masjid Nurut Taubah yang berarti cahaya taubat, karena semasa hidupnya Imam Lapeo banyak menyadarkan orang-orang dari perbuatan maksiat, seperti sabung ayam dan minum-minum (miras),” jelas Dalilul.

Zaenal, pengurus masjid Imam Lapeo yang masih merupakan menantu dari cucu Imam Lapeo, menambahkan, awalnya Imam Lapeo membangun masjid di Laliko pada tahun 1902. Untuk melanjutkan penyebaran agama Islam dan mengajak penduduk bertaubat, Imam Lapeo kemudian berpindah ke Lapeo pada tahun 1911 dan menyebarkan Islam secara luas.

Sebagai salah satu masjid yang kini menjadi destinasi wisata religi, Masjid Nurut Taubah Imam Lapeo dilengkapi dengan beduk raksasa berukuran tinggi 3 meter dan lebar 1,5 meter yang dibuat di Cirebon serta Al Quran berukuran 2×1 meter yang dibuat di Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 2018 lalu.

“Kita bersyukur karena dalam pembangunan Masjid Imam Lapeo ini selalu diberi kemudahan. Mulai saat kita mencari beduk, dan kita ketemu beduk di Cirebon yang sebenarnya sudah ada yang pesan. Namun karena batal dan beduk inilah yang kita datangkan,” ujar Zaenal.

Di samping sebagai tempat ibadah, di kompleks Masjid Imam Lapeo juga didirikan pesantren untuk penghafal Al-Quran.

“Sudah jalan 3 tahun. Santrinya ada 30 orang, yang mondok 20 orang. Jadi santri dibimbing dari awal, memperbaiki bacaan dan tajwid sebelum menghafal,” ucap pengelola Pesantren Tahfidzul Quran Masjid Imam Lapeo, Hasbi. Badrun

Artikel ini telah dibaca 173 kali

Baca Lainnya