TBOnline, BANGKA ¦ Aktivitas penambangan timah laut menggunakan Ponton Isap Produksi (PIP) diduga ilegal di wilayah Batu Hitam (sekitar Pulau Mengkubung) perairan Desa Riding Panjang, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, yang belakangan kembali marak sangat disesalkan para nelayan Mengkubung. Aktivitas yang mengganggu wilayah tangkap nelayan ini nyaris seperti kucing-kucingan dengan aparat, informasi penertiban yang dilakukan aparat pun anehnya selalu merembes ke luar, sehingga bila ada yang terjaring pun hanya pemain kecil, kelompok besarnya tetap aman.
Kondisi inilah yang diungkap Eko Sanjaya, Sekretaris Umum Kelompok Nelayan Riding Panjang, yang mengisahkan penertiban yang dilakukan Polairud pada 17 Oktober 2023 lalu di sekitar wilayah Batu Hitam, Pulau Mengkubung, setelah sebelumnya ada aksi pengusiran terhadap penambang liar ini oleh kelompok nelayan.
“Namun saat itu diduga informasi (penertiban, red) bocor, sehingga saat petugas tiba di lokasi aktivitas PIP sudah tidak terlihat lagi. Malah keesokan harinya (18/10) ada penangkapan terhadap salah seorang ustad yang merupakan guru ngaji dan tokoh agama di wilayah Belinyu,” kata Eko.
Ustad D yang diciduk petugas, lanjut Eko, informasinya melakukan aktivitas penambangan “upin ipin” di wilayah Pulau Mengkubung, “upin ipin” ini merupakan istilah yang berkembang di masyarakat untuk merujuk kegiatan tambang kecil.
“Saat beraktivitas ponton dan Ustad D diamankan, terhitung hingga kini sekitar hampir 21 hari masyarakat kecil ini diamankan dan di proses hukum. Sementara puluhan penambang timah laut yang mengunakan PIP ilegal pada 9-10 November kemarin di wilayah Batu Hitam masih tetap berjalan. Apakah mereka (PIP) ini ada yang backup sehingga seperti ada pembiaran, bukankah semua rakyat Indonesia sama di mata hukum,” tegas Eko.
Mewakili masyarakat nelayan Dusun Mengkubung, Desa Riding Panjang, Eko Sanjaya berharap penindakan hukum terhadap siapa pun yang melakukan aktivitas ilegal bisa ditegakan, jangan seperti pribahasa ‘gajah di pelupuk mata tidak tampak, sementara semut di seberang lautan nampak jelas’.
“Kami berharap ada pemimpin yang adil dalam penegakan hukum di Bumi Serumpun Sebalai, jangan ada tebang pilih, dengarkan jeritan hati kami para nelayan, wilayah tangkap kami di wilayah Teluk Kelabat Dalam ini sudah di rusak dijadikan tempat penambangan. Wahai pemimpin yang bijak tolong lah kami, kami juga perlu makan, kami hanya bisa mencari makan hanya dengan menebar jaring, memancing dan memasang bubu, anak-anak dan orang tua kami perlu makan untuk bisa hidup lebih layak lagi, kalau laut Kelabat Dalam sudah dirusak, kemana lagi kami harus mencari makan,” kata Eko Sanjaya. andi






