Headline Nasional Oase

Senin, 15 Januari 2018 - 19:48 WIB

3 tahun yang lalu

Jurnalis Sejuta Ranjau (Catatan Dibalik Persekusi Wartawan dan LSM di Banten)

Ilham Akbar Rao (Pimpinan Redaksi Target Buser)

Salam Kebebasan Pers !!!

Saya mengawali persamuhan ini dengan kebanggaan bahwa pers di Indonesia hingga kini masih bernostalgia dengan kelonggaran bertanya, berfikir sekaligus menentukan cerita dalam segala macam peristiwa. Terlebih, terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Hari Kebebasan Pers Dunia (WPFD) pada 2017 lalu, menjadi bukti persepsi internasional bahwa dunia informasi sekaligus dialektik di Indonesia berkelindan sesuai teks demokrasi.

Namun kepercayaan diri saya yang memilih jalan hidup sebagai wartawan seketika tumbang, ketika Sabtu malam (13/1) kemarin sekira pukul 20.00 WIB, saya menerima kabar bahwa wartawan saya, Alfian atau yang sehari-hari kami sapa Alex bersama 3 orang rekannya diamankan anggota Polsek Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten setelah sebelumnya mendapatkan persekusi oknum warga Kampung Sindang Kasih, Desa Terate, atas dugaan melakukan pemerasan. Seketika itu, untuk mengkonfirmasi kebenaran ini saya pun segera mengontak nomor Alex. Terdengar nada panggil, namun meski beberapa kali saya hubungi Alex belum juga menjamah panggilan saya. Karena penasaran, saya coba menghubungi beberapa kolega di Banten menanyakan informasi ini. Namun hasilnya nol besar. Dihinggapi beragam tanya, dipertengahan malam itu, saya pun meminta agar wartawan Target Buser di Banten coba mendatangi Polsek Kramatwatu demi mendapat informasi bernas.
Syukurlah, keesokan harinya, Minggu (14/1) saya mendapat kabar bahwa Alex sudah pulang pukul 02.00 tadi, meski dalam kondisi yang sangat kelelahan.
Sayangnya hingga Minggu sore Alex belum juga bisa dihubungi terkait kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Pukul 07.58 Wib saya menghubungi Kanit Reskrim Polsek Kramatwatu, Iptu Tatang. Pembicaraan dengan Kanit Tatang ini perlu upaya ekstra, karena suara yang saya dapat di ponsel sangat buruk, entah apa karena kita sama-sama mengeraskan suara ponsel dan saya merekam pembicaraan sehingga bunyi yang dihasilkan menjadi tidak karu-karuan. Yang saya tangkap, Iptu Tatang hanya menjelaskan pihaknya mengamankan 4 orang tersebut dari amuk warga, kemudian melimpahkan kasus tersebut ke Mapolres Cilegon. Sedangkan dugaan pokoknya, menurut Kanit tidak terjadi pemerasan. Kedua belah pihak bahkan urung saling melapor dan memilih jalan damai. Tidak lupa saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi mendalam atas tindakan sigap aparat Polsek Kramatwatu, Serang, Banten mengamankan korban dari upaya main hakim warga.
Selesai dengan Kanit, akhirnya Alex dapat saya hubungi. Saya mengawali dengan memberikan support dan menguatkan dirinya bahwa apa yang dialami merupakan resiko tugas sebagai wartawan. Perlahan kemudian saya meminta Alex agar menceritakan kejadian sesungguhnya. Meski berbicara dalam kondisi sangat payah dan terbata-bata, ia mengakui bahwa pada Sabtu (13/1) bersama 3 orang rekannya mendatangi Astati, seorang pengusaha LPG di Karang Tengah, Kedaleman, Kota Cilegon – Banten. Karena Astati tidak ada, kemudian orang dekatnya, Apendi memberikan transport Rp 300 ribu.
Dalam perjalanannya kemudian, keempatnya mendapati Rosai, penjual gas LPG 3 kg yang dicurigai menjual tabung gas subsidi diatas harga pasaran yang ditetapkan pemerintah. Nahas bagi keempatnya, Rosai yang mengaku merasa “terancam” kemudian menghubungi Suherman, sohibnya sesama penjual tabung gas, yang datang seperti mengkoordinir puluhan warga Kampung Sindangkasih, Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Nah disinilah terjadi kondisi yang mengebiri tugas aparat penegak hukum di Indonesia, karena seketika itu para warga melakukan pemukulan terhadap keempatnya. Dus, peradilan jalananan pun terdedah bersama luapan emosi massa yang ditingkahi provokator (homo homini lupus).
20 menit percakapan saya dengan Alex, dan ketika ia mulai terengap, saya buru-buru menyudahi pembicaraan dan memintanya istirahat total malam itu.
Tak lama, dilayar ponsel saya sudah muncul puluhan pemberitahuan terkait link berita melalui layanan whatsaap. Saya pun mengunduh satu persatu situs berita online termasuk dalam format video yang menampilkan pemberitaan terkait persekusi yang dilakukan oknum warga Kampung Sindangkasih kepada Alex dan ketiga rekannya ini. Rupanya syahwat kawan-kawan wartawan dalam memberitakan kasus persekusi ini sedang kencang-kencangnya, sehingga tidak lagi mengindahkan kode etik maupun informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, entah karena memang niatannya untuk mempermalukan saudaranya sendiri, sehingga judul tulisan dan isi pemberitaan terkait persekusi ini sangat bias dan banyak yang justru menghakimi atau dalam istilah media kita sebut trial by the press. Saya mencoba menerka, mungkin di fase industri dan bisnis pers yang makin menggeliat kini terjadi persaingan kencang antar sesama perusahaan media massa, saling menjatuhkan pun kini dianggap lumrah. Sedangkan Target Buser mencoba idealis dengan “mengharamkan” pemberitaan terkait wartawan yang menjadi korban kriminalisasi berupa dugaan pemerasan, kecuali benar-benar langsung dari sumber pertama.
Tulisan ini saya buat sebagai ungkapan kekecewaan terhadap arogansi beberapa oknum warga Kampung Sindangkasih yang bertindak secara melawan hukum dengan melakukan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap keempat orang sahabat saya yang tengah melakukan investigasi terkait dugaan penyalahgunaan distribusi gas LPG 3 kg berupa permainan harga yang dilakukan oknum pengusaha (pihak kepolisian wajib mendalami informasi ini). Ada ungkapan bahwa hukum harus ditegakkan meski langit akan runtuh, untuk itu upaya hukum akan kita jalankan demi mendapatkan keadilan.
Kepada rekan-rekan saya, Alfian S Rukamana atau Alex dari Target Buser, Supriadi dari Detektif Banten, Yoko Neka Putra dari LSM GERAM Banten dan Samsul Arif Hadi dari LSM GEMA Banten – KAMI AKAN SELALU MENDUKUNG ANDA.

(Pemred Tabloid Target Buser dan Portal Berita : www.targetbuser.co.id )

Artikel ini telah dibaca 1977 kali

Jangan Lupa Tanggal 9 Desember 2020, Pilih Pasangan AMAN nomor 1 ( Adjo – Iman )
Baca Lainnya