Nasional

Sabtu, 18 Maret 2023 - 08:24 WIB

12 bulan yang lalu

Arang bakau sedang proses pembungkusan (foto: Yogi ES/ Mongabay Indonesia)

Arang bakau sedang proses pembungkusan (foto: Yogi ES/ Mongabay Indonesia)

Bau Anyir Penampungan Arang Bakau di Batam, Dibiarkan Atau Sengaja Kecolongan?

TBOnline, BATAM ¤ Sangat memprihatinkan, sejumlah lokasi penampungan Arang Bakau di Kota Batam terutama yang berada di Pulau Galang dan Rempang diduga ilegal, hal ini menyusul sidak yang dilakukan para anggota DPR RI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, BRGM dan instansi terkait lain, ke perusahaan ekspor arang bakau di Batam, Kepulauan Riau, pada 25 Januari lalu. Mereka menyegel setidaknya 3 penampungan arang bakau yang diduga ilegal.

Dikutip dari mongabay.co.id, setidaknya ratusan ribu batang bakau ditebang untuk keperluan ekspor ke Singapura dan Malaysia bahkan sampai Arab Saudi. Sumber arang bakau ini datang dari berbagai daerah, mulai dari Batam, Lingga, Karimun dan paling banyak dari Maranti, Riau.

Di lokasi, rombongan DPR juga mendapati ternak ayam berada di lahan berstatus Taman Buru. Ketua Komisi IV DPR Sudin, ketika itu memerintahkan untuk menyegel semua yang melanggar, meskipun ada bekingan.

Arang bakau di penampungan (foto: Yogi ES/Mongabay Indonesia)

Kerusakan hutan mangrove di Kota Batam-Kepri, jadi atensi pemerintah pusat. Tak hanya kerusakan karena penimbunan untuk pembangunan tetapi penebangan mangrove untuk arang bakau. Menindaklanjuti berbagai laporan, rombongan Komisi IV DPR mendatangi tiga lokasi perusahaan penampungan arang bakau ilegal di Batam ini.

Dalam laporan mongabay.co.id terungkap, dalam kondisi hujan lebat rombongan memasuki penampungan pertama di dekat Jembatan 5, Sembulang-Batam. Di lokasi didapati penampungan berukuran sekitar setengah lapangan bola yang berada tepat di tepi laut, tampak tersusun karung putih berukuran sedang, di dalam karung ini sudah berisi arang bakau siap ekspor.

“Hari ini kita temukan ada tempat penampungan arang produksi hutan bakau di hutan konversi yang izin belum turun (keluar),” kata Sudin.  Disebut-sebut, setidaknya ada 11 titik penampung arang yang akan disegel. Sudin minta para pemilik diperiksa. “Kita minta Gakkum periksa 11 titik itu, melihat kesalahan mereka dan sanksi hukumnya,” katanya.

Saat sidak, Komisi IV DPR sempat memanggil pemilik tetapi seorang pekerja mengatakan pemilik sedang pulang kampung ke Medan-Sumatera Utara. “Bos pulang kampung,” kata Mardi pengawas di perusahaan itu. Menurut Mardi, proses ekspor arang bakau miliknya melalui jalur resmi di Pelabuhan Batu Ampar.

Surat izin berkop KLHK

Sidak berlanjut ke Kuala Buluh, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang-Batam, sekitar 20 menit dari lokasi pertama. Di bagian depan gerbang masuk bertuliskan PT Anugerah Makmur Persada (AMP) yang berada di pesisir laut. Di lokasi ada gudang penampungan arang bakau dan beberapa tungku tempat pembakaran kayu jadi arang. Dari google map setidaknya perusahaan ini memiliki tiga lokasi terpisah.

Sudin meradang ketika pemilik perusahaan menunjukkan surat izin nota pengangkutan arang bakau berkop logo KLHK. Sudin menanyakan kepada Dirjen Gakum Rasio, yang menjawab tidak tahu. Kemudian bertanya ke pejabat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kepri. “Saya minta usut logo itu,” pinta Sudin.

Ia juga memanggil salah seorang penyidik Gakkum di Batam, dan menanyakan penindakan selama ini karena perusahaan sudah beroperasi puluhan tahun.

Setidaknya seharian itu rombongan menyegel 3 penampungan arang bakau siap ekspor ke berbagai negara. Di lokasi terakhir, arang bakau sudah dikemas kardus bertuliskan bahasa Mandarin, dengan label ‘made in Indonesia’.

Gudang arang bakau disegel (foto: Yogi ES/ Mongabay Indonesia)

Roy, sapaan akrab Rasio mengatakan perusahaan ekspor ini berada di kawasan hutan produksi konversi yang tidak ada izin sama sekali. Mereka melanggar setidaknya UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU Kehutanan. Rasio akan menurunkan penyidik KLHK untuk melakukan pemeriksaan di 11 lokasi yang terindikasi terjadi kegiatan ilegal itu.

Sementara, Junaidi pemilik AMP mengatakan perusahaan hanya menerima arang jadi untuk ekspor, sedangkan dokumen produksi arang atau dapur berada di lokasi produksi. “Arang bakau ini dari Meranti, Lingga dan Karimun, ada juga Batam,” katanya.

Arang bakau itu mereka ekspor ke Jepang, Taiwan, Singapura, Hongkong dan Arab Saudi. “Satu bulan kita bisa kirim 30-an kontainer, satu kontainer 800 karung. Kita beli satu kilogram Rp5.000,” katanya.

Kalau sebulan 30 kontainer,  dalam satu bulan setidaknya 24.000 karung alias pertahun 288.000 karung. “Kita ekspor dari Pelabuhan Roro Sekupang dan Batu Ampar,” kata Junaidi, namun enggan menyebutkan harga jual di luar negeri untuk satu karung arang bakau.

Dia bilang, di Tembelan akan ada dapur. “Sudah dibangun dan sudah dapat izin juga. Kalau itu (Tembelan) saya produksi sendiri,” ujarnya.  Junaidi mengaku sudah bekerja puluhan tahun di usaha arang bakau, sedangkan untuk usaha AMP baru 7 tahun.

Pendiri Akar Bhumi Indonesia Hendrik Hermawan, mengatakan pemerintah daerah seperti kecolongan dalam kasus ini karena penampungan arang bakau ekspor ini sudah puluhan tahun.

“Apakah pemerintah daerah buta atau dibutakan? Kenapa ini dibiarkan, pemerintah bisa kita sebut kecolongan,” katanya.

Selain arang bakau, penimbunan mangrove ilegal banyak terjadi di Batam. “Kita minta DPR juga memperhatikan kerusakan mangrove dari penimbunan (reklamasi) untuk pembangunan di Batam,” katanya.

Sangat ironis bila Pemko Batam dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup dan Cabang Dinas Kehutanan Kota Batam kecolongan atau tidak mengetahui keberadaan penampungan arang tersebut. Ada yang menyebut terjadi pembiaran. Apalagi diketahui, para tauke dapur arang bakau disebut-sebut ada membagi-bagikan semacam ‘upeti’ kepada sejumlah oknum wartawan agar luput dari pemberitaan.

Sejauh ini, pihak Dinas Lingkungan hidup maupun Kehutanan Kota Batam belum bisa dikonfirmasi seputar ketidaktahuan instansi itu tentang keberadaan penampungan arang bakau yang diduga ilegal tersebut. (bersambung) Awang Sukowati.

Artikel ini telah dibaca 750 kali

Baca Lainnya