Headline Nasional Satu Komando

Tuesday, 10 September 2019 - 07:04 WIB

2 months yang lalu

Kapolres Bogor, AKBP Dicky M. Pastika saat menggelar konferensi pers terkait kasus sodomi di Babakan Madang [Foto: Humas]

Kapolres Bogor, AKBP Dicky M. Pastika saat menggelar konferensi pers terkait kasus sodomi di Babakan Madang [Foto: Humas]

Polres Bogor Singkap Kejahatan Sodomi, Takut Diadukan Pelaku Habisi Korban

TBOnline [BOGOR] – Polres Bogor kembali mengungkap kasus tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak, bahkan mengakibatkan korban meninggal dunia. Demikian disampaikan Kapolres Bogor AKBP Andi Moch Dicky didampingi Kapolsek Babakan Madang AKP Silfia Sukma Rosa, Kasubbag Humas AKP Ita Puspita Lena dan Kanit PPA Sat Reskrim Polres Bogor Ipda Silfi Adi Putri, saat konferensi pers di Mapolres Bogor, Senin [9/92019].

Menurut Kapolres kasus ini terjadi di Kampung Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. “Kasus ini ditangani Polsek Babakan Madang namun mendapat back up dari Sat Reskrim Polres Bogor,” ujar Dicky.

Kapolres Bogor, AKBP Dicky M. Pastika saat menggelar konferensi pers terkait kasus sodomi di Babakan Madang [Foto: Humas]

Kronologis kejadian pada 3 Agustus 2019, dimana saat itu korban seorang remaja laki-laki berinisial MM [11 tahun] pamit kepada orang tuanya untuk melaksanakan Istighosah, namun setelah malam itu korban tidak pulang. Kemudian keesokan harinya [4/8/2019] korban ditemukan warga sudah tidak bernyawa. “Setelah ditemukan mayat korban, banyak warga berdatangan. Kemudian ada saksi yang melihat bekas gigitan di tangan korban serta bekas tapak jeratan di leher korban,” katanya.

Mulanya keluarga sempat menolak jasad korban diautopsi dan bersikukuh agar langsung dimakamkan, namun warga yang curiga kematian MM tidak wajar segera melaporkan ke Bhabinkamtibmas setempat, setelah itu aparat kepolisan melakukan olah TKP serta menyelidiki para saksi. Selang beberapa hari, karena merasa ada keganjilan dengan kematian MM, barulah keluarga melaporkan kematian korban ke polisi, dan bersedia dilakukan autopsi. “Sebelumnya sudah dikuburkan, tetapi kita membongkar lagi kuburan korban untuk melakukan autopsi dan visum. Ditemukan memang adanya kejanggalan terhadap penyebab kematian korban,” lanjut Dicky. “Alhamdulillah, kasus ini berhasil terungkap sehingga pada tanggal 3 September 2019, pelaku seorang pria berinisal J [35 tahun] berhasil ditangkap di wilayah Garut, Jawa Barat. Adapun motif dari pada pelaku adalah kekerasan seksual di mana pelaku ini memiliki kelainan orientasi seksual terhadap korban sehingga pelaku sudah melakukan hubungan sodomi selama 3 kali pada korban,” tukas Kapolres AKBP Andi Moch Dicky.

Diketahui, pada hari sebelum korban dibunuh, korban sempat dipertontonkan video porno oleh pelaku. “Jadi pelaku memperlihatkan video porno sambil melakukan kekerasan seksual,” kata Kapolsek Babakan Madang AKP Silvia Rosa. Ditambahkan Silvia, korban dan pelaku sudah saling mengenal sebelumnya, bahkan korban sudah ketiga kalinya disodomi oleh pelaku sebelum akhirnya dibunuh. “Ini yang ketiga kalinya dengan di iming-imingi uang. Pada saat ketiga, dia [pelaku] nggak ngasih uang,” kata Silvi.

Karena tidak diberi uang, korban kemudian marah. Dia mengancam akan melaporkan perbuatan pelaku ke orang tua. “Pada kejadian ketiga [dijanjikan] Rp 20 ribu. Tapi ternyata setelah disodomi, tersangka nggak punya uang,” ucap Silvi. “Marahlah pelaku. Kata korban, kalau nggak dikasih uang, dia mau ngadu ke orang tuanya”. Korban saat itu berniat lari, namun pelaku kemudian menjeratnya dengan kain sarung yang dibawa korban. “Akhirnya [korban] mau lari, dijerat lah korban dengan kain sarung. Kemudian karena korban memberontak, digigit tangannya,” jelasnya.

Atas tindakan ini pelaku dijerat dengan pasal 30 ayat 3, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP.

Dalam jumpa pers ini, kepolisian meminta agar pemerintah daerah, lingkungan pendidik dan Komisi Perlindungan Anak [KPA] berperan aktif melakukan sosialisasi pencegahan bahaya kekerasan seksual terhadap anak. Dari data yang diterima Unit Perlindungan Perempuan dan Anak [UPPA] Sat Reskrim Polres Bogor terkait kasus kekerasan seksual, diantaranya pada tahun 2016 laporan polisi yang diterima sebanyak 144, sedangkan tahun 2017 sebanyak 96, dan tahun 2018 sebanyak 97 kasus.

Pencus Hutabarat /[Humas Polres Bogor]

Artikel ini telah dibaca 379 kali

Baca Lainnya