Oase

Jumat, 2 April 2021 - 18:59 WIB

3 bulan yang lalu

Pandemi Covid-19 Bukan Penghambat Pembangunan Jembatan Sundawenang di TMMD -110

Oleh : Mayor Inf. Ermansyah,SH,MH*

Sundawenang adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Parungkuda, Sukabumi-Jawa Barat, jika dilihat dari peta, lokasi desa tersebut letaknya 5 km dari pusat keramaian atau pasar terdekat, terdapat kurang lebih 700 KK yang warganya hidup dengan kesederhanaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur serta kearifan lokal.

Kebanyakan dari mereka, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mengandalkan hasil tani atau upah dari bekerja sebagai buruh tani, atau pun menjajakan hasil tani nya di pasar, oleh karena itu untuk memudahkan mereka menuju luar desa, mereka membutuhkan akses jalan yang baik dan layak.Sama dengan wilayah lain nya, salah satu hal mendasar yang dibutuhkan warga untuk mengangkat perekonomian wilayah, yaitu akses jalan, karena bagaimana pun infrastruktur jalan itu sangat penting, sarana infrastruktur dan transportasi merupakan bagian terpenting untuk menghidupkan aktivitas perekonomian warga agar dapat mengelola dan memasarkan hasil pertanian maupun perkebunan dengan jarak tempuh yang lebih cepat.

Dan saat ini warga Desa Sundawenang tengah berbahagia, dikarenakan harapan mereka memiliki jembatan penghubung antara dua desa dapat terlaksana, mereka mendapatkan kesempatan untuk menerima bantuan pembangunan dari Pemda setempat, tak hanya sebatas itu, akses jalan/jembatan utama bagi warga ataupun para petani memberikan dampak besar bagi peningkatan pertumbuhan perekonomian, yang selama ini menggantungkan hidupnya dari sektor ketahanan pangan lewat pengembangan hasil tani yang selama ini telah dikerjakan oleh masyarakat Kampung Kebon Panjang, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda yang kurang efektif karena adanya keterbatasan transportasi.Bantuan di segala lini harus dilakukan di daerah yang paling tertinggal, jangan sampai daerah yang sudah berpotensi atau masyarakatnya dapat dikatakan sudah dikategorikan lebih baik dari daerah tertinggal, tapi masih mendapatkan bantuan yang lebih banyak dibandingkan daerah yang paling tertinggal. Maka Sundawenang adalah salah satu desa yang memang harus diberikan sentuhan dari pemerintah, karena Sundawenang masih dikategorikan sebagai daerah yang tertinggal.

Pembangunan yang saat ini tengah dikerjakan di wilayah Sundawenang adalah bentuk sinergitas antara pemerintah terkait dengan TNI, yaitu oleh Tim Satgas Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) dari wilayah Kodim 0607/Kota Sukabumi dan juga dengan melibatkan warga masyarakat.TMMD atau TNI Manunggal Membangun Desa dilaksanakan untuk membantu percepatan pembangunan desa yang berada di daerah tertinggal dan terpencil, dan TMMD merupakan kegiatan yang dapat dikatakan mulia dan sangat membantu pemerintah dalam melakukan percepatan dan pemerataan pembangunan di wilayah-wilayah yang tertinggal dan terisolir.

Dan ketika pertama kali Tim Satgas TMMD menjajaki desa tersebut, terlihat dengan jelas wajah lugu orang-orang Kampung Kebon Panjang menyambut hangat kedatangan Tim Satgas TMMD Ke 110 Kodim 0607/Kota Sukabumi. Mereka antusias menyambut kehadiran prajurit TNI ke kampungnya. Tidak hanya itu saja, bahkan mereka juga antusias membantu Satgas TMMD dalam membangun infrastruktur di desanya, antara lain pembangunan jembatan penghubung desa, kemudian pembangunan atau renovasi rumah tidak layak huni milik warga masyarakat sekitar, serta penanaman vertiver atau tanaman cegah longsor.

Untuk jembatan yang saat ini tengah dikerjakan pembangunannya yaitu jembatan penghubung antara Desa Sundawenang dengan Palasari Hilir, sebenarnya jembatan itu memang sudah ada sejak lama, namun dikarenakan kondisi jembatan tersebut yang sudah rapuh dimakan usia, maka jembatan itu kini dapat dikatakan tidak layak lagi dan hanya dapat dilewati oleh kendaraan roda dua saja, itu pun harus dilewati dengan sangat hati hati.Namun walaupun jembatan tersebut dikatakan tua, tetapi hanya itu lah jembatan satu-satunya yang menjadi akses penghubung antara dua desa, maka mau tidak mau selama ini mereka harus tetap melintas walaupun jembatan tersebut sudah tua dan rusak serta membahayakan keselamatan warga.

Jembatan sepanjang 13,4 meter dengan lebar 4,5 meter dibangun dengan semangat gotong royong antara prajurit TNI dan masyarakat sekitar, walaupun ada saja kendala disaat mengerjakannya, namun semuanya dapat dihadapi bersama.

Menurut Komandan Kodim 0607/Kota Sukabumi Letkol Inf Danang Prasetyo Wibowo bahwa target pengerjaan jembatan akan selesai dalam kurun waktu satu bulan, dan menurutnya lagi bahwa jembatan tersebut sebelumnya hanya memiliki lebar satu meter saja.

“Jembatan ini awalnya hanya biasa dilewati satu motor saja, karena memang lebarnya diperkirakan tidak lebih dari satu meter, dan saat ini kita bangun lebih lebar agar biasa dilalui oleh kendaraan roda empat, dan selain itu jalan yang melalui jembatan ini nantinya menjadi akses yang agak longgar dan leluasa apabila berpapasan kendaraan,” tandas Dandim 0607/Kota Sukabumi.

Selain jembatan, ada juga pembangunan Rambat Beton seluas 96,45 M3 dan renovasi rumah warga, sebanyak 20 rumah warga tidak layak huni akhirnya diperbaharui yang dalam pengerjaannya juga berkolaborasi antara TNI dan warga masyarakat.

“Ada 20 Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang kami kerjakan dengan luas bangunan 6 x 5 meter, dan Alhamdulillah sampai hari Sabtu 20 Maret 2021, renovasi Rutilahu sudah mencapai angka 70 sampai 75 %, dan sama halnya dengan pembangunan jembatan, Insya Allah dalam waktu satu bulan dapat diselesaikan sesuai target,” terangnya lagi.

Rumah yang dulunya hanya terbuat dari bilik bambu, kini direnovasi diganti dengan bahan material batako dan semen, artinya renovasi Rutilahu milik warga pastinya akan sangat lebih layak bagi yang menerimanya.

“Kami sangat bersyukur atas kerja keras prajurit TNI yang terus berjibaku ditengah panas terik maupun hujan,” tutur salah seorang pemilik rumah yang mendapatkan bantuan dari program TMMD kepada Brigjen TNI Achmad Fauzi, Danrem 061/Sk saat meninjau langsung pengerjaan pembangunan infrastruktur Desa Sundawenang.

“Saya sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah membantu kami membangun jembatan yang merupakan satu satunya akses tercepat kami untuk menuju desa seberang. Dan saya juga berterima kasih karena rumah saya sudah direnovasi. Saya yakin rumah ini pastinya lebih baik dan bermanfaat setelah diperbaiki, karena tentunya kami akan merasa nyaman berada di rumah setelah seharian kami mencari nafkah diluar rumah,” ungkap Asep, warga Desa Sundawenang.

Dalam kunjungannya ke lokasi TMMD 110 tersebut, Danrem yang didampingi Dandim 0607/Kota Sukabumi, Kapenrem 061/SK Mayor Inf Ermansyah beserta Muspika Kecamatan Parungkuda langsung meninjau beberapa titik lokasi pengerjaan fisik, antara lain pembuatan rambat beton, pelebaran jalan, pembangunan jembatan penghubung, renovasi Rutilahu dan juga pembuatan Posko Covid-19.

Kehadiran Danrem pun disambut dengan pemandangan menarik yakni dimana antara Satgas TMMD saling bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat dengan semangat gotong royong serta kekeluargaan dalam mengerjakan sasaran fisik.

“Ini satu hal yang sangat menarik dan luar biasa, semua terjalin sangat erat. Semangat gotong royong, saling bersinergi dan penuh dengan kekeluargaan benar benar mencerminkan jati diri orang Indonesia sesungguhnya, inilah yang dibutuhkan oleh bangsa ini,” ujar Brigjen Achmad Fauzi, orang nomor satu di Korem 061/Suryakancana yang memang sangat memegang teguh Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ia pun menambahkan, bahwa program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) adalah program yang sangat menyentuh kebutuhan dasar masyarakat dan pastinya sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, pada TMMD ke 110 ini Danrem berharap di tengah masa wabah pandemi global Covid-19, warga masyarakat dan Tim Satgas TMMD juga memperhatikan kesehatan bersama dengan mematuhi protokol kesehatan dengan selalu menerapkan 5 M. Hal tersebut tentunya agar semua warga sekitar tidak terpapar oleh Covid-19 sehingga harapan kita semua pandemi Covid 19 bukan jadi kendala dan penghambat pembangunan Desa Sundawenang.

Selain pelebaran jalan, pembangunan jembatan dan rutilahu, bantuan lain yang diberikan untuk Desa Sundawenang adalah penanaman rumput vetiver atau akar wangi di tebing, tujuan ditanami pohon yang sejenis tersebut yaitu untuk mencegah terjadinya erosi ataupun longsor, karena akar tanaman vetiver dapat memanjang ke dalam tanah mencapai dua hingga empat meter, dan akar tersebut dapat mengikat partikel-partikel tanah, dan juga memiliki batang yang kaku dan keras sehingga ketika ditanam akan tumbuh seperti pagar yang rapat dan mampu menahan aliran air permukaan.

Sistem akar yang rimbun dapat menahan erosi atau longsor karena dapat menahan gempuran aliran air dan menjaga kestabilan tanah, maka dari itu vetiver sering dijadikan sebagai tanaman pagar serta pengendali erosi di daerah rawan longsor vetiver juga memiliki daya tahan terhadap logam berat/salinitas hingga dapat dijadikan media untuk merehabilitasi kondisi fisik dan kimia tanah.

Inilah sebenarnya tujuan utama program TMMD yang dicanangkan oleh TNI sehingga dapat disinergikan dan dikolaborasikan dengan program pembangunan pemerintah daerah, sehingga pemerataan pembangunan dapat terwujud sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk juga memelihara sarana dan prasarana yang telah dibangun secara bersama-sama.

Nenek moyang bangsa Indonesia sejak dahulu kala telah mewariskan jiwa bergotong royong atau saling bersinergi satu dengan yang lainnya. Dan dengan melibatkan masyarakat dalam setiap pelaksanaan kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) itu juga merupakan bentuk semangat gotong royong yang telah diwariskan nenek moyang bangsa Indonesia. Dengan kebersamaan membangun wilayahnya, akan tumbuh rasa memiliki dan kebanggaan untuk selalu menjaga dan merawat apa yang telah dikerjakan bersama.

Selain Pembangunan fisik ada juga sasaran non fisik cukup luar biasa memberikan pengetahuan kepada masyarakat seperti penyuluhan kesehatan, pertanian, ketenagakerjaan, wawasan kebangsaan, penyuluhan pemerintah desa, penyuluhan hukum dan kamtibmas, penyuluhan keagamaan, penyuluhan peternakan dan penularan COVID19. Ada hal yang patut di apresiasi kemampuan prajurit dan masyarakat, mengerjakan non program seperti WC milik masyarakat yang sudah tidak layak akan diperbaiki pada program TMMD ke 110 ini.

Untuk pembangunan non fisik, biasanya akan diberikan penyuluhan kepada warga masyarakat dari petugas yang berwenang. Misalnya terkait kesehatan, penyuluhan akan disampaikan oleh dokter dari puskesmas yang telah bersinergi dengan program TMMD. Dan untuk penyuluhan kesehatan pada giat TMMD ke 110 ini yaitu berkaitan dengan virus corona, yaitu penyuluhan Covid19 yang merupakan sasaran non fisik yang sangat diprioritaskan untuk mengingatkan masyarakat supaya tidak tertular.

Kegiatan penyuluhan ketenagakerjaan tersebut disampaikan oleh Tatang Arifin selaku Kasi Pelayanan Tenaga Kerja Dalam dan Luar Negeri Kab. Sukabumi. Menurutnya bahwa prosedur tenaga kerja di luar negeri saat ini ada pelayanan satu atap, di situ ada beberapa instansi seperti Disdukcapil yaitu untuk mengurus KTP, KK, Akte Lahir calon tenaga kerja, Dinas Imigrasi untuk mengurus pasport, dari asuransi berupa BPJS Jamsostek, Dinas BP2MI Bandung dalam penerbitan kartu kerja diluar negeri dan penanganan kasus yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, serta dari Perbankan juga seperti Bank BNI bekerjasama dengan dinas tenaga kerja agar para pekerja yang bekerja di dalam dan luar negeri bisa menabung di BNI.

Dinas Tenaga Kerja juga memberikan informasi tentang pelatihan keterampilan kerja serta pelatihan kerja yang diadakan di Balai latihan Kerja (BLK) dan juga Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) melayani dan memberikan informasi tentang Prosedur kerja diluar negeri serta persyaratan administrasi agar bisa bekerja diluar negeri serta informasi tentang ketenaga kerjaan lainnya. Masalah ketenagakerjaan kenapa perlu disosialisasikan karena ada beberapa warga setempat sedang berada di Luar Negeri.

Sedangkan Hera selaku Bidan dari Puskesmas Parungkuda yang juga berkesempatan memberikan penyuluhan, menerangkan terkait Stunting, yang mana Stunting adalah kondisi dimana seseorang kekurangan gizi kronis yang cukup lama sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah dari standart usianya. Selain terkait tentang gizi kronis pada Balita, Hera juga menjelaskan terkait dengan Posbindu atau pos pelayanan terpadu yang mana Posbidu adalah tempat untuk pelayanan kesehatan lansia, Lansia yang dimaksud dikaegorikan dimulai sejak umur usia 45thn – 59 thn ( lansia awal/pra lansia ), umur 60thn- 69thn (lansia), dan umur 70 thn keatas (lansia resti). Perkembangan kesehatannya berupa tinggi badan, berat badan, IMT, ukuran tensi darah dan cek lab sederhana, apabila ditemukan gejala penyakit dapat dirujuk ke Puskesmas setempat.

Dan selain itu Hera juga menerangkan PHBS atau perilaku hidup bersih sehat yang mana indikatornya adalah: persalinan linakes, asi eksklusif, imunisasi bayi, bayi balita di timbang, mencuci tangan pakai sabun, aktivitas fisik, tidak merokok di dalam rumah.

Pada TMMD ke 110 Desa Sundawenang masalah penyuluhan kesehatan juga menjadi sangat penting disampaikan karena melihat beberapa temuan kasus kesehatan, masih terabaikan oleh warga setempat.

Di akhir kegiatan penyuluhan kesehatan program TMMD ke 110, tim penyuluh menyarankan agar warga masyarakat tetap Terapkan protokol kesehatan dalam melawan covid 19 dan jangan lupa menerapkan aksi lima M. Memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Sehingga harapan Bapak dan Ibu tercapai semua dalam mensukseskan pembangunan di Desa Sundawenang melalui program TMMD 110 oleh TNI.

*Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 061/SK

Artikel ini telah dibaca 123 kali

Baca Lainnya