Lelaku Para Mafia di Kepulauan Singkep Lingga, Bau Busuk Timah Ilegal dan Solar Subsidi

TBOnline, LINGGA ¦ Singkep Barat, kota kecamatan hasil pemekaran Kepulauan Singkep di Kabupaten Dabo Lingga, Kepulauan Riau, sebuah wilayah yang masyhur dengan cadangan timah cukup besar setelah Kepulauan Bangka Belitung, kini mengalami krisis ekologi akibat eksploitasi pertambangan timah ilegal yang kembali marak, bahkan kegiatan ini dilakukan di dalam hutan lindung (konservasi). Tragisnya, alat berat yang beraktivitas di tambang terlarang Singkep ini juga diduga menggunakan BBM jenis solar subsidi, yang didapat dengan “mencuri” alokasi BBM untuk para nelayan dan masyarakat kecil. Penelusuran Tim Tbo dan Ulasanfakta, aktivitas tambang timah ilegal ini terdapat di Desa Sungai Raya dan Sungai Harapan, kedua desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan Singkep Barat. Di Sungai Raya, bahkan terdapat gudang timah sekaligus tempat penggorengan bijih timah yang baru didirikan para kolektor atau penampung timah ilegal, di sebelah kanan pintu masuk gudang ini, terlihat tangki-tangki berkapasitas 5000 an liter yang diduga digunakan untuk menampung solar subsidi.

“Dari sini nantinya timah akan dibawa melalui jalur laut oleh kapal kayu menuju Pelabuhan Bintan, kemudian dijual ke sebuah perusahaan produsen timah yang berada di Kecamatan Batu Aji, Kota Batam,” ungkap sumber yang minta namanya dirahasiakan karena menyangkut keamanan dirinya, Sabtu (25/5/2024).

Bacaan Lainnya

Otak dibalik aktivitas tambang timah ilegal di Singkep Barat, menurut sumber ini adalah Bos Ang, warga Bangka Belitung, yang juga pemilik gudang timah di Sungai Raya. Ang jugalah yang memboyong banyak orang-orang yang berasal dari Pulau Bangka untuk bekerja di lokasi-lokasi tambang di Singkep. Nama Bos Ang juga dikait-kaitkan dengan peristiwa penyelundupan sekitar 90 an ton timah yang loading di Pelabuhan Kampa, Jebus, Kabupaten Bangka Barat, pada Februari 2024 lalu. Bersama Ang, ada oknum aparat berinisial GN, yang bertugas mengawal dan mengamankan aksi penyelundupan timah ini.“Dari hulu sampai hilir aktivitas tambang timah ilegal di Singkep Barat ini, ada yang menambang, mengangkut sampai menampung hasilnya. Jadi semua sudah terkoordinir, melibatkan banyak pihak bahkan oknum aparat dan PNS. Yang tersisa, hanya lubang-lubang besar yang mati karena tidak direhabilitasi paska penambangan,” ungkap sumber.

Lain tambang, lain pula BBM. Untuk solar, tambang ilegal di Singkep ini mendapatkannya dari sebuah SPBU di Lingga, dengan harga miring, terpenting keamanannya terjaga. Yang bermain dalam distribusi solar subsidi untuk tambang ilegal ini diduga adalah seorang pegawai (PNS) yang bekerja di dinas pendapatan dan keuangan Pemkab Lingga, oknum berinisial IW ini mendapatkan jatah sebesar Rp2 ribu per liter solar yang dijual ke penambang liar di Singkep. “Dari IW lalu solar dibawa ke pengepul kemudian di jual ke pengusaha tambang timah ilegal di Lingga Dabo. Dia (IWN, red) mengambil Rp2000 per liter, dari harga belasan ribu yang dijual ke penambang, sementara dibeli dari SPBU hanya dengan harga Rp6.800 per liter nya. Satu bulan saja bisa 40 ton solar subsidi yang dijual ke penambang timah ilegal,” ungkap sumber ini.

Hingga berita ini di publish, Tim Tbo dan Ulasanfakta masih terus berupaya mendapatkan tanggapan dari pihak Kejaksaan Agung, terkait aktivitas tambang timah ilegal dan upaya memberantasnya. Karena diketahui beberapa tahun lalu aktivitas ini sempat muncul ke permukaan, bahkan saat itu Polda Kepri menangkap 5 cukong atau pemodal tambang timah ilegal di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga ini. Selain itu, tim juga mencoba menggali informasi dari pihak Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, soal aktivitas tambang yang masuk dalam wilayah hutan lindung. bersambung / [Tim]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *