Jangan Lupa Tanggal 9 Desember 2020 Coblos Nomor 1 Adjo Sardjono – Iman Adinugraha

Headline Nasional

Minggu, 15 Juli 2018 - 04:53 WIB

2 tahun yang lalu

Polres Rokan Hilir Kerja Ligat, Sengketa Lahan Milik Khaidir Bakal Terungkap

TB-Online, Rokan Hilir – Laporan Khaidir (44 tahun) terkait tindak pidana penyerobotan lahan miliknya ke Polres Rokan Hilir ditindaklanjuti aparat kepolisian pada Kamis, 5 Juli 2018 lalu.

Dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) bernomor : STPL/49/VII/2018/Riau/Rokan Hilir, diterangkan Khaidir melaporkan tindak pidana “penyerobotan lahan” yang terjadi pada tahun 2013 di 1 (satu) bidang yang dikerjakan oleh Abdul Muis (Alm) dengan ukuran 100 Depa X 200 Depa atau ± 4 Ha (Hektar) yang terletak di Dusun II Babusalam Rokan, Kepulauan Babusalam Rokan, Kecamatan Pujud, Kabupaten Rohil.

Kemudian 1 (satu) bidang yang dikerjakan oleh Abdul Muis (Alm) dengan ukuran 100 Depa X 100 Depa atau ± 2 Ha (Hektar) yang terletak di Dusun II Babusalam Rokan, Kepulauan Babusalam Rokan, Kecamatan Pujud, Kabupaten Rohil.

Adalagi 1 (satu) bidang yang dikerjakan oleh Iyah dengan ukuran 60 Depa X 100 Depa atau ± 1,5 Ha (Hektar) yang terletak di Dusun 1 Babusalam Rokan, Kepulauan Babusalam Rokan, Kecamatan Pujud, Kabupaten Rohil. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 385 KUHPidana sesuai dengan Laporan Polisi Nomor : LP/109/VI/2018/Riau/Res Rokan Hilir, Tanggal 5 Juli 2018.

Kepada Target Buser, Khaidir mengutarakan kepuasannya atas kinerja aparat kepolisian Resort Rokan Hilir. “Semoga kebenaran akan cepat terkuak. Saya haqul yakin polisi akan bekerja cepat menyelesaikan kasus ini agar tercipta kepastian hukum,” katanya.

Pada pemberitaan Target Buser sebelumnya disebutkan Khaidir warga Babussalam, Kepenghuluan Siarangarang, Kecamatan Pujud, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, tengah memperjuangkan hak nya atas lahan seluas ± 13 hektar yang terbagi dalam 4 bidang, peninggalan orang tuanya.

5 tahun lebih ia menunggu kepastian hukum lewat jalur pengadilan. Kini setelah putusan Mahkamah Agung (MA) berpihak padanya. Toh, haknya belum juga bisa dikuasainya secara penuh.

Kepada Target Buser, Khaidir mengungkapkan kegetirannya menghadapi Asmara, yang berselisih dengannya atas lahan yang terletak di Sungai Ulak Bengkuang, Kepenghuluan Siarangarang, Kecamatan Pujud, Rokan Hilir tersebut. Menurut Khaidir, gugatan awal Asmara atas dirinya di Pengadilan Negeri (PN) Rokan Hilir, ialah atas salah satu bidang lahan sengketa, seluas 6 hektar yang didudukinya. Klaim Asmara, lahan 6 hektar yang dikuasai Khaidir ialah milik Abdul Muis, orang tuanya, yang pada 22 Maret 1994 menuliskan surat wasiat, yang pada intinya menyerahkan seluruh lahan peninggalannya kepada Asmara.

Di pengadilan tingkat pertama ini, Khaidir dikalahkan, namun disini jugalah terungkap beberapa fakta yang semakin menguatkan klaim Khaidir atas 4 bidang lahan seluas lebih kurang 13 hektar tersebut. Ia yakin seluruh lahan tersebut bukan milik almarhum Abdul Muis orang tua Asmara, melainkan milik orang tuanya, KH. Bahar (alm). “Atas putusan PN ini, saya kemudian banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Pekan Baru, karena terdapat bukti dan saksi yang menguatkan hak saya,” tukasnya.

Dalam waktu yang bersamaan dengan proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Rokan Hilir inilah, terjadi penjualan secara sepihak oleh Asmara terhadap objek sengketa. Inilah yang kemudian memantik pelaporan Khaidir ke Polres Rokan Hilir beberapa waktu lalu. “Ada sekitar 7 hektar lahan yang dijual Asmara,” kata Khaidir.

Dus, Putusan Pengadilan Tinggi (PT) Pekan Baru, Nomor 216/Pdt/2014/PT PBR, tanggal 24 Februari 2015, dalam amar putusannya menyebutkan membatalkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Rokan Hilir Nomor 24/PDT.G/2013/PN RHL, tanggal 2 Juni 2014. Asmara tak jera, ia kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Dari sini  perlu sekitar 1 tahun, sampai Mahkamah Agung (MA) kemudian mengeluarkan putusan Nomor : 541 K/Pdt/2016 tanggal 19 Oktober 2016 yang menguatkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Pekan Baru Nomor 216/Pdt/2014/OT PBR tanggal 24 Februari 2015.

Meski putusan Mahkamah Agung (MA) ini berpihak kepada Khaidir, namun ia mesti menghadapi kenyataan, dari ± 13 hektar lahan yang diperjuangkannya hingga ke MA, terdapat sekitar 7 hektar lahan yang sudah dijual Asmara kepada pihak ketiga. Inilah buntut persoalan pelaporan Khaidir ke pihak kepolisian.

Dalam SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan) Nomor: B/30/II/2018/Reskrim, tanggal 12 Februari yang diperlihatkan Khaidir kepada Target Buser, disebut kepolisian telah memeriksa saksi-saksi, antara lain : Khaidir alias Haider (pelapor), Arifdan alias Ardan, Safrizal alias Izal bin Hasan (Alm), Samsuar alias Isu (Ketua RW 01), M. Nasri alias Inas (Mantan penghulu Babussalam Rokan), Herman Pelani (Ketua RT 01), Antoni, Robianto (Mantan penghulu Babussalam Rokan), Asmara, SH., MH. Redaksi

Artikel ini telah dibaca 589 kali

Baca Lainnya