TBOnline, SUKABUMI ¦ Anggota DPR-RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), drh. Slamet, bersama Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Rokhmad Mohamad Rofiq, dan sejumlah staf BBPBAT, melakukan penyerahan sekaligus pelepasan secara simbolis ±5600 bibit iklan nila, yang merupakan program bantuan pemerintah, untuk sarana dan prasarana budidaya ikan nila sistem bioflok TA 2026, kepada kelompok budidaya ikan (Pokdakan) Banja Mina, di Kampung Jabon Manglid, Desa/Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Senin (20/7/2026).
“Saya sedang mendampingi Kepala BBPBAT Sukabumi, bersama-sama menyerahkan bantuan program bioflok untuk Pokdakan Banjamina. Mudah-mudahan ini menjadi komitmen akan kehadiran pemerintah dalam rangka memberikan support kepada masyarakat,” kata anggota Komisi IV DPR RI ini.
Informasi terkait bergesernya lokasi bantuan, dari yang seharusnya disalurkan ke wilayah Cidadap, dalam kesempatan ini dijawab ringkas drh. Slamet. Menurutnya, pemindahan ke wilayah Jabon Manglid, Cidahu, ini tidak menyalahi prosedur.
“Ya, nanti juga Kepala BBPBAT bisa menjawab. Artinya teman-teman itu mencari ajuan yang memang bisa memenuhi standar. Bisa jadi di sana (Cidadap) ketika disurvey, mungkin tanah luasannya kurang atau apa, sehingga kan teman-teman KKP dalam hal ini BBPBAT kan bertanggung jawab untuk keberhasilan,” katanya.
Termasuk, soal Pokdakan Banjamina yang diduga baru dibentuk untuk menampung bantuan, lagi-lagi drh. Slamet menjawab santai. Menurutnya, program di perikanan tidak serumit di pertanian.
“Kelompok ini kan sudah ada lokasi, kalau ini tidak seribet di pertanian. Jangan bayangin kayak kelompok tani. Kalau di perikanan, selama dia ada yang siap berbudidaya, begitu saja. Jadi pemahaman teman-teman itu harus diluruskan, ini beda dengan lembaga pertanian,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BBPBAT Sukabumi, Rokhmad Mohamad Rofiq, mengungkapkan pemindahan lokasi bantuan dari Cidadap ke Cidahu sebagai upaya keberlanjutan program.
“Kalau nggak berlanjut atau tidak jalan, nanti jadi pertanyaan dan temuan BPK. Kenapa tidak tersalurkan? Bukan tahun ini (pemeriksaan BPK, red) tahun depan ini kan kita diperiksa sampai dua tahun. Dua siklus nggak jalan kita ditanyain, tiga siklus nggak jalan kita ditanyain,” kata Rofiq.
Adapun terkait tidak terdapatnya papan petunjuk (plang) informasi proyek di lokasi, yang mencantumkan besaran anggaran, Kepala BBPBAT beralasan bahwa nilai program ini hanya sekitar Rp200 jutaan. “Tidak terlalu masalah, nilainya kecil, nggak sampai gede-gede,” singkatnya.
Ralat : Dalam laporan berita pertama : Pesta Pora “Bandit” di Proyek Budidaya Nila Cidahu— tertulis nilai bantuan Sarana dan Prasarana Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok TA 2026, senilai ± Rp1,7 Miliar. Seharusnya Rp200 Juta.






