Kabupaten Sukabumi Nasional

Senin, 12 Oktober 2020 - 20:35 WIB

1 minggu yang lalu

Camat Kalapanunggal Inisiasi Rapat, Terkait Karyawan PLTPB Gunung Salak Positif Covid 19

TBOnline [SUKABUMI] — Arif Solihin, Camat Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi menginisiasi pertemuan kedua dengan para pihak terkait, setelah kemunculan kabar yang beredar luas di tengah warga Kalapanunggal, terdapat karyawan lokal yang bekerja di salah satu Perusahaan Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Gunung Salak, yakni PT. Star Energy (SE) dan PT Angsa Emas (AE), yang mendapat perlakuan tidak sesuai protokol kesehatan oleh pihak perusahaan setelah dinyatakan positif Covid 19.Rapat ini digelar di Aula Kantor Kecamatan Kalapanunggal, Senin (12/10/2020), dihadiri pihak Polsek, Koramil 2205/Kalapanunggal, Para Kepala Desa, Ormas, OKP serta KNPI. Sayang, pihak PT SE justru hadir 30 menit setelah rapat dinyatakan ditutup.

Arif Solihin, membuka pertemuan dengan menawarkan para pihak yang hadir untuk menyatakan pendapat.

“Masukan dan saran para pihak yang hadir disini, sebagai bahan terhadap tindakan yang akan kita lakukan ke depan,” kata Arif.

Kades Palasarigirang, Ujang Ma’mun yang mendapat kesempatan bicara, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas perlakuan perusahaan terhadap seorang warganya.“Informasi perlakuan tidak sesuai protokol kesehatan yang kami terima ini, kemudian diteruskan ke pihak perusahaan. Namun ketika diklarifikasi lewat telepon, tidak ada jawaban yang meyakinkan, bahkan terkesan saling memojokkan,” jelas Ujang Ma’mun dihadapan peserta rapat.

Kegaduhan sempat terjadi di dalam ruang rapat, dipicu ketidakhadiran pihak perusahaan.

Camat Kalapanunggal, Arif Solihin menyimpulkan bahwa selaku warga negara yang santun, pihaknya akan terus bersurat kepada pihak perusahaan untuk meneruskan aspirasi warga.

“Kalaupun para Ormas ingin menyampaikan aspirasinya silahkan, tapi kami berpesan sampaikan dengan cara yang santun dan jangan anarkis,” tukas camat.

Sumber TBO di PT. Angsa Emas (Perusahaan afiliasi atau sub dari PT Star Energy) menyampaikan karyawan setempat yang bekerja di PT. Angsa EMas terkonfirmasi setelah sebelumnya seorang operator dinyatakan positif covid.

“SE kan ngadain swab test untuk operator. Nah hasilnya ada yang positif. Dikarenakan ada beberapa karyawan kita yang area kerjanya melayani operator, maka direkomendasikan oleh Gugus Tugas Kabandungan dan Kabupaten Sukabumi untuk di swab juga karyawan Angsa Emas yang melayani operator tadi, dan hasilnya 1 orang terindikasi positif. Alhamdulillah sedang tahap penyembuhan dan 5 hari yang lalu udah swab test kedua. Hasilnya keluar 9 hari lagi, mudah2an sudah negatif dan dinyatakan sembuh,” ujar sumber ini pekan lalu.

Pihak PT Star Energy (SE) sendiri, hingga berita ini tayang, belum memberikan klarifikasinya terkait karyawan atau operator yang dinyatakan positif covid 19, berikut penanganan yang dilakukan.

Sementara itu, Jiri salah seorang saudara kandung dari karyawan yang positif covid 19 mengungkapkan keprihatinan atas perlakuan pihak perusahaan.

“Sejak dirumahkan tanpa hormat pada September lalu, dengan alasan terindikasi positif covid 19, seorang operator yang jadi awal penyebabnya. Penanganan kepada saudara kandung saya pun tidak sesuai dengan protokol Gugus Tugas Covid 19 secara lazim dilakukan,” katanya.

Selain itu yang lebih membuat Jiri sedih, ialah dampak psikologis terhadap anak saudara nya ini.“Ketika seorang anak laki-lakinya yang baru berusia 5 tahunan dengan tanpa dosa harus menerima beban moral yang tak layak. Beban ini menimpanya dan dikhawatirkan ada dampak psikologis  yang berkepanjangan bagi sang anak. Terlihat dengan mata dan kepala saya sendiri ketika si anak ingin bermain bersama teman lainnya, kami bagian dari keluarga merasa ada diskriminasi dari lingkungan di sekitar rumah,” pungkas Jiri. Dedy Cobra

Artikel ini telah dibaca 907 kali

Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A
Baca Lainnya