Satu Komando

Senin, 10 Agustus 2020 - 08:13 WIB

1 bulan yang lalu

Spionase ‘Super’ Bahaya Intelejen Kopassus Kala Menumpas GAM

Saya beri dua buah durian, tapi justru dimarahi dan ditempeleng. Di sini ada satu peleton anggota yang sedang berjaga, mana cukup kalau cuma dua buah durian? kata mereka,” ujar prajurit Sandhi Yudha Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Sersan Badri, yang mengisahkan penyamaran dirinya.

TBOnline [SATU KOMANDO] – Misi Sersan Badri–nama samaran–merupakan sekelumit kisah aktivitas agen intelijen Kopassus TNI selama perang Aceh kala menumpas Gerakan Aceh Merdeka [GAM].

Penyusupan mereka untuk menangkap komandan GAM banyak dilakukan saat darurat militer tahun 2003 hingga jelang bencana tsunami Aceh tahun 2004.

Dalam misinya, Badri menyamar sebagai pedagang buah perantauan di Aceh sehingga leluasa bergerak dari Medan, Sumatera Utara, hingga Lhokseumawe, Aceh Utara. Selama setahun, Badri berusaha memperoleh kepercayaan simpatisan GAM dan memetakan situasi di daerah yang menjadi basis utama kekuatan militer GAM.

Mendapat Kepercayaan

Banyak dari keluarga anggota GAM bergantung kepadanya karena dikenal telaten dan cerdas. Kesetiaannya pada GAM pun diuji saat diminta menyembunyikan istri panglima GAM yang sedang hamil.

Agar mendapat kepercayaan penuh, ia menyewa tiga tempat kost di Lhokseumawe untuk melindungi istri panglima GAM itu selama 3 bulan.

Ia juga beberapa kali membocorkan gerakan patroli TNI agar GAM bisa menghindar dari serangan langsung. Bahkan Badri sering ditembaki oleh teman sendiri saat GAM dikepung, sebab penyamarannya tidak diketahui rekan-rekannya di lapangan, kecuali petinggi TNI.

Suatu saat, intelijen Kopassus mendapat informasi adanya bongkar muat 125 pucuk senapan milik GAM dari Thailand dan Malaysia. Dengan informasi itu, Badri, datang ke markas GAM di Blang Ngara, Aceh Utara, saat senjata-senjata itu tiba.

Berbekal kepercayaan sebagai simpatisan GAM, Badri diminta melatih serdadu GAM menembak, baris-berbaris, dan perawatan senjata. Kesempatan ini juga ia gunakan untuk menyabotase senjata SS-1 dan AK-47 GAM; alat bidik senjata sengaja digeser agar tembakan tidak tepat sasaran.

Spionase Badri juga berhasil mengungkap sumber keuangan GAM dari perdagangan ganja kering di Aceh Timur dan Aceh Utara dan dikirim dengan perahu ke Malaysia. Pemerintah setempat dan perusahaan besar seperti Exxon Mobil, Pupuk Iskandar Muda, ASEAN Fertilizer, dan warga Aceh juga wajib memberikan “upeti” kepada GAM.

Penyergapan Panglima GAM

Setelah darurat militer berlaku, ada sekitar 40 batalyon lebih prajurit TNI yang mengepung Aceh. Posisi GAM semakin terdesak, sementara amunisi dan logistik mereka menipis.

Berbekal informasi intelijen dari Badri soal persembunyian petinggi GAM, turun perintah operasi penyergapan tiga tokoh utama GAM Muzakir Manaf, Sofyan Dawood, dan Said Adnan, usai Hari Raya Idulfitri tahun 2004.

Para wanita dalam Gerakan Aceh Merdeka [foto; kumparan]

Sementara Badri sudah menyelesaikan misinya dan kembali ke Jakarta sehari sebelum operasi penyergapan. Ia juga berpamitan kepada petinggi GAM itu.

“Semua tokoh kunci yang menjadi sasaran berada di Cot Girek. Hingga saya pamit meninggalkan mereka pukul 15.00 WIB. Saya pun sempat memberi informasi terakhir kepada induk pasukan soal hari dan jam serangan ditetapkan,” ujar Badri dalam Kopassus untuk Indonesia.

Saat markas GAM di Cot Girek diserbu Kopassus, Muzakir Manaf dan Sofyan Dawood berhasil lolos dan menyingkir ke Nisam, Aceh Utara, malam sebelumnya. Sementara Said Adnan dan ajudannya seorang desersi TNI meninggal dunia dengan luka tembak di dada dan perut.

Pada Desember 2004, bencana tsunami Aceh terjadi, sementara gerakan separatis berangsur surut seiring masuknya bantuan kemanusiaan ke Serambi Mekah. Perjanjian damai Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun disepakati 15 Agustus 2005.

[Dikisahkan kembali sebagai hikmah dan pembelajaran mengenang perjuangan atau patriotisme menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke 75]

 

Artikel ini telah dibaca 139 kali

Baca Lainnya