Jangan Lupa Tanggal 9 Desember 2020 Coblos Nomor 1 Adjo Sardjono – Iman Adinugraha

Hukum Nasional

Minggu, 3 Mei 2020 - 22:57 WIB

7 bulan yang lalu

ILUSTRASI - Pihak kepolisian melakukan konferensi pers pengungkapan kasus mafia tanah [foto; mediapurnapolri]

ILUSTRASI - Pihak kepolisian melakukan konferensi pers pengungkapan kasus mafia tanah [foto; mediapurnapolri]

Lelaku Mafia di Tanah Sengketa Kemang [bagian kesatu]

TBOnline [BOGOR] — Sengketa tanah yang terletak di Kampung Kiara, Desa Kemang, Kecamatan Kemang-Bogor, diduga sarat manipulasi. Bak benang kusut, para mafia tanah yang diduga ikut bermain dalam perkara ini piawai melakukan manipulasi fakta dan data. Kemunculan pelbagai surat dan dokumen baru yang dijadikan alas hak atas tanah semakin membuat proses penyelesaian perkara ini berlarut-larut dan memakan waktu lama.

Dalam pemberitaan TBO sebelumnya, proses mediasi antara pihak Imung dan Irsan Nasution —dua pihak yang bersengketa— yang dilaksanakan di Kantor Desa Kemang, Jumat [24/01/2020] menemui jalan buntu [deadlock]. Kedua pihak pun kala itu sepakat menempuh jalur hukum [pengadilan].

Kuasa Hukum Rasmi Hasibuan SH. MH. bersama Ketua PWRI Kab Bogor, Rochmat Slamet SH. Mkn [foto: pencus hutabarat]

Dalam prosesnya, berhembus kabar bahwa Rasmi Hasibuan kuasa hukum pihak Imung, melaporkan beberapa pihak yang mengaku-ngaku maupun menduduki tanah yang diklaim Imung sebagai tanah waris miliknya, terlapor antara lain: Irsan Nasution, Pihak Indomaret, Ibu Aam, Ibu Ana dan Jaenudin. Kabarnya laporan bernomor: 06/KH-RHP/P/1/2020 ini tengah diselidiki Unit IV Satreskrim Polres Bogor.

Imung diketahui merupakan ahli waris dari Saih Eran, orang tuanya yang memiliki lahan seluas ± 3300 M2, bukti ini berdasarkan Persil 69a DII,113 DII,67 DIII,22 DIV, Kohir 455/1308 A/N Saih Eran, sejak tahun 1960.

Sementara, masuknya klaim Irsan Nasution atas tanah tersebut ialah AJB Nomor: 504/2015, yang tercantum dalam Girik C Nomor: 267/813, Persil :66.S.III A/N Mariah Djaiman seluas 342 M2 [termasuk Toko Fadillah 2]. Dalam keterangan Imung, toko tersebut juga berdiri di atas tanah milik nya.

Menurut Keterangan Kades Entang dirinya menerbitkan AJB Irsan Nasution berdasarkan AJB No:108/SPK/1995. Katanya, AJB yang lama di proses waktu kantor kecamatan masih di Semplak. “Sesuai yang tercatat di surat, SPK adalah singkatan dari Semplak,” imbuhnya.

Bukti girik yang dimiliki ahli waris Imung [foto; Hutabarat]

Selain itu Entang juga mengemukakan catatan jual beli. Pertama, Tanggal 24 September 1960 A/N Mariah Djaiman. Kedua, Tanggal 29 Juni 1995 beralih kepemilikan Imung bin Saih [berdasarkan segel keterangan waris]. Ketiga, Tanggal 20 Oktober 1995 beralih kepemilikan Sarjoko. “Adapun Irsan Nasution membeli dari Niken Hapsari, yang beralamat di RT06/RW03, Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, sebagai ahli waris dari almarhum Sardjoko,” katanya.

Keterangan kematian ini, lanjut Entang, diterbitkan Kantor Desa kemang yang di tandatanganinya. “Bukti lain ialah dokumen berupa keterangan riwayat tanah, pernyataan tidak sengketa dan letter C desa,” sebutnya.

Beberapa waktu lalu Target Buser sempat menelusuri alamat yang dicatat Entang, namun keterangan yang diperoleh dari beberapa warga dan juga keluarga Imung yang berdomisili sesuai alamat dimaksud, mereka tidak mengenal dan juga tidak pernah mengetahui nama tersebut.

Lebih jauh, saat diklarifikasi ke salah seorang mantan pegawai Kecamatan Semplak yang kini bertugas di Pemkab Bogor ihwal AJB Nomor:108/SPK/1995 yang diproses di Kecamatan Semplak, pegawai yang minta namanya tidak disebut ini mengungkapkan bahwa kepindahan kecamatan tersebut terjadi sejak tahun 1993. “Tahun 1993 Kecamatan Semplak sudah pindah Ke Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Jadi kalau AJB tersebut di proses di Kecamatan Semplak itu mustahil,”, jelas nya.

Girik Baru Buat Ragu

H. Entang. Kades Kemang, Kecamatan Kemang, Kab. Bogor [foto: pencus hutabarat]

Kejanggalan demi kejanggalan terkait sengketa tanah ini kembali tersingkap, terlebih setelah undangan mediasi ke 2 [dua] yang diinisiasi pihak Desa Kemang kepada Imung dan terlapor Ibu Ina.

Menurut Imung mediasi ke 2 [dua] pada 29 Maret 2020 di Aula Desa Kemang ini, bermula dari kekecewaannya terhadap Ibu Ina, yang menghadiri undangan dari Ketua RT01/RW05 pada Sabtu malam, 08 Februari 2020. “Rapat ini diadakan di kediaman Bapak Sanip Setiawan, Ketua RT01. Saya dapat undangan ini dari warga yang hadir pada saat musyawarah. Kala itu rapat dihadiri Irsan Nasution di dampingi kuasa hukumnya Selvyana. Kabarnya pihak Irsan Nasution meminta tandatangan dari warga termasuk Ibu Ina dan memberikan amplop berisi uang,” katanya.

Menurut Imung, ia kecewa lantaran Ibu Ina mendirikan bangunan dan rumah di tanah orang tuanya Saih Eran selama 50 tahun, yang telah dikontrakan sebagian dan dijual ke pihak lain. “Ina masih sanggup mengkhianati amanah orang tua saya, yang dulu mengizinkannya mendirikan 1 rumah di lahan tersebut, namun memberikan keterangan palsu yang menguntungkan pihak Irsan Nasution melalui musyawarah di kediaman Ketua RT01/RW05, Kp. Kiara, Desa Kemang. Dengan berbagai pertimbangan dan masih ada ikatan keluarga, akhirnya saya melalui kuasa hukum Rasmi Hasibuan mengizinkan di buat surat keterangan hibah seluas 150 M2 ke Ibu Ina,” katanya.

Girik terbaru yang ditunjukan Kades Entang [foto; hutabarat]

Sebagai tindaklanjut, Rasmi Hasibuan kemudian meminta pihak desa agar memproses surat hibah yang telah disepakati keluarga Imung ini. Setelah surat selesai di petik dan dikroscek Rasmi, staf desa atas instruksi Kades Kemang menyerahkan surat hibah tersebut agar ditandatangani Ina. Namun belakangan Ina enggan menandatangani dengan alasan menolak pemberian pihak Imung yang hanya 150 M2.

Buntu, akhirnya pada 29 Juni 2020 Kades Entang melakukan mediasi dengan mengundang pihak Imung dan Ina untuk menyelesaikan proses hibah di Aula Desa Kemang, disaksikan pihak RT dan RW, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan staf desa. Namun alih-alih menyelesaikan proses hibah, dalam mediasi ini Kades Entang justru menunjukan girik bernomor: 67.D.III dan Nomor: 69a.D.II A/N Usah bin Usin. Girik inilah yang menjadi pembuka untuk Ina mendapatkan tanah seluas 350 M2, lebih luas dari hibah yang disepakati sebelumnya yang hanya 150 M2.

TBO berkesempatan mengikuti Rasmi Hasibuan untuk mengklarifikasi kemunculan girik baru ini ke Kades Entang pada Jum’at 1 Mei 2020 di kediamannya.

Ketika ditanyakan keabsahan girik ini, Kades Entang membentak dan meminta TBO agar tidak merekam pembicaraan. Entang hanya menjelaskan bahwa mediasi terkait hibah sebelumnya menemui jalan buntu, karena Ina belakangan memiliki girik atas nama Usah bin Usin, sehingga berhak atas tanah seluas 350 M2. “Setelah kita cari, akhirnya ketemu juga girik ini,” kilahnya.

Selanjutnya, keputusan akhir berada ditangan pihak kepolisian dalam hal ini Satreskrim Polres Bogor, untuk membuka dengan sejelas-jelasnya perkara tanah ini, sesuai instruksi Kapolri untuk memberantas mafia tanah. Semoga. redaksi

Artikel ini telah dibaca 2920 kali

Jangan Lupa Tanggal 9 Desember 2020, Pilih Pasangan AMAN nomor 1 ( Adjo – Iman )
Baca Lainnya