TBOnline, SUKABUMI ¦ PT Amerta Indah Otsuka (Pocari Sweat) melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS) dengan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) terkait Penguatan Fungsi Kawasan Konservasi Melalui Pemulihan Ekosistem, Perlindungan Satwa Langka, serta Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan, Sabtu (20/6/2026).
Board of Director PT Amerta Indah Otsuka, Sudarmadi Widodo, mengatakan bahwa keterlibatan perusahaan bukan sekadar agenda tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan bagian dari filosofi bisnis yang menempatkan kesehatan lingkungan sebagai fondasi kesehatan masyarakat.
“Kontribusi terhadap kesehatan masyarakat harus dimulai dari kesehatan lingkungan. Karena itu, kami memandang pelestarian kawasan konservasi sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan,“ ujarnya.
Dijelaskan Sudarmadi Widodo, kerjasama dengan TNGHS bukanlah hal baru, sudah sejak tahun 2012 perusahaan telah menjalankan berbagai program konservasi melalui Program Satu Hati, termasuk kegiatan adopsi lebih dari 28 ribu pohon di kawasan TNGHS dengan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai lebih dari 95 persen.
“Capaian tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk melangkah lebih jauh. Dalam kerjasama terbaru ini, PT Amerta Indah Otsuka mengalokasikan dana sebesar Rp371 juta untuk periode 2026–2029 guna mendukung pemulihan kawasan konservasi seluas 4,9 hektare di Blok Cisaat,” ujarnya.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman pohon endemik seperti puspa dan rasamala, tetapi juga mencakup perlindungan keanekaragaman hayati yang menjadi identitas kawasan TNGHS.
“Salah satu fokus utama adalah menjaga keberlangsungan habitat satwa kunci seperti Macan Tutul Jawa dan Elang Jawa, dua spesies yang status konservasinya menjadi perhatian serius pemerintah dan pegiat lingkungan,” katanya.
Selain itu, program kerjasama ini juga diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi dan lingkungan yang melibatkan kelompok masyarakat setempat serta komunitas mitra konservasi.
“Pelestarian hutan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hutan yang sehat akan sulit terwujud jika masyarakat di sekitarnya tidak dilibatkan,” katanya.
Secara teknis, pada tahap awal program akan dilakukan penanaman sekitar 3.500 pohon di kawasan TNGHS. Seluruh pohon yang ditanam akan dipantau secara berkala melalui sistem adopsi pohon yang selama ini menjadi model konservasi perusahaan. /(Adv)






