Berita Daerah Nasional

Selasa, 22 September 2020 - 12:58 WIB

4 minggu yang lalu

Menguak Lahan Sengketa di Bakit, Saksi Ungkap Kejanggalan Pihak Sumi

TBOnline [BANGKA BARAT] — Kisruh sengketa lahan di Desa Bakit Kecamatan Parittiga—Kabupaten Bangka Barat, antara Sopian alias Bambang dengan Masyumi alias Sumi, masuk dalam tahap klarifikasi yang mempertemukan kedua belah pihak, Senin (21/9/2020).

Bambang dalam kesempatan ini memboyong 14 saksi, yang sebagian besar merupakan mantan perangkat Desa Bakit, bahkan ada yang masih berstatus aktif.

Sementara Sumi, selaku pihak yang menjual tanah kepada Serly melalui perantara tidak bisa menghadirkan saksi yang bisa menjelaskan obyek sengketa, di lapangan hanya terlihat Amrullah Kadus Bakit.

Selain itu, hadir juga Serly, pihak yang membeli lahan sengketa ini dari Sumi.

Pantauan TBO klarifikasi lapangan ini dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, diatas obyek lahan sengketa, yakni sebidang tanah yang berstatus area penggunaan lain (APL) yang terletak di belakang Lapangan Sepakbola Desa Bakit, Kecamatan Parittiga.

Mantan Kades Bakit, H Izhar Karim alias H Boya, seorang saksi dari pihak Bambang, membenarkan jika Sopian alias Bambang dulu mengelola lahan tersebut.

“Setelah ditarik ukuran luasnya sekitar 100X250 meter persegi,” katanya.

Menurut H. Boya, sekitar tahun 1997 di lahan itu juga masih terdapat pohon kelapa dan pohon pisang yang digarap sendiri oleh Bambang termasuk kolam bekas tambak ikan.

“Ketika itu (tahun 1997) saya menjabat sebagai kades,” tukasnya.

Senada, mantan Kadus Bakit Syaiful, juga mengiyakan penjelasan H. Boya terkait lahan yang dikelola Bambang ini.

“Bambang selama ini dikenal memiliki jiwa sosial tinggi di kalangan masyarakat Desa Bakit. Buktinya secara pribadi ia menghibahkan sejumlah lahan/tanah miliknya untuk pembuatan TPA, PAUD, Puskesdes dan lahan pengelolaan sampah oleh KSM,” jelasnya.

Bambang sendiri menjelaskan, bahwa nama Aidi seperti yang disebutkan pernah menguasai lahan pada tahun 1980, tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Ini sebagai bahan saja, Andi disitu disebutnya menguasai lahan sekitar tahun 1980 an. Sementara katanya disitu Aidi berkebun tahun 1997. Lalu saksi surat itu hanya satu orang saat itu yakni Kadus Amrullah. Sementara Amrullah itu waktu mau buat KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) justru mau beli lahan sama saya. Jadi sebenarnya Amrullah itu tahu itu lahan saya,” ujar Bambang, yang kemudian menjelaskan secara pribadi dirinya justru menghibahkan tanah tersebut untuk pembangunan KSM.

Selain itu terdapat keterangan saksi lain yang menurut Bambang penting untuk diperhatikan, dalam menguak sengketa lahan ini.

“Aidi pernah diminta oleh Pak Sumi agar mengaku itu lahannya Aidi, ia diiming-imingi Pak Sumi Rp3 juta, ternyata hanya diberi Pak Sumi Rp1,5 juta yang ditunjuk itu lahan Pak Sumi. Logikanya kalau itu lahan Pak Sumi kenapa nyuruh Aidi untuk mengaku. Langsung saja bikin surat atas nama Sumi. Mengapa surat ini timbul satu bulan sebelum lahan itu mau dijual,” papar Bambang di hadapan Aidi.

Aidi sendiri mengakui kebenaran lahan Bambang yang berbatasan dengan lahannya.

“Penggarapan lahan pada tahun 1997 pun oleh Pak Bambang, saya tahu karena saya juga mengelola lahan. Saya tahu persis,” kata Aidi.

Lebih lanjut, Aidi mengakui sempat ditawarkan uang sebesar Rp3 juta untuk mengakui bahwa lahan di belakang KSM kepunyaannya.

“Ini permintaan Sumi untuk buat persaksian palsu, tapi karena itikad baik saya membenarkan pernyataan mantan Kades Izhar Karim ini bahwa yang dikelola tepat di atas lah Pak Bambang yang bersebelahan di samping lapangan bola,” imbuhnya.

Sementara Pjs Kades Bakit Rusli saat dikonfirmasi di lapangan kemarin membenarkan pihaknya sudah mencabut penerbitan surat tanah yang telah dibuat atas nama Sumi dengan alasan tidak sesuai dengan dengan titik lokasi seperti yang disebutkan dalam surat. Fani Tamzona

Artikel ini telah dibaca 80 kali

Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A
Baca Lainnya