Headline Nasional

Selasa, 2 Februari 2021 - 14:06 WIB

3 bulan yang lalu

PLN, Pelita di Bumi Khatulistiwa (Masuknya ‘Setrum’ di Kampung Terisolir Batu Gajah)

TBOnline [SUKABUMI] — Berada persis di kecuraman lembah dengan kontur tanah perbukitan, Kampung Batu Gajah yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, termasuk kampung terisolir yang berada dilingkar area Perkebunan Balungbangan, berbatas dengan Gunung Malang di selatan dan Bukit Cianaga di sebelah barat.Sebenarnya tidak hanya Kampung Batu Gajah yang nyaris terasing dari wilayah ini, terdapat juga Kampung Ciherang di Desa Gunung Malang, Kecamatan Cikidang serta Kampung Lio di Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan.Meski berbeda kecamatan, ketiga kampung ini berada tepat di bawah lereng dan lembah perkebunan Balungbangan, dan merupakan daerah penghubung yang dibatasi aliran Sungai Citarik dan Sungai Cipanas yang jadi pembelah ketiga kecamatan, kedua sungai ini mengambil sumber mata air dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di sebelah utara sebagai hulu nya.Kampung Batu Gajah ini tidak terlalu dikenal banyak orang, selain lokasi nya yang jauh dari keramaian kota, kondisi jalan menuju kampung ini juga begitu ekstrim dan memprihatinkan, trek menanjak, belokan dan turunan curam yang hanya beralas tanah dan batu koral sepanjang 2,4 Km akan kita lalui dari mulai Dusun Cingenca menuju Desa Batu Gajah. Kondisi inilah, sehingga ceritera perjuangan masuknya sumber kehidupan berupa aliran listrik dari PLN di kampung ini menjadi kisah inspiratif tersendiri.

Lebih dari satu dekade, sejak masa kemimpinan Kepala Desa Mochammad Yasin (2007-2012) PLN menerangi penduduk di Kampung Batu Gajah.

Adalah Adin (43 tahun) anggota LPMD Walangsari yang juga bekerja sebagai teknisi PLN di lapangan, yang banyak mengetahui seluk beluk masuknya pertama kali aliran listrik PLN di Kampung Batu Gajah.

“Seingat saya dulu pada tahun 2007 ada program PNPM, yang salah satunya ialah program pengerasan jalan Desa Walangsari yang lokasi nya kebetulan di Kampung Batu Gajah, seiring dengan kegiatan tersebut warga pun mengusulkan kepada pihak desa agar kampung nya segera mendapatkan pemasangan aliran listrik juga dari PLN,” kenang Adin, ketika dijumpai di kediamannya, Minggu (24/01/2021).Apalagi, lanjut Adin, warga Kampung Batu Gajah merasa seperti dinomorduakan karena daerah tetangga Kampung Ciherang, Desa Gunung Malang, sudah lebih dulu teraliri listrik dari PLN Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) Cibadak.

“Singkat cerita aspirasi warga pun saya akomodir. Atas dasar kepercayaan itulah saya merasa yakin, bisa saja warga mempercayai saya karena melihat profesi saya sebagai pekerja di PLN. Meski awalnya ada rasa khawatir membebani hati saya bagaimana jika nanti langkah dan niat baik saya ini ditolak oleh pimpinan PLN Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) dengan alasan akses jalan dan lain sebagainya yang tidak relevan dan efisien sehingga tidak memungkinkan untuk masuk ke Kampung Batu Gajah,” cerita Adin.

Bermodal keyakinan dan kepercayaan warga inilah, Adin kemudian menyampaikan proposal berupa usulan pemasangan jaringan listrik baru ke Kampung Batu Gajah melalui pimpinan PLN UPJ Cibadak.

“Ketika itu saya tidak mau mengambil resiko dan berspekulasi terlalu jauh, sehingga langkah awal saya bentuk dua orang tokoh warga setempat yakni Pak Amur (kini 63 tahun) dan Pak Ojang (kini 61 tahun) untuk menjadi panitia atau koordinator, tugas dan fungsi kedua orang ini hanya melakukan pendataan dan penertiban secara kolektif administrasi dan komersial dari calon konsumen PLN di Kampung Batu Gajah,” kata Adin.

Singkat cerita, data warga yang berhasil dihimpun Amur dari RT 24 dan 25, kala itu hanya berkisar 27 KK dari 60 KK yang sudah siap untuk mendaftarkan diri menjadi calon konsumen baru pelanggan listrik PLN 450 VA/kWh.Kekhawatiran Adin menjadi nyata, karena ketika itu usulannya ditolak dengan alasan jumlah calon konsumen yang tidak sebanding dengan biaya pemasangan jalur yang begitu jauh jaraknya, sehingga perlu biaya besar yang harus dikeluarkan PLN.

“Intinya PLN ketika itu tidak ingin membebani warga,” tukas Adin.

Selain itu, kata Adin, untuk sampai di Kampung Batu Gajah, jalur yang dilalui pun harus melewati lahan Perkebunan Balungbangan.

“Ada rasa kekhawatiran pihak PLN, takutnya suatu saat nanti lahan tersebut akan digunakan untuk kepentingan lain oleh pemilik HGU (Hak Guna Usaha) PT. Salak Utama,” katanya.

Kemudian, ketersediaan pasokan listrik selama ini juga belum maksimal, kondisi jaringan yang sering ngedrop dan tegangan listrik naik turun (spaning). Apalagi ketika itu jalur listrik hanya ada dan berakhir di Dusun Cingenca, Kampung Ciujung.

“Ketiga alasan yang dipaparkan pihak PLN UPJ Cibadak inilah yang menjadi kendala proposal usulan pemasangan aliran listrik di Kampung Batu Gajah ketika itu,” sebut Adin.

Namun Adin tetap optimis, ia berfikir keras bagaimana Kampung Batu Gajah harus tetap teraliri listrik, seperti kampung lain di Desa Walangsari.

“Dalam waktu yang bersamaan, saya melihat ada program pemasangan jaringan listrik masuk kampung di Ciherang, Desa Gunung Malang, Kecamatan Cikidang, yang lokasi nya tidak jauh dan hanya berseberangan dengan wilayah RT 24, Kampung Batu Gajah. Dalam hati saya berkata, mungkin ini yang akan menjadi solusi masuknya listrik di Kampung Batu Gajah,” kata Adin.Ia pun kemudian memberanikan diri menyampaikan proposal usulan untuk kedua kalinya, dengan menyampaikan alasan logis dan relevan ke pimpinan PLN UPJ Cibadak, yang jadi pertimbangan Adin kala itu ialah selain jarak yang begitu dekat, hanya 400 sampai 500 meter saja dari Ciherang ke Batu Gajah, PLN juga sedang giatnya melaksanakan Program Listrik Masuk Desa untuk menerangi seluruh negeri agar Indonesia semakin maju.

Gayung bersambut, usulan warga Batu Gajah disetujui pimpinan PLN Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) Cibadak, Kabupaten Sukabumi pada akhir tahun 2007 silam.“Alhamdulillah di awal tahun 2008, listrik sudah mengalir menerangi rumah warga di Kampung Batu Gajah. Kehidupan pun seperti bermula dari sini,” kenang Adin tersenyum.

Suka Duka Sebelum Ada Listrik

Amur (63 tahun) warga Kampung Batu Gajah, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal serta Emad (67 tahun) warga Kampung Lio, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, adalah dua orang tua (sepuh) dari kedua kampung yang bersebelahan, yang ingat betul bagaimana suasana kampung tempo dulu sebelum masuknya listrik di wilayah ini.Menurut keduanya, dahulu warga Kampung Ciherang sempat menolak jaringan listrik yang ada di kampungnya untuk dialiri ke kampung seberang, dengan alasan beda desa dan kecamatan.

“Kita maklum karena keterbelakangan wawasan dan pengetahuan juga cara berfikir masyarakat awam, yang tentu berbeda dengan kaum intelektual. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena dimasa kepimimpinan dua orang kepala desa yang kini telah meninggal dunia, keduanya Kades Walangsari Moch. Yasin dan Odang Kades Gunung Malang, yang bersahabat dan berjasa sehingga perbedaan dan kesalahpahaman kedua  warga desa dapat disatukan, semoga kedua almarhum mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT, Aaamiin YRA,” kata Amur, Minggu (24/01/2021).

Atas perjuangan dan pengorbanan kedua kepala desa semasa hidup, akhirnya warga di Kampung Ciherang, Desa Gunung Malang, mau berbagi aliran listrik dengan warga Kampung Batu Gajah, Desa Walangsari.

“Terimakasih dan apresiasi sekali, khusus buat PLN yang selama ini telah menjadi pelita di kehidupan kampung kami, yang telah banyak membawa dampak positif dalam setiap sektor dan sendi kehidupan,” ujar Amur.

Sementara Emad, diketahui adalah orang  yang pertama kali tinggal di daerah yang  kini disebut Kampung Lio, sejak tahun 1975 ia sudah mulai tinggal disini, jauh sebelum daerah ini menjadi perkampungan.

“Kalau zaman dulu jangankan listrik, jalan saja masih jalan setapak dengan kondisi nya juga masih tanah,” kenang Emad.

Ia bercerita, awal nya hanya ia dan keluarga yang tinggal disini, itu pun hanya sekedar nyaung- nyaung (baca : mendirikan gubug saja) sekedar untuk  menunggui hasil bumi dan sekedar beristirahat usai bekerja di atas lahan pertanian miliknya.

Bercerita masa lalu seakan tak ada habisnya buat lelaki tua yang lahir di Kampung Lemah Duhur, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan ini.

Alasan Emad tinggal dan menetap di Kampung Lio ini karena dulu masih banyak sasatoan (baca : binatang liar) yang suka ngerusak pepelakan ( baca : tanaman) kaya babi hutan, burung dan monyet.

“Makanya saya tinggal disini (Kampung Lio), kalau rumah mah saya di Lemah Duhur juga ada, tapi sekarang mah udah betah disini makanya saya bikin rumah disini,” ucap nya.

Terkait masuknya aliran listrik di Kampung Lio, yang baru dua tahun sejak 2019, Emad mengisahkan bahwa dulu sebelum ada listrik, penerangan warga jika malam hari hanya berupa lentera dengan memakai sumbu kain bekas berbahan bakar minyak tanah.

“Tapi kesini-sininya ada juga yang pake listrik dinamo bagi warga yang tergolong mampu,” katanya.

Pasang dinamo itu, kata Emad, selain biayanya cukup mahal kendala nya juga lumayan banyak, karena jarang ada yang bertahan lama apalagi kalau musim hujan tiba.

“Hampir setiap malam suka terjadi banjir bandang di Sungai Citarik ini, kalau terjadi banjir semua yang menggunakan listrik dinamo tenaga kincir air pasti mati, baik warga di Kampung Lio maupun di Ciherang dan Batu Gajah, karena kincirnya suka terseret arus air. Bahkan terkadang dinamo nya juga rusak kebakar karena korslet terendam air banjir bandang, begitulah kondisinya,” ujar Emad.

Ada juga kendala di musim kemarau, kincirnya berjalan dinamonya hidup, tapi listrik yang dihasilkannya tidak maksimal, padahal hanya dipakai untuk lampu penerangan saja di waktu malam.

“Tetep saja melempem (tidak maksimal) padahal lampu yang digunakan hanya dua bohlam,” ujarnya.Karena pada musim kemarau aliran air Sungai Citarik juga menurun sehingga gelebeg (kincir) tidak dapat berputar menggerakan dinamo dengan normal.

“Makanya sekarang mah setelah ada listrik dari PLN Alhamdulillah. Terimakasih sekali karena semua warga disini sudah terbantu penerangannya oleh PLN, baik yang di Kampung Lio, Kampung Ciherang dan Batu Gajah, Alhamdulilah terimakasih ya PLN,” pungkas Emad.

Sementara itu, istri Amur yang akrab disapa warga dengan panggilan Emak,  dengan nada terbata juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada PLN yang telah menerangi kehidupan di kampung nya.

“Karena dengan ada nya listrik kita bisa beli kulkas dan membikin es buat usaha, dan untuk nyuci bisa beli mesin cuci juga bisa ada TV, pokok nya emak doa’in buat PLN semoga jaya, Aamiin. Sekali lagi emak ucapkan terimakasih dari Kampung Batugajah, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi”.

Listrik Mewarnai Pendidikan di Batu GajahMasuknya listrik di Kampung Batu Gajah juga menjadi berkah tersendiri bagi Dayat, putera asli Kampung Batu Gajah yang menjabat sebagai salah satu Ketua RW, yang dikenal memiliki obsesi besar mengembangkan dunia pendidikan di kampung nya.

“Tidak dapat dipungkiri, listrik menjadi salah satu sumber daya yang dapat merubah peradaban warga Kampung Batu Gajah dengan signifikan, yang notabene dahulu kampung ini memiliki ciri khas tersendiri serta gaya yang begitu bersahaja identik bernuansa primitif kini menjadi jauh lebih maju dan modern,” kata Dayat, saat diwawancarai, Minggu (23/01/2021).

Untuk mendukung kemajuan pendidikan di kampung nya, Dayat mendirikan Yayasan Al-Hidayah, yang menyelenggarakan pendidikan formal dan informal bagi warga Kampung Batu Gajah, salah satu infrastruktur pendidikan di bawah Yayasan Al-Hidayah ialah Madrasah Diniyah Tingkat Awaliyah (setara SD).“Dengan jujur saya katakan bahwa kemajuan serta keberhasilan di Kampung Batu Gajah ini, terutama pengembangan dalam dunia pendidikan yang saya jalani sangat terasa sekali dampak positif serta nilai manfaat yang didapat, setelah kampung kami ini tersentuh oleh program aliran listrik PLN dari Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) Cibadak Sukabumi pada tahun 2007 silam,” kenang Dayat.Lebih jauh, berkah aliran listrik PLN di Kampung Batu Gajah ini bahkan menghantarkan putra Dayat, M. Latif Ikhsan Nurjaman memuncaki kegiatan akbar Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) sebagai juara harapan 3 tingkat nasional mewakili Provinsi Jawa Barat.

Penulis : Dedi Cobra

Artikel ini telah dibaca 731 kali

Baca Lainnya