Headline Laporan Utama

Sunday, 1 September 2019 - 18:14 WIB

3 months yang lalu

Ilustrasi kebiri kimia dan efek sampingnya [Foto: Kumparan]

Ilustrasi kebiri kimia dan efek sampingnya [Foto: Kumparan]

Mengenal Kebiri Kimia, Vonis “Jahanam” si Pedofilia ?

TBOnlione [JAKARTA] – Upaya M. Aris, terdakwa kasus pedofilia di Mojokerto untuk menghindari hukuman tambahan kebiri kimia –sebagaimana putusan incraht PT Surabaya- memang hingga kini masih diperjuangkannya. Ketakutannya menjalani vonis ini terungkap dari niatannya untuk menolak menandatangani putusan, adalagi permohonan keluarga agar Aris dirawat di Rumah Sakit Jiwa [RSJ] hingga rencana upaya hukum Peninjauan Kembali [PK] ke Mahkamah Agung [MA]. Apa dan bagaimana sebenarnya fenomena praktek kebiri kimia ini?

Mengutip dari tirto.id kebiri kimia merupakan tindakan dengan menyuntikkan obat-obatan yang mengandung anafrodisiak yang berfungsi menurunkan hasrat seksual dan libido.

Leuprorelin adalah obat yang sering digunakan dalam kebiri kimia, berfungsi “mengobati” kesulitan mengendalikan gairah seksual, sadisme, atau kecenderungan membahayakan orang lain. Selain itu, ada juga obat medroksiprogesteron asetat, siproteron asetat, dan LHRH yang berfungsi untuk mengurangi testosteron dan estradiol.

Namun efek kebiri kimia ini tak sekadar mengurangi libido, sebab juga menimbulkan efek samping. Obat-obatan seperti medroksiprogesteron asetat, siproteron asetat, dan agonis LHRH, ketika diberikan untuk pengebirian kimia dapat menyebabkan penurunan hormon testosteron dan esterogen secara signifikan, hal ini menyebabkan dorongan seksual menurun secara drastis, tetapi dorongan seksual yang menurun tidak dibarengi dengan kemampuan seseorang untuk berhubungan seks, sehingga pelaku yang dikenai hukuman kebiri kimia masih bisa berhubungan seksual.

Selain itu tidak hanya pada penurunan hormon testosteron, kebiri kimia juga mempengaruhi hormon estrogen yang berperan penting untuk pria. Hormon tersebut memiliki peran pada pertumbuhan tulang, fungsi otak juga jantung dan pembuluh darah. Metabolisme tubuh dan  keseimbangan glukosa juga akan terganggu. Efek langsung yang bisa dirasakan tubuh meliputi perasaan depresi, kemandulan, anemia, disfungsi ereksi hingga efek lainnya berupa tubuh bisa mengalami hot flashes yakni kepanasan hebat yang asal panasnya berasal dari dalam tubuh. Seperti yang diwartakan Science Direct, kebiri kimia bisa menyebabkan ketergantungan secara fungsional dan kematian kepada orang yang lebih tua. Dilansir dari sumber yang sama, sebenarnya kebiri kimia lebih efektif apabila digunakan dalam konteks psikoterapi. Dimata hukum, kebiri kimia masih pro kontra diantara perawatan dan hukuman, permasalahan ini masih bertentangan dengan etika medis hingga saat ini.

Di Amerika Serikat, Kanada, dan sebagian negara Eropa menggunakan medroxyprogesterone acetate dan cyproterone acetate untuk mengurangi fantasi seksual dan impuls seksual kepada pelaku kejahatan seksual.

Kebiri kimia bahkan sempat menjadi perbincangan sensasional saat Michael Jackson diduga dikebiri oleh ayahnya, Joe Jackson, demi mempertahankan suara bernada tinggi.

Kabar tersebut disampaikan oleh dokter pribadi Jackson, Conrad Murray. Dokter tersebut membuat klaim dalam sebuah wawancara menyusul kematian Joe. Menanggapi benar atau tidaknya klaim tersebut, Prince Jackson yang merupakan putra dari Michael Jackson mengunggah video di Instagram dan melakukan pembelaan. Prince memberi tahu pengikutnya bahwa tindakan Joe selalu dianggap baik oleh anak-anaknya. Bila tidak, mungkin anak-anaknya akan menjadi anak geng berandal.

Untuk Asia sendiri, Korea Selatan merupakan negara pertama yang memperkenalkan kebiri kimia pada pelaku kejahatan seksual. Di negara tersebut hukuman ini sudah ditetapkan undang-undang, yang menyatakan pelaku kejahatan yang berusia kurang dari 16 tahun akan dikenai kebiri kimia.

Negara Yang Menerapkan Kebiri Kimia

Untuk pertama kalinya di Indonesia, hukuman itu dijatuhkan kepada terdakwa kasus pemerkosaan 9 anak. Dikutip dari situs reqnews.com, hukuman kebiri kimia ini juga telah diterapkan oleh sejumlah negara diantaranya sebagai berikut.

  1. Inggris – Inggris telah menerapkan hukuman kebiri dengan menyuntikkan zat kimia sejak tahun 1950-an. Hukuman ini diberlakukan pertama kali kepada seorang peneliti matematika dan komputer pada tahun 1952 karena perilaku sebagai homoseksual.
  2. Amerika Serikat – California adalah negara bagian Amerika Serikat pertama yang memberlakukan hukuman kebiri kimia pada 1996. Hukuman ini diterapkan kepada pelaku kejahatan seksual terhadap anak di bawah 12 tahun. Kemudian diikuti oleh beberapa negara bagian lainnya, yakni Georgia, Iowa, Lousiana, Montana, Oregon, Texas, Wisconsin.
  3. Polandia – Di Polandia telah menerapkan hukum kebiri menjadi hukuman wajib terutama kepada pelaku kasus kejahatan seksual khusus terhadap anak di bawah 15 tahun. Hukuman ini telah diperkenalkan Polandia sejak tahun 2009.
  4. Maldova – Undang-undang yang menerapkan hukuman kebiri di Moldova berlaku sejak Juli 2012. Hukuman ini sebagai hukum wajib yang diberlakukan kepada pelaku kejahatan seksual terhadap anak di bawah 15 tahun.
  5. Israel – Israel telah memberlakukan hukuman kebiri kepada pelaku kejahatan seksual pada Mei 2009.
  6. Argentina – Hukuman kebiri di Argentina diberlakukan tahun 2010 di Provinsi Mendoza. Saat itu, sebanyak 11 terpidana kasus pemerkosaan menjalani hukuman kebiri dengan disuntikkan zat kimiawi.
  7. Australia – Pelaku kejahatan seksual anak di bawah umur di Queensland, Australia dihukum kebiri pertama kalinya pada tahun 2010.
  8. Korea Selatan – Korea Selatan menjadi negara Asia pertama yang menerapkan hukum kebiri kimia untuk pelaku kejahatan seksual yang diterapkan tahun 2011. Hukuman ini diberlakukan kepada pelaku yang berusia di atas 19 tahun.
  9. Rusia – Pada Oktober 2011, parlemen Rusia mengizinkan hukum kebiri dengan menyuntikkan zat kimia kepada pelaku kejahatan seksual anak di bawah usia 14 tahun.
  10. Jerman – Jerman menjadi negara Eropa mempunyai aturan mengenai hukuman kebiri di tahun 2012. Namun, Komite Anti Penyiksaan Uni Eropa mendesak agar hukuman ini ditinjau ulang.  Redaksi *** [disunting dari berbagai sumber]

 

Artikel ini telah dibaca 233 kali

Baca Lainnya