Isra Miraj bukan sekadar peristiwa besar dalam sejarah Islam, tetapi momen spiritual yang selalu relevan lintas zaman. Setiap tahunnya, umat Islam kembali diajak berhenti sejenak, menengok perjalanan Nabi Muhammad SAW, lalu bertanya ke dalam diri: sudah sejauh apa hubungan dengan Allah terjaga?
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, peringatan Isra Miraj sering terasa berlalu begitu saja. Padahal, di balik kisah perjalanan luar biasa tersebut, tersimpan pesan mendalam tentang keteguhan iman, kekuatan shalat, dan cara bertahan saat hidup berada di titik paling berat.
Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 621 Masehi di Mekah, pada fase yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn’ atau tahun duka. Nabi Muhammad SAW kehilangan dua penopang utama dakwah: Siti Khadijah dan Abu Thalib, di tengah tekanan dan boikot Quraisy yang semakin keras.
- Isra’
Perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَىٰ
(QS. Al-Isra: 1) - Mi’raj
Perjalanan Nabi SAW naik ke sidratul muntaha, bertemu para nabi, hingga menerima perintah shalat. Awalnya 50 waktu, lalu diringankan menjadi 5 waktu sehari, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim.






