Metropolitan Nasional

Sabtu, 24 April 2021 - 11:15 WIB

2 bulan yang lalu

Dede Farhan Aulawi (Foto : TBO)

Dede Farhan Aulawi (Foto : TBO)

Musibah KRI Nanggala, Dede Farhan Aulawi Jelaskan Teknologi Kapal Selam

TBOnline [JAKARTA] — Peristiwa hilang nya kapal selam KRI Nanggala 402 di wilayah perairan Bali sejak Rabu (21/4) lalu, saat latihan gabungan penembakan torpedo dan rudal TNI AL, menjadi perhatian khusus Dede Farhan Aulawi, pemerhati teknologi hankam, yang menjelaskan bagaimana seluk beluk teknologi kapal selam ini.

Dalam kasus hilangnya KRI Nanggala 402, Dede menyatakan untuk menjaga kelangsungan hidup para awak kapal selam, menurutnya ada 3 hal penting yang harus diperhatikan di lingkungan kapal selam yang tertutup yaitu kualitas udara, suplai air bersih dan suhu.

Kapal Selam KRI Nanggala 402 (Infografis ANTARA)

“Jika terjadi sesuatu dengan kapal selam, misalnya kapal selam tenggelam maka para awak akan mengirimkan panggilan darurat atau meluncurkan pelampung yang akan mengirimkan tanda bahaya dari lokasi kapal selam. Atau jika karena sesuatu misalnya komunikasi yang terganggu, maka pencarian dilakukan dengan pengerahan kapal lainnya untuk menemukan koordinat keberadaan kapal, dan selanjutnya melakukan pertolongan. Di sini kompetensi SDM dan perangkat teknologi yang digunakan akan sangat membantu proses pencarian,” kata mantan Komisioner Kompolnas ini, Jumat (23/4).

Dalam rilis nya, Dede juga menjelaskan Indonesia saat ini sudah mampu membuat kapal selam hasil kerjasama PT PAL dengan perusahaan Korsel bernama Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME).

“Kapal selam merupakan kapal yang bergerak di bawah permukaan air, umumnya digunakan untuk tujuan dan kepentingan militer, meskipun ada juga kapal selam non militer. Saat ini Indonesia sudah menjadi satu negara di Asia Tenggara yang mampu membuat kapal selam hasil kerjasama PT PAL dengan perusahaan Korea Selatan bernama Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME). Produk pertama kapal selam Indonesia ini bernama Alugoro dan di desain dengan kemampuan penyelaman sampai 300 meteran,” ujar Dede.

Ditambahkannya, kapal selam memiliki alat navigasi yang penting dalam operasionalnya yang terdiri dari jaringan satelit, radar, periskop, dan sonar. Sonar merupakan perangkat semacam radar yang dapat mendeteksi objek lewat gelombang suara. Komponen ini berfungsi dalam menemukan kapal selam musuh, menemukan kapal selam yang mengalami kecelakaan atau target lainnya. Kemudian periskop digunakan untuk memantau dengan jelas keadaan sekitar kapal, sehingga meskipun di dalam air, tetap bisa melihat keadaan di sekitar kapal. Sementara Radar berfungsi untuk mengukur dan mendeteksi jarak suatu objek pada sekeliling kapal.

“Ketika mengapung di permukaan air dikatakan berdaya apung positif karena tangki-tangki pemberatnya hampir tidak berisi air. Kemudian ketika melakukan penyelaman, kapal memperoleh daya apung negatif karena udara di tangki pemberat dikeluarkan melalui katup udara untuk digantikan air yang masuk melalui lubang penggenang. Sementara itu saat melaju pada suatu kedalaman, kapal selam menggunakan teknik penyeimbang yang disebut daya apung netral,” jelasnya.

Ketika berada dekat permukaan, kapal selam dapat mengambil udara dan melepaskan gas buang melalui snorkel tertutup yang membuka di atas muka air. Selain periskop, antena radio, dan tiang-tiang lainnya, beberapa snorkel menyembul di bangunan atas, atau menara komando. Udara dipantau setiap hari untuk menjamin kecukupan kadar oksigen.

“Kapal selam juga memiliki apa yang disebut dengan hydroplane, yaitu perangkat-perangkat yang berbentuk sayap-sayap pendek di bagian buritan untuk membantu mengatur arah penyelaman. Ketika kapal selam mencapai kedalaman jelajahnya, hydroplane akan diluruskan sehingga kapal selam bisa berjalan lurus melewati air. Air juga didorong di antara tanki penyeimbang haluan dan buritan untuk menjaga keseimbangan”. Ilham

Artikel ini telah dibaca 206 kali

Baca Lainnya