Headline

Selasa, 3 Oktober 2017 - 13:59 WIB

3 tahun yang lalu

Molornya Pembangunan TPT 2016 Desa Lebak Tipar

Inspektorat Kecele, Kades Enggan Disalahkan  

TARGET BUSER, LEBAK

Terbengkalainya pembangunan TPT (Tembok Penahan Tanah) TA 2016 di Kampung Dayasari, Desa Lebak Tipar, Kecamatan Cilograng, Lebak kini semakin menguatkan dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan oknum kepala desa setempat.

Penelisikan Target Buser bersama beberapa media setempat, berdasarkan catatan buku tamu milik Desa Lebak Tipar, diketahui kedatangan 5 orang pihak inspektorat Kabupaten Lebak pada Jum’at, 22 Maret 2017 lalu. Ihwal kedatangan inspektorat ini ialah pemeriksaan terhadap pembangunan TPT 2016 di Kampung Dayasari yang belum rampung meski anggaran sudah terealisasi. Inspektorat kala itu mendesak agar pihak Desa Lebak Tipar segera menyelesaikan pembangunan TPT di Kampung Dayasari tersebut.

Namun apa nyatanya, sudah hampir 5 bulan semenjak kedatangan inspektorat, pembangunan TPT masih juga terbengkalai. Dus tanpa pengawasan yang intensif.

Kades Lebak Tipar, M. Hayatul Hasani saat dikonfirmasi membenarkan informasi terbengkalainya pembangunan TPT 2016 di Kampung Dayasari ini. “Pembangunan (TPT 2016-red) tersebut memang belum selesai dikerjakan sampai saat ini,” katanya. Akan tetapi sambung Hayat, hal tersebut dikarenakan adanya suatu alasan yang menurutnya perlu dimaklumi, yang mana tidak adanya material pasir dan batu dari pihak suplayer material, selain itu kondisi jalan juga tidak dapat dilalui mobil, sehingga pembangunan tersebut terhambat. “Itu kan waktu ada pihak inspektoratpun sebelum melakukan pemeriksaan kelokasi saat itu, saya yang inisiatif memberikan informasi terlebih dahulu jika terkait pembangunan TPT 2016-red, di Kampung Dayasari belum selesai. Sehingga, hasil dari pemeriksaan, pihak inspektorat pun memaklumi hal itu, namun inpekstorat meminta kita agar pembangunan tersebut segera diselesaikan,” akunya.

Hayat melanjutkan, Jika berbicara kronologisnya, pada saat itu musim hujan dan saya yang sudah menyiapkan material semen sebanyak 30 sak, akan tetapi material pasir dan batunya belum juga dikirim pihak material, ditambah kondisi jalan yang tidak memadai untuk dilalui mobil pengangkut material. Sehingga semen pun terbengkalai sampai mengeras yang akhirnya semen tersebut diminta oleh warga untuk dialokasikan memperbaikin jalan rusak dulu. “Awalnya saya tolak, karena itukan untuk TPT. Namun daripada material semen tersebut nantinya tidak bisa dipakai sama sekali, akhirnya saya pun mengizinkan untuk dialokasikan keperbaikan jalan rusak. Konsekuensinya material semen yang 30 sak tersebut harus saya ganti lagi,” jelasnya. Bahkan lanjut Hayat, hal itu sudah dikomunikasikan dengan pihak inspektorat lewat pembicaraan telepon, pihak inspektorat juga tidak mempersalahkan hal ini. Namun kalaupun pihak lain mempersalahkan, saya rasa sah-sah saja, karena pada dasarnya kita juga  masing-masing mempunyai sudut pandang yang berbeda. Namun pada intinya tidak ada unsur pembiaran kecuali karena terdapat kendala teknis. “Terkait uang / dana desa tersebut, bukan berati diganggu gitu aja tetapi kita juga tanggungjawab. Buktinyakan sekarang materialnya sudah dikirim lagi, tinggal kesiapan masyarakat yang mengerjakannya,” tukasnya.

Kepala Desa Lebak Tipar pun mengatakan jika pihaknya mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang telah mengapresiasi kegiatan pembangunan ini.

Ketika disinggung terkait pengelolaan pembelanjaan maupun dana kegiatan, Kades Hayat mengakui telah mengelola sendiri. “Saya sendiri yang mengelola pembelanjaannya,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Lebak Tipar, Sudirjo mengatakan jika sumber dana tersebut berasal dari DD. “Dari alokasi biaya tak terduga yang jumlahnya senilai Rp 17juta, termasuk pajak. Adapun kekurangan bangunan itu sudah dilihat oleh inspektorat, bahkan pihak inspektorat pun waktu itu mengatakan kepada lurah, bahwa hal demikian tidak masalah, karena menurut inspektorat tidak dijadikan temuan. Tetapi satu syarat harus segera diselesaikan bangunannya,” tuturnya. Sekdes juga membenarkan alasan yang dikemukakan Kades terkait lambannya pembangunan dan anggaran yang terganggu untuk proyek lain, seperti kondisi medan yang rusak.

Ditempat terisah, Ena Suharna, dari LSM BENTAR mengecam keras pernyataan Kades Lebak Tipar terkait pembangunan TPT 2016 yang molor dengan alasan teknis sementara dananya dialokasikan untuk kegiatan yang lain. “Kami menilai apa yang dikatakan Kepala Desa Lebak Tipar itu tidak mendasar, karena jelas kades diduga telah menyalahgunakan wewenang dan adanya dugaan intervensi terkait pelaksanaan Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD) sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Bupati Lebak Nomor 9 tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa,” tegasnya.

Tidak hanya itu, dengan adanya pengakuan kades terkait terganggunya uang tersebut, tentu sudah jelas bahwa itu patut diduga kuat merupakan suatu pelanggaran hukum yang wajib ditindak tegas, karena itu merupakan suatu tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam jabatan. Ena pun menegaskan sebagaimana yang dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksana Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, dimana dalam Bab XI Pasal 154 terkait Pembinaan dan Pengawasan Desa oleh Camat atau pihak lain lain. Sehingga pihaknya (LSM BENTAR-red) menilai lemahnya pengawasan tersebut yang menjadikan adanya peluang tindak pidana korupsi yang diduga kuat dilakukan Kades Lebak Tipar. “Kami minta pihak penegak hukum dan pihak Kejaksaan Negeri Rangkas Bitung untuk segera mengambil langkah konkrit, dan segera melakukan pemeriksaan terhadap Kepala Desa Lebak Tipar dan pihak-pihak bersangkutan. Selain itu, terkait adanya tunggakan kepada material senilai Rp. 15 juta (TPK Desa Lebak Tipar Tahun 2016-red) diduga adanya indikasi pembuatan nota lunas palsu dalam pembelanjaan material dan atau adanya indikasi dugaan pembuatan LPj fiktif,” tandasnya. (Bendi)

Artikel ini telah dibaca 1256 kali

Jangan Lupa Tanggal 9 Desember 2020, Pilih Pasangan AMAN nomor 1 ( Adjo – Iman )
Baca Lainnya