Berita Polisi Headline Metropolitan Nasional

Kamis, 15 Oktober 2020 - 08:35 WIB

1 minggu yang lalu

Wawancara Bersama Kasektupa Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto – Integritas, Role Model Hingga Polri Sayang Masyarakat

TBOnline [SUKABUMI] — Integritas dan Role Model, menjadi salah satu sentral dalam pendidikan SDM di Setukpa Lemdiklat Polri.

Bagaimana penerapan konsep ini bagi seorang bintara kepolisian yang akan naik ke jenjang perwira, dengan segala tantangan dan dinamika penugasan di wilayah tanah air yang memiliki karakter dan situasi lapangan berbeda.

Berikut wawancara Fauzan Ali, Ilham A.R dan M. Rizwan (Joy) dari TBO dengan Kepala Sekolah Pembentukan Perwira (Kasektupa) Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto (lihat profil disini) di Kantor Setukpa Lemdiklat Polri – Jln. Bhayangkara No.116, Karamat, Kec. Gunungpuyuh, Kota Sukabumi pada Rabu, 14 Oktober 2020.Bila melihat kondisi dan dinamika sosial saat ini, bagaimana cara pandang sebagian masyarakat yang keliru terhadap polisi. Sebetulnya apa saja yang ditanamkan bagi para calon perwira khususnya, di Setukpa Lemdiklat Polri ini?

Kita tanamkan integritas. Kalau soal keilmuwan itu normatif saja, Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Lemdiklat berperan bagaimana mendidik dan memotivasi peningkatan kualitas pendidikan institusi kepolisian.

Namun bila ditarik ke situasi lingkungan, kita selama ini hanya dapat mengamati, karena kita tidak terlibat dengan kondisi riil saat ini. Namun, kita tetap memberikan pedoman ke siswa, karena nanti dia akan keluar juga dan mengikuti dinamika di wilayah.

Kalau soal pandangan minus terhadap polri, saya rasa tidak juga. Masyarakat masih sangat membutuhkan kepolisian, satu contoh kecil saja, bila ada kecurian di masyarakat, pasti melapor ke polisi, masyarakat masih percaya institusi polri.

Bila kita melihat kegiatan Setukpa, khususnya Brigjen Mardiaz belakangan ini, dengan segala aktivitas sosial kemasyarakatan. Sebetulnya apa yang ingin ditanamkan bagi para siswa calon perwira ini?

Kita saat ini mendidik bintara polisi, seorang brigadir yang selama ini bekerja, menerima perintah. Nanti setelah keluar dari sini dia akan memberi perintah kepada anggota. Maka kita biasakan dengan role model atau contoh-contoh baik.Sebetulnya, meski tidak ada covid pun kita selalu menanamkan anggota agar empati kepada lingkungan sekitar. Cepat menolong apabila lingkungan membutuhkan.

Hal ini ditanamkan sejak dia mulai pendidikan pembentukan sebagai bintara, kita hanya mengingatkan kembali. Karena ada yang 15 tahun sudah berdinas, punya pimpinan bermacam ragam.

Maka kita ingatkan agar cepat respon ketika ada masyarakat kita yang membutuhkan. Mau ada bencana banjir, kebakaran, pandemi covid dan lain sebagainya harus empati, dengan memberikan contoh, apabila kamu di wilayah maka harus cepat.

Contoh, ketika bencana banjir apa hal yang pertama kita lakukan, apa yang kita punya untuk bantu, segera berikan, misal pakaian, bahan makanan, jadi dalam kondisi situasional tidak melulu dengan bantuan dana. Bahkan misal ada bantuan dari pihak ketiga maka kita salurkan. Intinya sense of crisis atau cepat tanggap.

Seorang Mardiaz Kusin Dwihananto kita ketahui lebih banyak menghabiskan tugas di lapangan di bidang serse, lalu menjadi kepala sekolah di Setukpa, bagaimana harapannya?Bagi diri saya pribadi, saya kan pernah disini. Lulus Akpol saya disini dua tahun, tentu harapannya jangan sampai ketika dulu saya Ipda disini, masih seperti ini juga.

Contoh, tadi dalam rapat kita bahas modul pelajaran di masa pandemi Covid ini, sekarang kan siswa kita ada dimana-dimana, ketika kita mengajar walau pos nya disini, namun ada hambatan misalnya listrik, jaringan internet, ruang diskusi dan lain sebagainya.

Nah, bagaimana kita mengatasi hambatan ini, kita kemas atau tapping, minimal modul pokok tersaji dalam audio visual, video tapping dan tutorial ini lalu kita kirim ke siswa. Nanti masalah pengembangan, tanya jawab, diskusi, kita gunakan waktu tambahan. Jadi bagaimana cara konvensional kemudian kita kemas menjadi modern.

Apalagi siswa kita ini sebenarnya siswa pengalaman, mereka para siswa ini sudah ada 15 tahun, jadi kita hanya menggali.

Perubahan yang paling mendasar dalam proses pendidikan di Setukpa di masa pandemi covid ?

Dalam proses belajar mengajar, sekarang kita pakai IT, kalau dulu kita pakai papan tulis misalnya, alat peraga dan lain sebagainya. Dulu IT mungkin hanya 10% sekarang kita tingkatkan minimal jadi 30 % bahkan lebih.

Jadi kita mencoba untuk mengajari siswa itu belajar secara mandiri. Kalau bisa modul kita kasih duluan, sehingga besok dia sudah mempersiapkan untuk tanya jawab atau diskusi, inilah yang kita coba untuk tingkatkan.

Pandemi covid ini memang menjadi hambatan, saat ini kelas induk di Setukpa ini hanya ada di Polda Metro dan Mabes Polri. Polda lain tetap ada desk atau kelas masing-masing, tapi itu tetap siswa kita.

Jadi ada perubahan atau pembagian waktu aja untuk 3 perbedaan waktu di Indonesia, kelas WIB, WITA dan WIT. Misalkan kita jam 7 kuliah, ada dosen yang jam 6 sudah mengajar untuk mengakomodir perbedaan waktu ini. Saat kita memberikan materi, untuk WIB harus maju satu jam, begitu juga dengan WITA untuk WIT. Jadi kita gunakan Waktu Indonesia Bagian Tengah (Wita).

Kalau dari sisi kurikulum bagaimana, silabus yang kita gunakan, sebagai acuan langkah Polri khususnya dari bintara ke perwira nanti?Kalau silabus saya rasa sudah mencukupi, untuk profil seorang lulusan letnan dua. Kita ini kan ada sikap tata nilai, Pancasila, UU dan lain-lain. Ada mata pelajaran tentang pengetahuan sosial, hukum dan kepribadian.

Ada keterampilan umum misalnya latihan SAR, longmarch. Untuk latihan khusus misal pelatihan kerja di polsek. Jadi ada teori dan praktek.

Ada simulasi jadi kapolsek atau perangkat polsek lainnya, bermain peran dalam role play sistem.

Jadi tinggal hambatan saat proses belajar mengajar selama masa pandemi ini kita atasi saja.

Pada September 2020 lalu, Setukpa mendapatkan rekor MURI, bagaimana ceritanya? Kita mendapat rekor MURI untuk siswa virtual terbanyak kemudian siswa difabel terbanyak.

Penghargaan diberikan kepada Kapolri, Kalemdiklat dan Kasektupa, dalam dua kategori.

Untuk siswa difabel atau cacat fisik, kemarin ada 14 orang siswa yang kita berikan kesempatan yang sama dengan siswa lain.

Apa perbedaan kerja di lapangan dengan di institusi pendidikan?Tidak ada perbedaan mendasar sebetulnya, hanya saling melengkapi saja. misalnya yang tugas di lapangan bisa cerita bagaimana situasi dan kondisi di lapangan, jelas berbeda selama disini.

Satu contoh dalam menghadapi aksi demonstrasi yang marak belakangan ini yang berujung anarkis dengan rusaknya beberapa fasilitas umum. Informasi yang masyarakat terima kadang tidak di sharing, sehingga ada salah persepsi terhadap tugas dan kinerja kepolisian, padahal psikologi massa dan kondisi aktual di wilayah dan lapangan beda.

Di lapangan itu kan ada tahapan-tahapan, pimpinan lapangan kan alumni sini juga, yang Iptu dan Ipda. Ada tindakan preventif, ada fungsi intelejen dan ketika eskalasi harus bagaimana dan lain sebagainya, itu ada tahapannya. Yang pasti Polri sayang masyarakat Indonesia. ***

 

Artikel ini telah dibaca 312 kali

Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A
Baca Lainnya