Berita Daerah

Rabu, 3 November 2021 - 04:20 WIB

3 bulan yang lalu

ILUSTRASI - Penganiayaan yang dilakukan seseorang berujung laporan polisi (Foto : RNN)

ILUSTRASI - Penganiayaan yang dilakukan seseorang berujung laporan polisi (Foto : RNN)

Polsek Cikedal Periksa Saksi Dugaan Penganiayaan Yang Dilakukan Mantan Kades Tegal

TBOnline [PANDEGLANG] — Kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan SHB, Cakades Tegal incumbent kepada AH, warga Kampung Cipanuk, Desa Tegal, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, Banten, hingga kini masih ditangani Polsek Cikedal.

Kapolsek Cikedal Iptu Oo Abdulrohim kepada TBO menyatakan terduga tersangka penganiayaan SHB sudah dimintai keterangan dan hingga kini kasusnya masih dalam penanganan pihaknya. “Untuk diduga tersangka sudah dimintai keterangan awal, sekarang lagi tahap mengundang saksi-saksi, untuk perkara dalam penanganan,” kata Oo Abdulrohim, Selasa (2/11/2021).

Surat bernomor : B/63/X/2021/Sek.Cikedal bertanggal 27 Oktober 2021 yang berisi undangan kepada AH untuk datang ke Polsek Cikedal (Foto : Tbo)

AH sendiri mengungkapkan peristiwa penganiayaan yang menimpa dirinya ini terjadi di Kantor / Balai Desa Tegal pada Senin, 25 Oktober 2021 sekitar pukul 11.00 Wib siang.

“Pada awal nya saya hendak bikin surat pengumuman untuk ketua pemuda di Kampung Cipariuk, tiba-tiba dia (SHB) hadir, enggak tau dari mana. Tau-tau dia langsung menginjak menendang meja kena dada saya, terus dia mundur menendang lagi, satu kali lagi sampai hancur piring sama gelas,” kata Anwar.

Tak terima perlakukan SHB, AH yang merupakan salah satu tim pemenangan Calon Kepala Desa Tegal nomor urut 5 kemudian membuat laporan ke Polsek Cikedal dengan bukti laporan bernomor : Dumas/20/X/2021/Sek.Cikedal pada 26 Oktober 2021. Setelah sebelumnya AH melakukan visum di Puskesmas Menes. Laporan AH ini kemudian ditanggapi Polsek Cikedal dengan surat bernomor : B/63/X/2021/Sek.Cikedal tanggal 27 Oktober 2021 yang berisi undangan kepada AH untuk datang ke Polsek Tegal menghadap Kanit Reskrim di Ruang 5 Unit Reskrim Polsek Cikedal pada 28 Oktober 2021.

“Saya menyerahkan sepenuhnya perkara ini kepada pihak berwajib, saya berharap hukum dapat ditegakkan seadil-adilnya tanpa pandang bulu. Kita tunggu saja kelanjutan perkaranya,” ujar AH.

Sementara itu, informasi yang diperoleh TBO, usai mendapat penganiayaan dari SBH ini AH masih memberikan kesempatan selama 3 hari kepada pelaku untuk menyelesaikan perkara secara baik-baik, namun kesempatan ini tidak diambil SBH, bahkan AH berinisiatif mengundang SBH melakukan musyawarah di rumah salah satu tokoh masyarakat Roni Bahroni, alasan AH tidak memilih Balai Desa Tegal sebagai lokasi musyawarah, karena pertimbangan balai desa merupakan tempat kejadian perkara (TKP), namun sayang undangan musyawarah ini pun tidak digubris SBH.

Selain itu, pada saat kejadian penganiayaan di balai desa ini juga disaksikan beberapa staf / perangkat desa, namun seolah melakukan pembiaran karena tidak ada yang melerai dan berusaha mendamaikan. “Kejadian penganiayaan yang dilakukan SBH ini jelas melanggar pakta integritas dan nilai-nilai demokrasi yang di dalam nya terdapat undang-undang kebebasan. Saya pikir ini tidak sekedar KUHP. Prilaku SBH ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengaudit  penggunaan anggaran dari mulai dia menjabat kepala desa sampai akhir masa jabatannya”.  Ade KS/Ahda/Ngkong

Artikel ini telah dibaca 1310 kali

Baca Lainnya