Ketua IPW Sebut Kode Etik dan Keahlian, Demi Keadilan Kasus Pegi Setiawan

Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso (foto : kompas)

TBOnline, JAKARTA ¦ Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso, buka suara terkait proses keadilan bagi Pegi Setiawan, tersangka dalam kasus Vina Cirebon. Menurutnya, terdapat dua pendekatan untuk memberikan keadilan bagi Pegi, yaitu tata kode etik dan keahlian.

“Dari segi tata kode etik disebutkan bahwa kepolisian tidak boleh mengasingkan Pegi Setiawan dari kunjungan keluarga dan kuasa hukum. Selain itu, tidak boleh ada penyesatan mengenai pengacara yang tiba-tiba muncul dengan surat kuasa di luar pengacara Pegi saat ini, karena hak-hak Pegi Setiawan dalam proses hukum ini juga harus diberikan tanpa terlewat. Kemudian, dari segi keahlian yaitu kepolisian harus melakukan scientific crime investigation dimana peran Pegi Setiawan saat ini tidak bisa hanya dibuktikan dengan keterangan saksi melainkan harus ada keilmuan lain. Scientific crime investigation harus dilakukan karena sudah di sorot, maka peran Pegi tidak bisa sekedar keterangan saksi harus ada keilmuan lain,” ungkap Sugeng, dikutip dari ayobandung.com, Jum’at (7/6/24). 

Bacaan Lainnya

Sekedar informasi, saat ini bukti-bukti untuk meyakinkan bahwa Pegi Setiawan merupakan pelaku dinilai belum cukup karena hanya mengandalkan saksi-saksi semata, sehingga scientific crime investigation dinilai dapat menjadi bukti konkrit yang tak dapat dibantah walaupun pihak luar mengatakan sebaliknya.

“Masyarakat juga semoga tak mudah termakan berita yang tak dapat dipastikan kebenarannya, karena akan menyulitkan proses penyidikan,” kata Ketua IPW.

Pegi Setiawan saat ditangkap polisi, diduga terlibat dalam kasus Vina Cirebon (dtk)

Diketahui, polisi menangkap Pegi Setiawan pada Rabu (22/5/24) di Bandung, Jawa Barat. Ia ditangkap karena diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Vina dan kekasihnya Muhammad Rizky, yang terjadi di Jembatan Layang Talun, Kabupaten Cirebon, 27 Agustus 2016. 

Dari penyelidikan, Polres Cirebon Kota meringkus delapan pelaku dan membawanya ke meja hijau. Tujuh pelaku di antaranya divonis penjara seumur hidup, antara lain Jaya, Supriyanto, Eka Sandi, Hadi Saputra, Eko Ramadhani, Sudirman, dan Rivaldi Aditya Wardana. Adapun seorang lainnya, Saka Tatal, dihukum 8 tahun penjara dan bebas pada 2020.

Polisi juga menetapkan tiga orang ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Mereka adalah Pegi alias Perong (30), Dani (28), dan Andi (31). Alamat terakhir mereka tercatat di Desa Banjarwangunan, Mundu, Cirebon. Setelah delapan tahun, polisi menangkap Pegi Setiawan yang diduga sebagai Pegi alias Perong. Penangkapan itu juga hanya sekitar dua pekan dari penayangan film Vina: Sebelum 7 Hari yang sempat viral di media sosial dan media massa.

Akan tetapi, sejumlah pihak menanyakan keaslian pelaku. Apalagi, Pegi yang bekerja sebagai buruh bangunan berusia 27 tahun, bukan 30 tahun seperti rilis polisi. Ia juga warga Desa Kepongpongan, Kecamatan Talun, tidak pernah tinggal di Banjarwangunan. Belakangan, polisi menghilangkan status dua DPO lainnya karena alasan fiktif.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *