Laporan Utama Nasional

Jumat, 8 April 2022 - 09:51 WIB

4 bulan yang lalu

Rokok bermerk H&D dan Rave diduga tanpa cukai, marak beredar di Kabupaten karimun, Kepulauan Riau (Foto:Ist)

Rokok bermerk H&D dan Rave diduga tanpa cukai, marak beredar di Kabupaten karimun, Kepulauan Riau (Foto:Ist)

Peredaran Rokok Tanpa Cukai Marak di Karimun, Apa Ada Oknum Yang Beking?

TBOnline, KARIMUN ¤ Kabupaten Karimun sebuah wilayah administrasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang berbatas dengan negara Malaysia dan Singapura, merupakan daerah yang penduduknya terbanyak setelah Pulau Batam di Kepulauan Riau. Dengan jumlah penduduk dewasa yang besar, tentu peredaran rokok tanpa cukai yang harganya relatif murah dan terjangkau menjadi incaran dan pangsa pasar yang sangat menggiurkan di wilayah ini. 

Penyisikan TBO, rokok tanpa cukai yang laris manis di pasaran Karimun salah satunya ialah merk H&D dan Rive. Kedua rokok putih ini sangat laris manis karena harganya relatif murah dan terjangkau, sehingga sangat mudah ditemukan di etalase warung sepanjang jalan maupun kawasan perkampungan warga, mini market pun tidak mau menyia-nyiakan peluang menjual rokok ini demi mendapatkan keuntungan lebih.

Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tanjung Balai Karimun (foto : beacukai.go.id

TBO sempat menginformasikan maraknya peredaran rokok tanpa pita cukai ini ke pihak KPPBC Tanjung Balaikarimun, Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi KPPBC Winarto, melalui pesan WA nya hanya mengucapkan terimakasih atas informasi yang diberikan. Sayang, hingga kini peredaran rokok H&D serta Rive di Kabupaten Karimun tak kunjung surut.

“Peredaran rokok tanpa cukai di Karimun ini sulit diberantas karena merupakan sindikat dan jaringan yang sudah di atur sedemikian rupa oleh oknum terkait termasuk bea cukai, sehingga agen dan penyalur rokok tersebut tetap berjalan hingga kini,” ujar sumber TBO.

Sumber yang minta namanya tidak disebut karena alasan keamanan ini, bahkan meminta Kementerian Keuangan maupun Dirjen Bea Cukai untuk melakukan evaluasi menyeluruh atau audit kinerja terhadap Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tanjung Balai Karimun.

“Ini (rokok tanpa cukai) perkara yang merugikan keuangan negara, jadi bukan persoalan main-main. Ini uang besar yang dipertaruhkan. Maka bila terdapat oknum KPPBC Tanjung Balai Karimun yang ‘bermain’ dalam bisnis ini, maka sudah sepatutnya dilakukan tindakan tegas. Untuk itu Kemenkeu dan Bea Cukai harus segera bertindak,” ujarnya.  

Diketahui dalam Pasal 54 Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 Tentang Cukai disebutkan : Menawarkan atau menjual rokok polos atau rokok tanpa cukai terancam pidana penjara 1 sampai 5 tahun, dan/atau pidana denda 2 sampai 10 kali nilai cukai yang harus dibayar. Bila membuat, membeli, mempergunakan, menjual atau menyimpan rokok dengan pita cukai palsu bisa dikenai pasal 55 huruf a dan b, ancamannya pidana penjara 1 sampai 8 tahun dan denda 10 sampai 20 kali nilai cukai. Adapun bila menggunakan pita cukai bekas maka terancam Pasal 55 huruf c dengan ancaman pidana 1 sampai 8 tahun dan/atau denda 1 sampai 20 kali nilai cukai. Wilman Manalu

Artikel ini telah dibaca 88 kali

Baca Lainnya