TBOnline, JAKARTA ¦ Panglima Korps Marinir (Pangkormar) TNI Angkatan Laut Letjen TNI (Mar) Endi Supardi, menegaskan ulama dan TNI memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Ulama dan TNI bersama-sama menjaga persatuan, keduanya merupakan pilar penjaga keutuhan NKRI,” ujar Endi Supardi saat menerima audiensi Forum Dai dan Mubalig Azhari Indonesia (FORDAMAI) di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Menurut Endi, bangsa yang kuat tidak hanya ditopang oleh kemampuan pertahanan yang tangguh, tetapi juga oleh kekuatan moral, akhlak, dan karakter masyarakat. Karena itu, sinergi antara ulama dan prajurit perlu terus diperkuat dalam berbagai bidang pengabdian kepada bangsa.
Dalam pertemuan tersebut, Korps Marinir dan FORDAMAI membahas peluang kerja sama dalam bidang dakwah kebangsaan, pembinaan masyarakat, penguatan wawasan kebangsaan, pendidikan karakter, serta pembinaan moral dan spiritual.
Endi mengatakan, kedekatan antara TNI dan tokoh agama memiliki arti penting dalam memperkuat kohesi sosial serta menanamkan nilai-nilai persatuan, disiplin, pengabdian, dan cinta tanah air di tengah masyarakat.
Salah satu gagasan yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah pengembangan program “Marinir Berdakwah”, yakni kolaborasi antara prajurit dan dai dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan pembinaan masyarakat.
Ketua Umum FORDAMAI KH Dr Fahmi Salim menyambut baik komitmen tersebut. Menurutnya, dai dan prajurit sejatinya memiliki misi yang sama dalam mengabdi kepada bangsa dan menjaga persatuan umat.
“Para dai menjaga ketahanan moral dan spiritual masyarakat, sementara TNI menjaga kedaulatan dan keamanan negara. Ketika keduanya bersinergi, insya Allah akan lahir kekuatan besar untuk membangun Indonesia yang religius, kuat, damai, dan bermartabat,” kata Fahmi.
Fahmi menjelaskan FORDAMAI siap berkontribusi dalam berbagai program yang memperkuat karakter bangsa, termasuk pelatihan komunikasi publik, retorika, kepemimpinan, dan dakwah bagi personel Korps Marinir. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat peran prajurit sebagai teladan di tengah masyarakat sekaligus penyampai pesan-pesan kebangsaan yang menyejukkan.
FORDAMAI merupakan wadah silaturahmi dan kolaborasi para dai, mubalig, alumni, serta mahasiswa Al-Azhar Mesir yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui sinergi dengan Korps Marinir, organisasi tersebut berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat persatuan bangsa, moderasi beragama, dan ketahanan nasional.
Saat Ulama dan Marinir Bertemu untuk Menjaga NKRI
Pertemuan antara FORDAMAI dan Korps Marinir TNI Angkatan Laut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antara tokoh agama dan institusi pertahanan negara. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menghadirkan pesan penting bahwa menjaga Indonesia membutuhkan sinergi seluruh elemen bangsa, termasuk ulama dan prajurit.
Dalam sejarah bangsa Indonesia, ulama dan TNI memiliki peran yang sama-sama strategis. Ulama berkontribusi membangun ketahanan moral, spiritual, dan akhlak masyarakat, sementara TNI menjaga kedaulatan, keamanan, dan keutuhan wilayah negara. Keduanya merupakan pilar penting yang selama ini turut mengawal perjalanan bangsa.
Panglima Korps Marinir Letjen TNI (Mar) Endi Supardi menegaskan bahwa ulama dan TNI merupakan pilar penjaga keutuhan NKRI. Menurutnya, persatuan bangsa tidak hanya dijaga melalui kekuatan pertahanan, tetapi juga melalui kekuatan moral yang tumbuh di tengah masyarakat.
Karena itu, kolaborasi antara FORDAMAI dan Korps Marinir dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat semangat kebangsaan, mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat, serta menghadirkan dakwah yang menyejukkan dan membangun optimisme. Melalui berbagai program yang sedang dijajaki, kedua pihak berharap dapat berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai persatuan, cinta tanah air, disiplin, dan pengabdian kepada bangsa.
Sinergi antara ulama dan prajurit menjadi pesan penting bahwa menjaga Indonesia bukan hanya tugas satu kelompok, melainkan tanggung jawab bersama seluruh anak bangsa. Ketika kekuatan moral dan kekuatan pertahanan berjalan beriringan, cita-cita mewujudkan Indonesia yang damai, kuat, dan bermartabat akan semakin kokoh.
Dai dan Prajurit Punya Misi Pengabdian yang Sama
Ketua Umum Forum Dai dan Mubalig Azhari Indonesia (FORDAMAI), KH Dr Fahmi Salim, menilai dai dan prajurit sesungguhnya memiliki misi pengabdian yang sama, yakni menjaga bangsa dan memperkuat persatuan umat. Meski menjalankan tugas di medan yang berbeda, keduanya sama-sama mengemban amanah untuk menghadirkan ketenteraman, keamanan, dan kemaslahatan bagi masyarakat.
Menurut Fahmi, para dai berperan membangun ketahanan moral dan spiritual masyarakat melalui dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat. Sementara itu, prajurit TNI menjalankan tugas menjaga kedaulatan negara, melindungi rakyat, dan mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia. Kedua peran tersebut saling melengkapi dalam membangun bangsa yang kuat dan berdaya tahan.
“Dai menjaga ketahanan moral dan spiritual masyarakat, sementara TNI menjaga kedaulatan dan keamanan negara. Ketika keduanya bersinergi, insya Allah akan lahir kekuatan besar untuk membangun Indonesia yang religius, kuat, damai, dan bermartabat,” ujar Fahmi.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga menyangkut persoalan moral, karakter, dan persatuan sosial. Karena itu, diperlukan kolaborasi berbagai elemen bangsa, termasuk tokoh agama dan aparat negara, untuk memperkuat fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui sinergi antara FORDAMAI dan Korps Marinir TNI Angkatan Laut, Fahmi berharap lahir berbagai program yang mampu mendekatkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, dakwah tidak hanya menjadi sarana penyebaran nilai-nilai agama, tetapi juga menjadi instrumen penguatan persatuan dan ketahanan bangsa. Andih /(Republika)






