Nasional Oase

Selasa, 7 Juli 2020 - 14:10 WIB

3 bulan yang lalu

Ibadah Haji, Monopoli Menag dan Kewajiban Muslim Merubah Kemungkaran

Oleh : H Dudung Badrun*

Sebagai seorang mu’min tentu kita menyadari bahwa takdir Allah SWT baik dan buruk adalah bagian tak terpisahkan dari rukun iman, namun bukan berarti menafikan ikhtiyar, karena jika perintah Allah SWT dan rosul nya yang menjadikan jatuhnya takdir tidak dilaksanakan, maka kita khawatir masuk kategori kelompok dzhalim.

Adapun hal-hal yang berhubungan dengan interaksi sosial [hablumminannas] yaitu terkait kemasyarakatan dan kenegaraan, semisal  proses perjalanan dari daerah sampai ke tanah haram, sesuai isyarat Alquran “Walillahi ‘alannasi hijjul baiti manistata’a ilaihi sabila.” [QS. Ali Imran: 97]. Istitha’a mencakup kemampuan biaya, sehat jasmani dan rohani, aman dalam perjalanan dan memiliki bekal ilmu manasik. Karena beratnya ibadah yang dilakukan, maka haji juga disebut dengan jihad maksudnya diperlukan kesungguhan dari setiap orang yang berhaji.

Kenyataannya negara mengambil over [monopoli] semua perkara perjalanan dari daerah asal ke tanah harom dan kembali ke daerah asal, dengan legalitas UU Nomor 8 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh [PIHU]. Undang-undang tersebut memberikan kewenangan atau mandatori kepada Menteri Agama dengan kewenangan yang luas bahkan menjadikan DPR, DPD, BPK dalam sub sistem kendali Menteri Agama.

Oleh karena itu Menteri Agama faktual mengumumkan tahun 1441 H bahwa tidak memberangkatkan jamaah haji Indonesia dengan alasan wabah Covid -19, akibatnya DPR dan DPD atas pengumuman tersebut tidak berdaya dan tidak dapat mengkoreksinya.

Pertanyaannya adalah bagaimana implementasi atas : Pertama, Q.S. Arro’du: 11 “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya”. Kedua, hadist riwayat Bukhori Muslim dalam kitab Arbain Imam Nawawi yaitu; Apabila melihat kemungkaran rubahlah dengan kekuasaan, jika tidak mampu dengan lisan dan jika tidak mampu dengan hati, yang merubah dengan hati termasuk lemah iman.

Untuk itu jawabannya ada dalam diri kita masing-masing, seraya berdoa semoga kita tidak termasuk lemah iman [lemin] dan selalu dalam doa “Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz-hadaitana wa hablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab.” Aamiin Ya Mujibassailin.

*Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fataa, Segeran Kidul, Juntinyuat-Indramayu

Artikel ini telah dibaca 409 kali

Baca Lainnya