Bangka Belitung

Jumat, 15 Januari 2021 - 15:25 WIB

4 bulan yang lalu

Bukti Laporan Polisi penganiayaan wartawan RF di Polres Kota Pangkalpinang (Foto : TBO)

Bukti Laporan Polisi penganiayaan wartawan RF di Polres Kota Pangkalpinang (Foto : TBO)

Wartawan di Babel Dianiaya Preman, Insan Pers Minta Polisi TANGKAP Pelaku

TBOnline [PANGKALPINANG] — Intimidasi dan kekerasan terhadap wartawan kembali terjadi, kali ini di wilayah hukum Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

ILUSTRASI – Aktivitas tambang timah ilegal di Bangka Belitung (Foto : Ist)

Diduga lantaran tidak terima aktifitas tambang timah jenis Ti dan tambang galian C berupa pasir dan tanah di Kawasan RTH Parit Enam diberitakan oleh wartawan, dan setelah pemberitaan aktifitas tersebut ditertibkan pihak Polresta Kota Pangkalpinang, Sabtu (9/1) beberapa waktu lalu, oknum masyarakat diduga preman berinisial CB dan kawan-kawannya melakukan tindak pidana penganiayaan kepada RF wartawan media Mapikor di Bangka Belitung.Korban RF yang juga merupakan kontributor berita media nasional dan daerah, menuturkan kejadian tindak pidana penganiayaan terhadap dirinya ini saat usai melakukan peliputan pencairan dana BLT di Kantor Kas Bank Sumsel Babel yang bersebelahan dengan Kantor Satpol PP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Jalan Pulau Pelepas, Air Itam, Kota Pangkalpinang.

“Sesaat saya dan rekan bernama Angga akan menuju mobil, dipanggil oleh NS rekan CB, yang menanyakan pemberitaan aktifitas tambang di Kawasan RTH Parit Enam, kemudian dari arah sebelah kanan tampak CB (pelaku penganiayaan -red)  dengan raut wajah yang penuh amarah menghampiri saya dan berkata tidak menerima atas pemberitaan yang telah saya muat. Ketika itu tiba-tiba CB langsung memukul wajah dan kepala saya, tak lama kemudian teman CB yang lain juga ikut turut memukul kepala saya, untunglah saat itu Angga dan anggota Satpol PP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juwanda cepat melerai CB dan kawannya agar tidak melanjutkan penganiayaan,” kata RF.

Atas kejadian tindak pidana penganiayaan terhadap dirinya ini, RF didampingi sejumlah wartawan dan pengurus organisasi pers (PWRI, HPI dan FPII) di Bangka Belitung melaporkan perbuatan tindak pidana penganiayaan dan intimidasi kekerasan terhadap profesi jurnalistik ke Mapolres Kota Pangkalpinang, dengan surat tanda terima laporan polisi Nomor : STTLP/LP B-8/I/2021/SPKT RES PKP, Kamis (14/01/2021).

ILUSTRASI – tambang pasir galian c ilegal (Foto : Posko Malut)

Akibat dari penganiayaan yang dilakukan CB dan kawan-kawannya kacamata pelindung pecah, kepala RF juga masih terasa pusing dan sempat mengalami muntah-muntah, pintu mobil RF sebelah kanan depan sampai ke bodi belakang tak luput menjadi sasaran, digores dengan benda tajam sehingga menimbulkan lecet.

Diduga keberadaan RF di Kantor Kas Bank Sumsel Babel atau Kantor Satpol PP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah diincar dan dibuntuti oleh pelaku CB dan kawan-kawan, hal ini terungkap oleh keterangan istri RF dan orang tua nya bahwa beberapa yang lalu NS dan CB sudah berkali-kali mendatangi rumah RF.

Sementara itu, Ketua PWRI Babel Meyrest Kurniawan meminta kepada Kapolres Kota Pangkalpinang AKBP Tris Lesmana Zeviansyah untuk segera menangkap pelaku CB dan kawan-kawannya dan menambah Pasal 14 Ayat 1 sebagai pasal pidananya yang tercantum di Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1999 Tentang Pers.

“Kami berharap Kapolres Pangkalpinang segera menangkap pelaku penganiayaan rekan kami, selain pasal pidana umum 351 KHUP seyogyanya pelaku juga dijerat Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, Pasal 18 ayat 1 yang mengatur tentang ancaman pidana yaitu setiap orang yang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan (3) dipidana dengan penjara paling lama dua tahun atau membayar denda paling banyak 500 juta,” ungkap Meyrest.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Jaringan Presidium Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Romi Marantika dalam penjelasannya menyampaikan bahwa tindakan yang dilakukan oleh oknum CB dan kawan-kawannya merupakan suatu tindakan murni pidana, untuk itu polisi harus segera bertindak untuk menangkap para pelaku.

Lanjut Romi, dalam laporan polisi jelas telah memenuhi unsur kriminal yang seharusnya polisi harus segera melakukan upaya penangkapan para pelaku karena sudah sesuai dengan KUHP Pasal 351, ayat 1 & 2, Junto Pasal 170 ayat 3 serta UU 40 Tahun 1999 Pasal 18 ayat 1.

“Jelas tindakan tersebut sudah melanggar KUHP Pasal 351 ayat 1 & 2, Junto Pasal 170 ayat 3 serta UU Pers Pasal 18 ayat,” tegas Romi.

Hal senada, juga disampaikan oleh Sekretaris HPI Babel Abdul Hamid SH, bahwa bukti dan fakta terjadinya intimidasi dan kekerasan terhadap profesi seorang jurnalis sudah terjadi dikarenakan pelaku dan kawan-kawannya sudah berulang-ulang kali mendatangi rumah korban (RF) setelah berita terkait aktifitas tambang ilegal yang di back up pelaku dinaikkan seorang wartawan.

“Saya yakin dan percaya pihak Polresta Pangkalpinang segera menangkap pelaku penganiayaan rekan kami,” pungkas Amek panggilan Sekretaris HPI Babel. Andi Mulya

Artikel ini telah dibaca 112 kali

Baca Lainnya