Nasional

Senin, 27 Juni 2022 - 07:12 WIB

1 bulan yang lalu

Masa Depan PIP di Belo Laut, Tokoh Masyarakat : Jangan Ada Lagi Pembodohan, Sejahterakan Warga !!!

TBOnline, MENTOK ¤ Semenjak sosialisasi operasional PIP di wilayah perairan Belo Laut (DU 1553), digelar PT Timah Tbk pada (8/6) lalu dengan mengundang sejumlah stakeholder, aparatur pemerintah daerah termasuk warga pesisir dan nelayan. Kini sejumlah warga Desa Belo Laut, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, termasuk kaum ibu dan anak-anak tampak memenuhi pesisir pantai untuk melihat sejumlah persiapan ponton isap produksi (PIP) yang beraktivitas di wilayah IUP PT Timah Tbk tersebut. Fenomena ini terbilang langka, mengingat derasnya arus penolakan sebelumnya terkait aktivitas pertambangan, bahkan KIP milik mitra PT Timah tidak luput dari perlawanan warga ini.

Alhasil, sejumlah harapan warga Belo Laut terkait masuknya aktivitas tambang ini tidak terbantahkan, kondisi ini lah yang mendorong panitia untuk lebih serius memikirkan kesejahteraan warga setempat.

Pantauan TBO, sejumlah perusahaan (CV) yang merupakan mitra PT Timah Tbk yang akan mengelola IUP DU 1553 di perairan Belo Laut dan telah melalui verifikasi ketat perusahaan plat merah tersebut juga Kementerian ESDM kini sudah mulai berdatangan.

“Memang benar, sekarang ini banyak yang berdatangan orang-orang asing bermobil mewah dan orang-orang yang kita tidak tahu dari mana asalnya, seperti nya akan bekerja di perairan Desa Belo Laut. Yang jelas kami yang tinggal di desa ini tidak mau ada nya konflik fisik sebagai akibat pembodohan warga lokal, karena kalau benar mereka berinvestasi jangan di abaikan kearifan lokal termasuk tenaga kerja setempat. Selain itu kalau memang ada masyarakat lokal yang punya perusahaan (CV atau PT) kenapa harus jauh-jauh mengambil perusahaan dari luar,” ungkap H. Din, salah satu tokoh masyarakat Desa Belo Laut, Sabtu (25/6/2022).

Tokoh masyarakat lainnya, Bang Kemis atau yang biasa disapa Pakcik Kemis, yang memiliki catatan aktif menolak aktivitas pertambangan di wilayah perairan Belo Laut, menambahkan bahwa konsekuensi dari aktivitas pertambangan PIP di wilayah mereka adalah kesejahteraan bagi warga, karena jelas aktivitas tambang ini membawa berbagai dampak, utamanya bagi warga pesisir dan nelayan.

“Kalau kemaren saya memang tidak setuju, karena ada sebagian warga yang kontra pertambangan, sekarang pun kita lihat perkembangan ke depan, apalagi kita tahu sekarang ada aktivitas ponton isap produksi (PIP) yang akan bekerja di desa kami. Pada inti nya kalau secara adil dan untuk kemaslahatan umat serta membawa pengaruh positif bagi warga Belo Laut kita sah-sah saja, termasuk bagaimana mengatur eksplorasinya agar menekan efek negatif bagi warga,” ujar Pakcik Kemis.Selain itu, Kemis juga menekankan agar pemangku kebijakan dapat memprioritaskan perusahaan dan pekerja setempat (lokal).

“Karena bila menggunakan perusahaan dan pekerja lokal maka uang akan berputar di desa dan masyarakat akan sejahtera. Selain itu di mana pun perusahaan yang beraktivitas pasti akan mendahulukan orang-orang sekitar, apalagi ini juga menjadi agenda Presiden Jokowi dalam perekonomian untuk memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat lokal terlebih dahulu,” tukasnya. Fani Tamzona

Artikel ini telah dibaca 629 kali

Baca Lainnya