Hukum

Kamis, 26 Agustus 2021 - 09:11 WIB

2 bulan yang lalu

Marideh saat menunjukan lokasi lahan yang ia tanami singkong kasesa di lokasi yang masih satu hamparan dengan kebun kelapa sawit milik almarhum suami kakak nya (Foto : Tbo)

Marideh saat menunjukan lokasi lahan yang ia tanami singkong kasesa di lokasi yang masih satu hamparan dengan kebun kelapa sawit milik almarhum suami kakak nya (Foto : Tbo)

Wasiat dan Hutang Piutang Marideh, Pemdes Payung Upayakan Mediasi

TBOnline [Bangka Selatan] — Marideh, warga yang berdomisili sementara dan menumpang di rumah saudaranya di Dusun Air Jaya, Desa Payung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, sebelumnya sengaja datang jauh dari tempat asal nya di Pulau Madura, Jawa Timur, hanya untuk mengupayakan agar hutang yang menjadi hak nya dibayar oleh NF, menantu dari almarhumah kakaknya. Marideh sendiri tercatat masih ber-KTP Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Dikisahkan Marideh, perkara yang dia tuntut ini ialah terkait hutang tenaga saat dulu ia bekerja kepada suami almarhum kakaknya dan hingga kini belum sempat dibayarkan.

Marideh, saat berada di lokasi kebun sawit milik suami almarhum kakaknya (Foto : Tbo)

“Sebelumnya dulu saya pernah bekerja mengurus kebun mereka (suami almarhum kakak – red) selama beberapa tahun, dan hak saya selama bekerja ini belum dibayar,” katanya, Selasa (24/8/2021).

Selain itu, masih kata Marideh, sebidang tanah yang sesuai wasiat almarhum diberikan kepadanya untuk ditanami, yang oleh Marideh kemudian ditanami singkong kasesa. Namun tanaman singkong kasesa ini sengaja dicabut dan diduga dilakukan oleh NF. Akibatnya Marideh mengalami banyak kerugian.

“Saya tanami dengan singkong, diperkirakan jika panen hingga 5 ton. Tetapi kemudian dicabut, tidak hanya sekali, tetapi sampai 3 kali. ” ujarnya.

Bahkan, sebidang tanah tersebut ternyata sudah dijual NF ke pihak lain tanpa sepengetahuan Marideh.

“Kepada yang membelinya saya sudah minta, agar jangan diteruskan tanam tumbuh di atas lahan itu,” kata nya.

Sebidang tanah yang diakui oleh Marideh ini, masih satu hamparan dengan kebun kelapa sawit yang dulu ditanami almarhum suami kakak nya, kebun kelapa sawit ini diperkirakan seluas ± 3 hektar. Bahkan menurut Marideh, sebagian tanah kebun ini sengaja dibuka untuk tambang timah tanpa surat oleh NF. Kondisi ini sudah berlangsung selama bertahun – tahun, tanpa ada tindakan tegas aparat penegak hukum.

“Sudah beberapa tahun ini, di bagian tanah kebun yang rendah di tambang oleh NF tanpa dilengkapi surat penambangan. Sebelumnya bagian tanah yang diwasiatkan almarhum untuk saya juga turut ditambang,” jelas Marideh, seraya menunjukan unit mesin tambang timah yang terlihat sementara tidak beroperasi.

Marideh mengaku sebelumnya sudah meminta kepada NF, untuk melunasi hutang-piutang ini dengan menjual kebun peninggalan almarhum. Namun NF menolak dengan beragam alasan.

“Saya tidak mau harta gono gini, hanya ingin hutang saya dibayar. Untuk itu, sebaiknya kebun peninggalan almarhum dijual,” katanya.

Lokasi kebun sawit yang menurut Marideh ditambang oleh NF tanpa legalitas (surat penambangan) dan belum ada tindakan aparat hukum (Foto : Tbo)

Kini Marideh yang didampingi Yusuf —yang mengaku sebagai Ketua Adat Madura untuk wilayah Kecamatan Payung— telah melaporkan permasalahan ini, baik kepada Kantor Pemerintahan Desa (Pemdes) Payung maupun pihak kepolisian, namun belum ada titik terang.

“Ini bentuk tanggung jawab saya sebagai Ketua Adat Madura di Kecamatan Payung, saya turut mendampingi Marideh melaporkan persoalan ini agar dapat diselesaikan. Sudah 3 kali melapor, namun belum ada kejelasan,” ujar Yusuf.

Kades Payung M. Ripani membenarkan pihak Yusuf sempat melapor ke desa, laporan ini menurut Ripan sudah di tindak lanjuti dengan upaya mediasi.

“Memang ada laporan itu, saya bahkan sudah turun melihat lokasi kebun dimaksud pada hari Minggu.  Pada Senin, Yusuf dan Marideh ke kantor, namun karena kesibukan dijelaskan kepada mereka agar penyelesaian secara mediasi dilakukan pada hari Kamis kemudian,” terang Ripan.

Pada hari Kamis, Marideh dan Yusuf tidak datang tetapi malah melapor ke Polsek Payung.

“Kamis kami tunggu tidak datang, ternyata melapor ke polisi. Tetapi pihak Polsek mengembalikan kepada kami,” kata Kades Ripan. Jamalindo

Artikel ini telah dibaca 184 kali

Baca Lainnya