Nasional

Selasa, 27 April 2021 - 05:50 WIB

1 tahun yang lalu

ILUSTRASI - Dokumen pertanahan yang diduga palsu (Foto : Medcom)

ILUSTRASI - Dokumen pertanahan yang diduga palsu (Foto : Medcom)

Kisruh Tanah Milik (Alm) Endun Suwardi, Ada Apa Dengan Kades Ayoh Yohana?

TBOnline [BOGOR] — Lambannya proses penerbitan tiga serangkai sebagai bukti alas hak atas tanah milik (Alm) Endun Suwardi yang berada di Kampung Kaler, Blok 002, RT003/RW009, Desa Pabuaran, Kecamatan Kemang-Kabupaten Bogor, yang diajukan Sry Mulya Ningsih kuasa waris (Alm) Endun Suwardi, hingga kini menimbulkan tanda tanya.

Sri Mulya Ningsih, yang merupakan kuasa waris atas sebidang tanah peninggalan almarhum orang tuanya Endun Suwardi yang pada tahun 1993 membeli sebidang tanah dari (Alm) Anisah B Mesi, (Alm) Suryadi (anak Anisah B Mesi) dan (Alm) H.Pulung (anak Anisah B Mesi) berdasarkan C.No.966.Persil 05 D II. seluas ±5700 m2 dan tercatat dalam buku besar atas nama Anisa B Mesi.

Pengukuran tanah milik (Alm) Endun Suwardi yang dihadiri ahli waris penjual dan pembeli, staf pertanahan, pihak Bhabinkamtibmas, Babinsa, Kadus, RT/RW serta warga RT003/RW009 (Foto : TBO)

Melalui kuasanya Pencus Hutabarat, Sry Mulya Ningsih mengaku sudah melewati berbagai prosedur dan tahapan yang diminta pihak Desa Pabuaran, namun disaat-saat akhir, muncul berbagai alasan pihak desa untuk menunda penerbitan surat tiga serangkai ini.

“Saya sebagai penerima kuasa dari Sry Mulya Ningsih sudah mendaftarkan surat jual beli atas tanah tersebut ke Desa Pabuaran melalui Sekdes Sofian (menantu kades -red) untuk dijadikan sebagai alas hak dasar penerbitan surat tiga serangkai, dimana (Alm) Endun Suwardi semasa hidup nya belum sempat mengkonversikannya,” kata Pencus, Senin (26/4).

Sri Mulya Ningsih, yang merupakan kuasa waris atas sebidang tanah peninggalan almarhum orang tuanya Endun Suwardi (Foto : TBO)

Sekdes Sofian menurut Pencus, sebelumnya menyarankan untuk melengkapi surat pernyataan dari saksi ahli waris penjual dikarenakan terdapat dua orang anak (Alm) Anisah B Mesi yang masih hidup.

“Waktu bertemu dengan kedua anak (Alm) Anisah B Mesi yakni Sudin dan Najir, keduanya menyampaikan sudah lama menunggu kehadiran ahli waris dari (Alm) Endun Suwardi, pengakuan keduanya tanah tersebut benar sudah dibeli oleh (Alm) Endun Suwardi dari keluarga, dan sampai saat ini tanah tersebut masih mereka kuasai dan juga belum pernah diperjualbelikan. Sudin dan Najir sebagai saksi waris dari penjual (Alm) Anisah B Mesi bahkan berjanji akan membantu ahli waris pembeli (Alm) Endun Suwardi untuk memberikan pernyataan tertulis dan akan menunjukkan objek tanah dan batas-batas nya,” ujar Pencus.

Setelah proses mediasi antara keluarga (Alm) Endun Suwardi dengan keluarga (Alm) Anisah B. Mesi dilakukan, Pencus bersama saksi keluarga waris penjual bernama Erlin, kemudian menghadap Kades Pabuaran Ayoh Yohana untuk menyampaikan perkembangan mediasi.

Pencus Hutabarat, kuasa dari Sry Mulya Ningsih, saat menjelaskan proses mediasi antara para ahli waris (Foto : TBO)

“Disaat pertemuan di kantor desa, Kades Ayoh menyambut baik langkah mediasi yang dilaksanakan oleh kedua ahli waris, dan menyarankan untuk segera dilakukan pengukuran. Kala itu Kades Ayoh menyampaikan jika prosedur nya sudah dilengkapi, maka agar segera diserahkan datanya kepada staf desa supaya diproses,” kata Pencus.

Akhirnya pengukuran tanah pun dilaksanakan dengan dihadiri ahli waris penjual dan pembeli, staf pertanahan, pihak Bhabinkamtibmas, Babinsa, Kadus, RT/RW serta warga RT003/RW009.

“Artinya persyaratan dan prosedur yang dimaksud oleh Kades Ayoh dan Sekdes Sofian sudah dilengkapi dan diserahkan sebagai syarat untuk dasar penerbitan alas hak. Namun kenapa sudah sekian lama surat yang dimaksud tak kunjung terbit,” kata Pencus.

Melalui staf pertanahan bernama Ahmad dan Sofian Sekdes Pabuaran, Pencus sempat menanyakan mengapa surat tiga serangkai ini tidak kunjung diterbitkan pihak desa.

Pendaftaran berkas di ruang Sekdes Pabuaran (Foto : TBO)

“Penjelasan keduanya (Ahmad dan Sofian -red), surat tiga serangkai yang dimohonkan Ibu Ningsih belum dapat diterbitkan karena ada beberapa pihak yang datang ke desa dan mengklaim tanah tersebut, namun ketika ditanya apakah para pihak yang mengklaim juga menyertakan bukti kepemilikan, Ahmad dan Sofyan menjawab tidak ada. Kesan saya keterangan keduanya berbelit dan tidak berdasar, terutama pernyataan Ahmad, yang mengaku siapa pun yang datang dan mengklaim tanah tersebut meski tidak menyertakan bukti tetap ditanggapi, hal ini lah sehingga pihak desa enggan menerbitkan surat yang dimohon pihak Ibu Ningsih,” jelas Pencus.

Usut punya usut, lambannya proses penerbitan surat tanah Sri Mulya Ningsih ini diduga karena campur tangan pihak lain di luar keluarga ahli waris.

Hal ini setelah munculnya nama Ade Junaedi, adik ke7 (tujuh) Ningsih yang pada 2019 mengaku sudah pernah menjual tanah seluas 857 m2 tersebut kepada Rojid warga Kp. Kandang, RT02/RW02, Desa Kemang, Kecamatan Kemang-Kabupaten Bogor.

“Pengakuan Rojid, proses jual beli antara Ade Junaedi dan dirinya berdasarkan segel jual beli tahun 1993 yang tercatat atas nama pihak penjual (Alm) Suryadi dan pihak pembeli bernama (Alm) Endun Suwardi”.

Menurut Rojid dirinya hanya membeli dari Ade Junaedi seluas 857 m2, yang kemudian diterbitkan surat segel jual beli tahun 2019 untuk dasar penerbitan tiga serangkai atas nama Rojid, yang diurus oleh Uceng sebagai kepercayaan Rojid, bahkan Uceng lah yang mengurus surat tersebut ke Desa Pabuaran sampai terbit tiga serangkai.

Surat Keterangan Riwayat Tanah yang diterbitkan Desa Pabuaran (Foto : TBO)

Pencus, sebagai penerima kuasa mengklarifikasi dasar penerbitan surat tiga serangkai atas jual beli yang dilakukan Ade Junaedi dan Rojid, karena Uceng dalam penjelasannya menyampaikan ia membuat segel jual beli tahun 2019 seluas 857m2 dan mendaftar ke Desa Pabuaran melalui Erwin, Kaur Pertanahan (anak kades -red).

Bahkan Uceng, yang juga pegawai di Desa Kemang, sempat heran karena hanya dalam waktu 1 (satu) minggu surat tiga serangkai atas nama Rojid terbit, padahal segel tahun 2019 sudah tidak berlaku, karena segel tahun 1997 ke bawah yang berlaku, maka kalau persyaratan kurang lengkap, seharusnya pihak desa atau kaur pertanahan menyarankan agar data-data dilengkapi, namun saat pendaftaran segel tahun 2019 tidak ada kendala, proses nya juga cepat dan sampai terbit SPPT atas nama Rojid.

Dan yang lebih mencengangkan di surat tiga serangkai atas nama Rojid ini, dalam keterangan riwayat tanah yang dikeluarkan Kades Ayoh, dicantumkan : Tahun 1960 tercatat atas nama Anisah B Mesi, Tahun 2018 tercatat atas nama Ade Junaedi berdasarkan segel girik waris dan Tahun 2020 tercatat atas nama Rojid Nurmansyah.

“Segel waris tahun 2018 yang tercatat atas nama Ade Junaedi ini sangat penting dipertanyakan pada Kades Ayoh, karena sewaktu mendaftarkan surat ke desa untuk penerbitan tiga serangkai atas nama Rojid, Uceng hanya melampirkan segel tahun 2019.

“Lalu segel waris atas nama Ade Junaedi sebagaimana yang dinyatakan oleh Kades Ayoh, bentuknya seperti apa dan yang mewariskan siapa,” tanya Pencus.

Ketika diklarifikasi terkait segel girik waris atas nama Ade Junaedi ini, Ningsih menyanggah bahwa pihak keluarga pernah memiliki segel girik waris yang tercatat atas nama adik nya Ade Junaedi atas tanah (Alm) Anisa B Mesi yang dibeli (Alm) Endun Suwardi.

“Jikalau pun ada di pihak desa, harusnya Kades Ayoh menyerahkan segel girik waris tersebut kepada ahli waris (Alm) Endun Suwardi, bukan malah ditutup atau dipersulit, karena apabila surat segel girik waris tersebut tidak ada, maka patut diduga Kades Ayoh telah memanipulasi data dan diduga berniat ingin menggelapkan tanah peninggalan ayah (Alm) Endun Suwardi yang dibeli dari keluarga (Alm) Anisa B Mesi. Dan kami sebagai ahli waris (Alm) Endun Suwardi tidak mempermasalahkan jikalau adik kami memang sudah menjual tanah seluas 857 m2, justru kami ingin membantu pembeli dari Ade Junaedi. Kami sebagai ahli waris khawatir kalau hanya segel tahun 2019 yang diajukan untuk syarat menaikkan surat ke SHM mungkin akan ditolak oleh BPN Kabupaten Bogor karena persyaratannya kurang lengkap, yang kami sesalkan hanya surat keterangan riwayat tanah yang diterbitkan Kades Ayoh tercatat di buku besar desa tahun 2018 atas nama Ade Junaedi berdasarkan segel girik waris, jikalau memang sudah ada di desa segel girik waris atas nama Ade Junaedi kenapa bukan dari segel tersebut yang dipetik untuk penerbitan tiga serangkai atas nama Bapak Rojid”.

Surat yang dikirimkan Pencus Hutabarat, kuasa dari Sry Mulya Ningsih kepada Kades Pabuaran, prihal surat keterangan riwayat tanah yang dikeluarkan pihak Desa Pabuaran (Foto : TBO

“Selain itu data yang diserahkan ke desa untuk penerbitan tiga serangkai, atas sisa tanah yang dijual Ade Junaedi sudah sesuai prosedur, kenapa Kades Ayoh mempersulit,” tanya Ningsih.

Diduga momen jual beli Ade Junaedi dan Rojid dimanfaatkan Kades Ayoh untuk menggelapkan sisa tanah (Alm) Endun Suwardi, dimana Rojid juga sudah menjual lagi ke pihak lain, yakni kepada Dadang pengurus HKTI Desa Pabuaran, Kecamatan Kemang, Bogor.

“Pada Kamis (22/4/21) saya sebagai kuasa, melayangkan surat kepada Kades Ayoh untuk mengklarifikasi segel girik waris atas nama Ade Junaedi, namun sampai saat ini belum ada respon, disaat mengantarkan surat ke desa, saya sempat bertanya keberadaan kades, dan dijawab pegawai desa bahwa kades tidak ada sedang tugas di luar. Kemudian pada Senin (26/4/21) saya datang menghadap Kades Ayoh untuk mempertanyakan balasan surat, namun sangat disayangkan kades hanya menjawab mohon maaf karena sedang ada urusan, dan terkait surat segel girik waris atas nama Ade Junaedi menurut Kades Ayoh sedang dicari dulu,” kata Pencus.

Informasi yang dihimpun dari warga, setelah Kades Ayoh menjabat banyak surat tanah yang tumpang tindih di Desa Pabuaran, khususnya di Kp. Kaler, RT003/RW009, karena diduga sudah ada planing dari salah satu pengembang perumahan.

“Jikalau tidak ada respon dan penyelesaian dari Kades Ayoh, maka ahli waris dari (Alm) Endun Suwardi sepakat untuk membawa permasalahan ini ke ranah Hukum,” tegas Pencus. ***

Artikel ini telah dibaca 430 kali

Baca Lainnya