Menyibak Jejak Kematian Sri Zumaeriyah, Kecelakaan Atau Ada Motif Lain? [Bagian Kesatu]

Karang Pamulang, yang berada sekitar 20 meter di bawah Hotel Bayu Amrta, Palabuhanratu, yang diduga menjadi lokasi terakhir Sri Zumaeriyah mengambil air laut, sebelum ombak besar menyeret tubuhnya hingga meninggal dunia pada Selasa 28 Mei 2024. Sri Zumaeriyah (inzet)

“Tante saya turun duluan ya”. Inilah kira-kira bunyi pesan terakhir Sri Zumaeriyah kepada Ida, sebelum akhirnya ombak ganas Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menerjang dan menggulung tubuhnya, hingga jasad Sri Zumaeriyah (62) ditemukan mengambang tak bernyawa, pada Selasa (28/5/24) pagi.

Ida, yang dipanggil tante oleh Sri, dikenal sebagai ahli pengobatan tradisional yang tinggal di Taman Sari, Palabuhanratu, dan sudah sekian lama menjadi rujukan berobat sekaligus guru spiritual bagi Sri Zumaeriyah. Pada Selasa nahas itu, keduanya memang sama-sama menuju Hotel Bayu Amrta, yang berjarak sekitar 15 menit dari kediaman Ida di Tamansari, tujuannya untuk mengambil air laut dari karang pamulang yang berada di depan Hotel Bayu Amrta, air laut yang khusus diambil dari karang ini konon sebagai terapi alternatif dari Ida untuk pengobatan Sri. Saat itu, keduanya terpisah karena Ida bersama anak perempuannya boncengan mengendarai satu motor, sementara Sri menggunakan jasa ojek.

Bacaan Lainnya
Pohon beringin besar di lingkungan Hotel Bayu Amrta, diduga di bawah pohon inilah Ida bersama anaknya duduk menunggu kedatangan Sri Zumaeriyah (Tbo)

Sekitar pukul 08.03 Wib, atau hanya selisih satu menit dari Ida, Sri yang diantar ojek tiba lebih dulu di Hotel Bayu Amrta. Disinilah kemudian keganjilan terjadi, karena Sri tiba-tiba tergerak turun sendirian tanpa pengawalan, meski pagi itu laut tengah pasang, angin kencang dan ombak tinggi sedang mengganas, apalagi tempat Sri mengambil air laut ini berada curam sekitar 20 an meter tepat di bawah Hotel Bayu Amrta, terdiri dari susunan bebatuan karang besar dan tajam, jalan dari sisi kanan restoran hotel menuju karang pamulang ini juga cukup berbahaya, melewati puluhan anak tangga berkelok licin yang hanya selebar ± 50 cm, rasanya tidak masuk akal orang seusia Sri yang tengah berobat dibiarkan turun sendiri.

Disinilah kemudian muncul dugaan kematian Kepala Bapas Kelas 1 Jakarta Pusat (2013-2017) ini tidak hanya sebatas kecelakaan laut (laka laut) biasa, namun bisa jadi juga karena faktor kelalaian seseorang, sebagaimana bunyi Pasal 359 KUHP “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana kurungan paling lama 1 tahun”. Syak wasangka ini terbit dari rentetan demi rentetan peristiwa kematian Sri, atau terdapat hubungan kausalitas antara tindakan dengan akibat yang ditimbulkan.  

Menurut R. Soesilo (1996), kematian dalam konteks Pasal 359 KUHP tidak dimaksudkan sama sekali oleh pelaku, kematian tersebut hanya merupakan akibat kurang hati-hati atau lalainya terdakwa (delik culpa). Jika kematian itu dikehendaki terdakwa, maka pasal yang pas adalah 338 atau 340 KUHP. Sementara, menurut SR Sianturi (1983), kealpaan pada dasarnya adalah kekuranghati-hatian atau lalai, kurang waspada, semberono, teledor, kurang menggunakan ingatan, khilaf. Sekiranya dia hati-hati, waspada, tertib atau ingat, peristiwa kecelakaan itu tidak akan terjadi atau bisa dicegah.

 

TBOnline, SUKABUMI ¦ Asep, Kepala Restoran Bayu Amrta, adalah orang yang pertama kali melaporkan penemuan jasad Sri Zumaeriyah ke pihak Satpolairud Polres Sukabumi, setelah ia sebelumnya menerima informasi dari seorang tamu hotel.  

“Saat kejadian pagi itu saya menjalankan aktivitas seperti biasa, beberes sambil ngopi dan ngecek ke depan, kebetulan saat itu banyak tamu hotel sedang sarapan, tiba-tiba ada salah seorang tamu lari ke arah saya dan melaporkan ada orang yang meninggal dan mengambang di pantai, awalnya saya pikir itu tamu hotel, setelah melihat ke pantai langsung saja saya melapor ke Polair,” ungkap Asep kepada Tbo dan Sukabumiviral, ketika dijumpai di Hotel Bayu Amrta, Palabuhanratu, Rabu (5/6/24).

Penuturan Asep, Sri Zumaeriyah tiba lebih dulu sekitar pukul 08.03 Wib menggunakan ojek motor, kemudian terlihat ke arah anak tangga menuju karang di bawah hotel. Beberapa saat kemudian, barulah Ida datang bersama anaknya, duduk di bawah pohon beringin tampak seperti menunggu seseorang.

Asep, pengelola restoran di Hotel Bayu Amrta, Palabuhanratu, yang pertama kali melaporkan penemuan jasad manusia ke Polairud Polres Sukabumi (Tbo)

“Kita kan buka CCTV karena permintaan kepolisian, jadi ibu yang meninggal (Sri) terlihat duluan datang pakai gojek sekitar jam 08.03 Wib kalau nggak salah, setelah itu baru masuk Ibu Ida berdua, selang satu menitanlah, berarti kan mungkin dari sana bareng tapi tidak sampai ketemu disini, terus keliatan ibu yang meninggal seperti nelepon seseorang, dan menuju ke bawah (karang), cuma akses CCTV tidak sampai ke karang,” kata Asep.

Ia melanjutkan, saat itu memang air laut sedang tinggi (pasang) sehingga berbahaya jika bepergian ke bawah karang menuju pantai. “Jangankan ibu-ibu saya juga gak berani ke bawah, harusnya di dampingi di usia sakit, bahaya karena ombak lagi gede,” ujarnya. 

Sosok Ida sendiri, menurut Asep, setidaknya sudah dua kali ia lihat berada di sekitar Hotel Bayu Amrta, lewat petugas keamanan (security) hotel, ia mendapat cerita bahwa Ida memang kerap membawa orang (pasien) ke pantai Hotel Bayu Amrta, namun ia tidak terlalu menggubris informasi ini.

Bila ditarik kesimpulan dari keterangan Asep, dari mulai Sri Zumaeriyah tiba pukul 08.03 Wib hingga Asep melaporkan penemuan jasad ke Satpolairud pada pukul 08.20 Wib, maka di saat-saat terakhir di Hotel Bayu Amrta, hidup Sri Zumaeriyah hanya sekitar 15 menit. 

Sementara itu, Kasat Polairud Polres Sukabumi AKP Tenda Sukendar, menjelaskan berdasarkan hasil olah TKP, pulbaket lewat pemeriksaan saksi-saksi, keterangan ahli, visum et repertum, CCTV Hotel Bayu Amrta, pihaknya berkesimpulan penyebab kematian Sri Zumaeriyah adalah kecelakaan laut (laka laut), hal ini pun sudah ia sampaikan kepada pihak keluarga korban.

Kasat Polairud Polres Sukabumi AKP Tenda Sukendar (kedua dari kanan) bersama anggotanya (paling kiri) yang melakukan BAP atas kematian Sri Zumaeriyah, saat dijumpai Tbo dan Sukabumiviral di Kantor Satpolair, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi (Tbo)

“Seperti kronologis yang sudah saya sampaikan sebelumnya, langkah-langkah yang dilakukan sudah sesuai SOP, kita cenderung penyebab kematian korban laka laut. Hal ini pun sudah disampaikan kepada anak korban Asep, keluarganya pun ada telepon dan sudah kami jelaskan, rencananya hari Sabtu (8/6) mau kesini, kita sudah siapkan laporan hasil penyelidikan secara utuh termasuk hasil visum dan lainnya,” kata AKP Tenda, didampingi dua anggotanya yang melakukan BAP kematian Sri Zumaeriyah, di Kantor Satpolairud Polres Sukabumi, Palabuhanratu, Rabu (5/6/24).

Ketika ditanyakan kemungkinan lain yang menjadi penyebab kematian Sri Zumaeriyah, AKP Tenda menyatakan pihaknya terbuka terhadap motif lain.

“Itu hak keluarga silahkan saja, misalkan mau buat aduan ke polres atau kita, jika ada merasa digelapkan barang atau lain hal unsur pidana, jika ada saksi dan bukti pendukung. Hanya kalau yang kita tangani saya berkeyakinan laka laut, karena kita lakukan sudah berdasarkan prosedur penanganan perkara, kalau motif di belakangnya ngambil air dan posisinya bukan dipaksa, kemauan korban juga,” jelasnya.

Kasat Polair juga mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan di kediaman Ida di Tamansari, sebagai prosedur biasa penyidikan, sekaligus melakukan pemeriksaan dan mengamankan barang-barang milik korban.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *