Headline Hukum

Sabtu, 27 November 2021 - 17:11 WIB

2 bulan yang lalu

Tim penyidik Polda Kepulauan Bangka Belitung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan terhadap lahan sengketa dan beberapa saksi di Desa Bakit, Kecamatan Parittiga, Bangka Barat, disaksikan Atong dan kuasa hukumnya Bujang Musa (Foto : Tbo)

Tim penyidik Polda Kepulauan Bangka Belitung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan terhadap lahan sengketa dan beberapa saksi di Desa Bakit, Kecamatan Parittiga, Bangka Barat, disaksikan Atong dan kuasa hukumnya Bujang Musa (Foto : Tbo)

Siapa Aktor Intelektual Penguasaan Lahan Atong, Bujang Musa, SH.,MH. : Penyidik Tunggu Apalagi

TBOnline [BABEL] — Zaini, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas jalannya proses penanganan perkara oleh penyidik Polda Kepulauan Bangka Belitung terkait penyerobotan dan atau perampasan lahan kebunnya yang ia anggap lamban, meski penyidik sudah melakukan pemanggilan kepada terlapor dan beberapa orang saksi.

“Seharusnya sudah dilakukan penahanan atau setidaknya ada yang ditetapkan tersangka, agar ada kepastian hukum dalam perkara ini, sudah 7 bulan sejak laporan pengaduan pertama kali disampaikan melalui kuasa hukum saya Bujang Musa,” ujar Atong panggilan akrab Zaini, ketika dijumpai TBO di kediamannya Jln. Budi Mulia, Pademangan, Jakarta Utara, pekan lalu.

Atong alias Zaini ketika dijumpai TBO di kediamannya Jln. Budi Mulia, Pademangan, Jakarta Utara (Foto : Tbo)

Atong berkisah lahan yang berada di Desa Bakit, Kecamatan Parittiga Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), yang menjadi objek perkara ini adalah sah miliknya, ia melalui putranya Agus Setiawan membeli lahan kebun kelapa seluas ± 6,9 hektar beserta bangunan yang berdiri di atasnya ini dari Dirman (Bong Thie) pada 1 Maret 2004, bahkan sejak 2004 itu Atong melalui Agus Setiawan anaknya, aktif membayar PBB lahan tersebut.

“Dirman (Bong Thie) membeli lahan ini dari Sainal H. Aup (Alm) pada 5 November 1998, kemudian pada 1 Maret 2004 Dirman (Bong Thie) menjualnya pada anak saya Agus Setiawan, kita memiliki berkas asal usul dan jual beli lahan tersebut, lantas kenapa tiba-tiba pada 2018 pihak yang mengaku ahli waris Sainal mengklaim lahan tersebut setelah sekian lama dijual pemiliknya ke pihak lain,” kata Atong sembari menunjukan bukti-bukti surat jual beli dan asal usul lahan miliknya kepada TBO.

Yang lebih menyesakkan hati Atong lagi ialah sikap pihak Pemerintah Desa Bakit yang justru seperti melegalisasi penjualan lahan miliknya oleh ahli waris Sainal, meski sebelum transaksi jual beli ini, Atong sudah menyampaikan berkas dan bukti bahwa lahan tersebut sah miliknya kepada pihak Desa Bakit. “Saya tidak menuduh terjadi dugaan konspirasi dalam perkara penjualan lahan saya ini, biarlah nanti penyidik yang mengungkapnya, namun keberpihakan pihak Desa Bakit dalam perkara ini sangat terang dan ini bisa jadi pintu masuk penyidik untuk mengurai keberpihakan pihak-pihak lain,” jelas Atong.

Bujang Musa : Penyidik Tunggu Apalagi?

Dalam Laporan Pengaduan yang disampaikan kuasa hukum Bujang Musa ke Dirkrimum Polda Babel No : 004/Adv.-BM/LP.Pdn/III/2021 pada Maret 2021, terungkap beberapa nama yang dilaporkan dalam dugaan perbuatan perampasan sebidang lahan kebun seluas ± 6,9 hektar (720 M X 96 M) milik Agus Setiawan anak Atong ini, antara lain pihak yang mengaku sebagai ahli waris Sainal B.M Auf bernama Abdul Roni, Rohana, Nurjana, Sa’id, Sulaiman, Burhan dan 1 orang kuasa jual bernama Zulpani bin Abd. Roni.

Bujang Musa, SH., MH,. kuasa hukum Zaini alias Atong menyesalkan lambannya proses penanganan perkara lahan Atong oleh penyidik Polda Kepulauan Bangka Belitung (Foto : Tbo)

Dalam keterangan yang diterbitkan Kantor Hukum Bujang Musa, SH., MH,. & Partners disebutkan beberapa fakta terkait asal usul  lahan kebun kelapa berada dalam penguasaan pihak Atong melalui anak nya Agus Setiawan, adalah : Pertama, Sainal B.M Auf memiliki kebun kelapa seluas ± 69.120 m2 (6,9 hektar) dengan ukuran 720 M X 96 M berdasarkan Surat Pernyataan Pengakuan Hak (diatas tanah negara) yang diterbitkan pada 19 Juli 1997. Kedua, Pada 5 November 1998 Sainal B.M Auf melepaskan hak penguasaan lahan kebun kelapa tersebut berupa jual beli kepada Dirman (Bong Thie) seharga Rp 3.000.000 yang kemudian digunakan Dirman (Bong Thie) untuk mendirikan gedung / camp dan rumah karyawan dalam pengelolaan usaha tambang pasir kuarsa, adapun Surat Pernyataan Pengakuan Hak yang asli sudah diserahkan ke kantor kecamatan untuk pendaftaran sertifikat tanah. Ketiga, Dirman (Bong Thie) pada 1 Maret 2004 menjual lahan kebun kelapa beserta bangunan yang berdiri di atas lahan tersebut kepada Agus Setiawan senilai Rp 30.000.000, hal ini dibuktikan dengan surat jual beli dan bukti kuitansi penyerahan uang dari Agus Setiawan kepada Dirman (Bong Thie).

“Jadi sebetulnya semua sudah jelas (asal usul lahan) ada saksi juga. Mana yang lebih kompeten pemilik atau anak (ahli waris)?. Jika diakomodir klaim mengklaim ahli waris ini, habis semuanya negara ini tidak ada lagi hukum. Dia yang berkebun dia bikin surat kemudian dia melepaskan kepunyaannya kepada orang lain, ini kan hak. Saya tidak bisa bicara lagi,” ungkap Bujang Musa.

Pengacara Bujang Musa saat berada di lokasi lahan milik Atong (Foto : Tbo)

Ditambahkan Bujang Musa, perkara ini setidaknya melanggar pidana penyerobotan lahan kemudian manipulasi berupa pemalsuan atau penggandaan surat yang dilakukan pihak ahli waris atas surat dari pemilik tanah semula, selain itu terdapat juga unsur penipuannya. “Lucunya ahli waris ini setelah diperiksa mengaku tidak tahu menahu, jadi kesan saya ahli waris ini seperti wayang, dipaksa untuk membuat skenario menjual lahan kepada oknum pengusaha. Saya duga ada aktor intelektual di baliknya. Ini yang harus diungkap penyidik,” kata Bujang Musa.

Bujang mengaku sempat mengatakan ke penyidik terdapat perbuatan pidana dari  pernyataan ahli waris Sainal yang mengakui lahan di Semulut milik orang tua mereka dan keinginan mereka (ahli waris) membuat surat baru.

“Saya bilang ke penyidik, pernyataan para ahli waris ini bermakna tidak ada tanah lain kecuali lahan yang pernah sebelumnya dijual kepada pihak lain oleh orang tua nya, bukti itu kan ada perbuatan pidananya, karena menerbitkan surat baru. Kemudian kenapa dia bikin surat (baru) alasannya hilang, berarti kalau hilang sudah pernah ada surat sebelumnya. Nah, surat itu berada di tangan Atong, bagaimana Atong mendapatkannya, ternyata pemilik lahan Sainal sebelumnya bernama Dirman (Bong Thie) menjual ke pihak Atong kemudian menyerahkan dokumen lahan tersebut dan ada bukti-bukti jual beli yang ditandatangani desa, kecamatan juga saksi-saksi nya. Kecuali kalau Atong memegang surat tapi tidak jelas bentuknya, apakah titipan atau pinjaman, itu perlu ditelusuri dan membutuhkan waktu yang lama. Sementara ini kan sudah jelas, jadi apalagi yang ditunggu penyidik,” kata Bujang Musa.

Pengacara senior ini juga mengkritisi penyidik yang belum melakukan pemeriksaan kepada Kepala Desa Ahmad Amsyir yang ia anggap ikut memfasilitasi penjualan lahan yang dilakukan para ahli waris, karena menurut Bujang Musa ada perbuatan yang diduga disengaja oleh pihak pemerintahan Desa Bakit dalam hal ini kepala desa, karena sebelum diterbitkan surat, Atong mendatangi kantor desa dan menyampaikan informasi bahwa tanah tersebut sudah dilakukan jual beli kepadanya, Atong juga menunjukan bukti-bukti dan ada tanda terima dari desa, artinya Atong sudah ada niat baik.

“Kalau kepala desa mengenyampingkan informasi dari Atong ini berarti ada kesengajaan, diduga ikut terlibat. Keterangan pihak desa dia ditekan, biar urusan penyidik, siapa yang menekan?” tanya Bujang.

Menurut Bujang Musa hingga kini belum ada perkembangan berarti dari laporan perampasan lahan milik kliennya yang ia sampaikan ke Dirkrimum Polda Babel ini, meski penyidik sudah melakukan proses pemanggilan kepada beberapa pihak.

“Saya ada batas, kemarin kan ada alasan, kita punya batas nanti kadaluarsa, kalau memang tidak ada bukti kenapa tidak diterbitkan SP3, tapi gelar dulu perkaranya. Saya sangat menyayangkan hal ini karena penyidik di level Polda setahu saya profesional jadi harapan saya penyidik lebih cepat. Kita masih menghormati penyidik ini mampu, maka kita masih menunggu. Kalau memang tidak jalan kita sampaikan ke atas (Mabes Polri –red),” kata Bujang Musa.

Begini Cara Ahli Waris ‘Gangsir’ Lahan Atong

Berdasarkan dokumen yang diterima TBO, modus yang dilakukan para ahli waris yang berjumlah 6 orang tersebut menjual lahan milik Agus Setiawan (Atong) ialah dengan memecah luas lahan menjadi 3 bagian, untuk memuluskan rencana ini diawali dengan membuat Surat Pernyataan Pengakuan Hak atas Tanah (SPPHT) bertanggal 18 Mei 2018 yang memuat pernyataan bahwa masing-masing pihak adalah benar merupakan ahli waris Sainal dan mengaku lahan tersebut sejak tahun 2012 dikuasai (Alm) Sainal : Tanah tersebut belum pernah di pindahtangankan kepada pihak lain, tidak dalam sengketa, tidak dalam perkara, tidak jaminan hutang kepada pihak lain. Untuk lebih mengesahkan pernyataan ini, Kepala Desa Bakit Ahmad Amsyir juga ikut bertandatangan.

Tim penyidik Polda Kepulauan Bangka Belitung saat berada di lokasi lahan sengketa milik Atong (Foto : Tbo)

Masih di tanggal dan tahun yang sama, ke 6 ahli waris Sainal ini juga menandatangani surat pernyataan yang berisi memberikan kuasa jual lahan yang berlokasi di Jalan Tendak, Desa Bakit ini kepada Zulpani bin Abd. Roni.

Dari sini kemudian, pada 18 Agustus 2018 terbit berita acara pengukuran bidang tanah atas permintaan Sa’id, Rohana dan Nurjana yang digunakan untuk mendaftarkan Surat Pernyataan Pengakuan Hak Atas Tanah (SPPHAT) di Kantor Desa Bakit dan Kecamatan Parittiga. Dalam masing-masing SPPHAT yang ditandatangani ketiganya serta diketahui Camat Parittiga A. Amir serta Kades Bakit Ahmad Amsyir ini menerangkan lahan seluas : 20.000 m2, 10.000 m2 dan 20.000 m2 ini dikuasai masing-masing oleh Sa’id, Rohana dan Nurjana.

Nah, pada 24 Agustus 2018 muncul Surat Penyerahan / Pelepasan Hak Atas Tanah pada bidang tanah masing-masing milik Sa’id seluas 20.000 m2 kepada Stevanus, bidang tanah milik Rohana seluas 10.000 m2 kepada Tri Vena dan bidang tanah milik Nurjana seluas 20.000 m2 dilepaskan seluruhnya kepada Suzett Hatting.

Ketiga pembeli baik Stevanus, Tri Vena dan Suzett Hatting diketahui beralamat sama di Jalan Basuki Rachmad, Kelurahan Sriwijaya Bukit Intan, Pangkalpinang, Bangka Belitung. Andi Mulya (Babel), Iar Agustin / Fira (Jakarta)

Artikel ini telah dibaca 64 kali

Baca Lainnya