Headline Metropolitan

Rabu, 18 Agustus 2021 - 10:03 WIB

2 bulan yang lalu

ILUSTRASI - Aturan hukum dan perundang-undangan dalam bisnis lembaga pembiayaan (Foto : Ist)

ILUSTRASI - Aturan hukum dan perundang-undangan dalam bisnis lembaga pembiayaan (Foto : Ist)

Yuningsih, Mengais Keadilan di Polres Tangerang Selatan

TBOnline [JAKARTA] – Empat bulan sudah sejak mobil Honda Brio dengan Nopol : B 1143 NRE milik Yuningsih, warga Serpong City Paradise, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, diambil secara melawan hukum oleh para debt collector yang mengaku bagian dari PT BFI Finance Indonesia, sebuah lembaga pembiayaan (leasing) yang berkantor di wilayah Kelurahan Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan.

Surat TARGET BUSER yang berisi permohonan perlindungan hukum terhadap perkara Yuningsih, yang ditujukan kepada Kapolres Tangerang Selatan diterima Staf Sium Polres Tangsel (Foto : Tbo)

Kini upaya Yuningsih mencari keadilan melalui Polres Tangerang Selatan (Tangsel) belum membuahkan hasil, meski surat permohonan perlindungan hukum melalui Ilham dan Sopian –kuasanya-  dari Tim Media TARGET BUSER yang ditujukan ke Kapolres Tangerang Selatan sudah disampaikan. Sebelumnya surat peringatan / teguran berupa somasi ke pihak PT BFI di Tangerang Selatan juga sudah dilayangkan.

“Ini (somasi –red) sebagai upaya dan niat baik pihak Yuningsih untuk mediasi, namun tidak ditanggapi pihak BFI,” kata Sopian, Senin (16/08/2021).

Surat peringatan (somasi) pihak Yuningsih sebagai upaya mediasi diterima pihak PT BFI (Foto : Tbo)

Ditambahkan Ilham, sejak awal banyak dokumen pembiayaan dengan nomor : 469190589 yang diduga janggal antara pihak PT BFI dengan Yuningsih, dan perlu diselidiki pihak kepolisian.

“Misalnya dalam dokumen pendaftaran jaminan fiducia dalam proses pembiayaan kendaraan debitur atas nama Yuningsih ini, padahal dokumen atau akta fiducia ini penting sebagai upaya perlindungan hukum negara kepada rakyat sebagai konsumen,” jelas Ilham.

Menurutnya bila lembaga pembiayaan tidak mendaftarkan objek jaminan fiducia ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) maka menyalahi aturan perundang-undangan perlindungan konsumen.

“Apalagi bila akta fiducia tersebut palsu, dalam arti seolah-olah didaftarkan padahal tidak. Ini memiliki konsekuensi hukum yang jelas,” tandasnya.

Kepada TBO, secara eksklusif Yuningsih menceritakan kronologis proses pengambilan mobil Honda Brio miliknya, berikut keterangannya :   

Pada tanggal 31 Maret 2021 sekitar pukul 17.30 Wib, saya janjian sama debt collector berniat membayar angsuran mobil satu bulan dulu, karena saya mau membayar ke kantor sudah tidak bisa, karena sudah di blokir, itu menurut debt collector, jadi harus melalui mereka yaitu Black (nama panggilan) dan satu lagi bernama Ritjen (nama asli).

Setelah saya ketemu dengan mereka di Indomart Paradise Serpong City, akhirnya saya mengambil uang di ATM dan ternyata ATM di Indomart tersebut tidak bisa, akhir nya saya pindah ATM yang di depan gerbang komplek rumah saya. Kemudian saya masuk ke mobil mereka, lalu mereka bertanya. “Diantar siapa bu”. Saya bilang : “Sendiri bang, suami ke luar kota”.

Setelah saya menyerahkan uang untuk angsuran mobil, kemudian saya menanyakan kuitansi pembayaran, mereka bilang tidak membawa kuitansi. Mereka menyebutkan : “Ga apa apa bu, uang nya aman ko”. Lalu meraka menyampaikan lagi : “BFI mau kasih kita Rp8 juta loh, ibu berani bayar berapa buat kita”. Terus saya tanya : “Uang itu untuk apa”, trus kata mereka : “Ibu kan kita bantu”. Saya bilang : “Saya engga punya uang sebanyak itu, tapi saya bilang kalau Rp500 ribu saya ada”. Saya berani bilang gitu karena saya takut ketika berada di dalam mobil dengan mereka berdua (Black dan Ritjen), saya seperti ditekan harus membayar yang Rp8 juta.

Akhir nya saya bilang. : “Nanti saya datang lagi tanggal 4 untuk pembayaran yang ke-2, tapi karena tanggal itu jatuh nya hari Sabtu, kantor BFI tutup akhir nya saya datang lagi pada tanggal 7 April 2021 ke kantor BFI untuk membayar angsuran”.

Nah, di kantor BFI saya ketemu lagi dengan si Black (debt collector), akhir nya saya disuruh ketemu dengan Rizki (head coll). Di situ saya di ajak ke ruangan untuk di minta pembayaran langsung selama 3 bulan dan uang sebesar Rp8 juta oleh Rizki, Black dan Ritjen, namun saya tetap tidak mau membayar uang yang Rp8juta. Saya menyampaikan sudah titip uang pembayaran angsuran ke Black dan Ritjen, maka seharusnya belum 3 bulan, tapi mereka tetap tidak mau tahu dan saya diminta harus membayar uang tersebut. Padahal uang yang saya titip untuk angsuran itu diketahui oleh Rizki, malah Rizki bilang bahwa memang ada uang ibu, tapi belum di input olehnya.

Kemudian keesokannya pada 8 April 2021, datanglah lebih kurang 6 orang berbadan besar ke rumah pemilik bengkel (saat itu mobil saya sedang dalam perbaikan/service) sementara saya pada saat itu sedang bekerja, kemudian pemilik bengkel menghubungi saya dengan nada marah, karena menurutnya anak dan istri nya ketakutan di datangi laki-laki berbadan besar. Ketika itu saya shock, saat menerima telepon dari debt collector bernama Ritjen yang mengatakan bila tidak menemuinya maka mobil akan di derek paksa. Saya bilang bahwa saya masih kerja.

Akhirnya saya minta izin untuk pulang kerja pada pukul 20.00 Wib, karena saya takut ketemu mereka, akhirnya saya meminta teman untuk menemani. Di lokasi saya mendapati debt collector antara lain : Black, Ritjen dan seseorang bernama Wira. Saat itu Wira menyampaikan kepada saya : “Ibu mau dibantu tidak, kalau mau dibantu titipkan unit ibu. Ini bukan ditarik, mobil ini hanya dititipkan supaya ibu bebas tidak membayar Rp8 juta. Jadi nanti ibu hanya membayar angsurannya saja, tapi apabila ibu tidak mau menyerahkan unit, ibu harus membayar Rp8 juta sekaligus angsuran 3 bulan. Dan apabila ibu sudah punya uang untuk bayar angsuran 3 bulan, silahkan unit ibu ambil kembali. Kita kasih waktu 14 hari dari tanggal mobil dititipkan”. Jadi Wira bilang hanya titip dan saya disuruh menandatangani surat, karena menurut Wira sebagai bukti bahwa mobil dititipkan di BFI, dan untuk mengambil unit nya nanti, harus ada surat itu. “Akhirnya karena saya dalam kondisi takut dan trauma hanya bisa menandatangani saja”. Mobil saya pun ditarik pada sekitar pukul 00.00 Wib dengan kondisi saya tertekan.

Mobil milik Yiningsih (berjaket hitam) yang menurut debt collector dari pihak BFI hanya dititipkan sementara (Foto : Tbo)

Setelah mobil dibawa pada 8 April 2021 tersebut, saya datang ke kantor BFI pada 13 April 2021 untuk membayar angsuran lagi. Saya menghubungi Wira tapi di kantor BFI tidak ada yang bisa dihubungi, bahkan menurut kasir sudah tutup, padahal baru pukul 15.30 Wib, akhirnya saya pulang. Ketika saya pulang ke rumah, saya mendapati surat dari BFI yang meminta saya melunasi seluruh cicilan kendaraan saya yang masih 15 bulan lagi. Red

Artikel ini telah dibaca 210 kali

Baca Lainnya