Menurut gubernur, dalam eksport ini PT Budi Agri Sejahtera [BAS] berkerjasama dengan Perusahaan Samsung FIF. “Ke depan kita berikan tugas komiditi cangkang ini dapat di eksport dalam bentuk briket agar dapat nilai tambah lagi kedepannya,” katanya.

Kegiatan Eksport cangkang kelapa sawit ke Jepang oleh PT BAS [foto; Andi Belinyu]

Gubernur Babel berharap adanya pengolahan cangkang menjadi briket ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Bangka. “Nantinya dapat diberdayakan sebagai tenaga kerja oleh perusahan tersebut, sehingga menjadi peningkatan ekonomi secara langsung yang berkontribusi positif kepada masyarakat di sekitaran Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu,” lanjut Erzaldi.Gubernur juga menambahkan eksport perdana ini menjadi stimulus bagi eksport lainnya. “Dengan dikembangkannya kapasitas pelabuhan tentunya akan ada peningkatan eksport lainnya yang menggunakan Pelabuhan Belinyu,” imbuhnya.

berikut video aktivitas eksport perdana cangkang kelapa sawit [Palm Kernel Shell] oleh PT BAS ke Jepang :

Keyakinan PT BAS ‘Kita Bisa’

Manager Operasional PT BAS, Yudi, mengemukakan Palm Kernel Shell [PKS] merupakan turunan dari pengolahan buah tandan segar buah sawit [cangkang sawit]. “Palm Kernel Shell ini sekian persen bisa dipakai sebagai bahan baku pembangkit listrik, karena daya panas nya hampir sama dengan batu bara dan sisanya bisa di eksport. Kebetulan saat ini PT. BAS yang keberadaan pabrik nya ada di Desa Riding Panjang, Kecamatan Belinyu-Kabupaten Bangka mendapatkan kontrak penjualan Palm Kernel Shell ke negara Jepang melalui suplayer mereka di Korea,” ulas Yudi.

Kegiatan eksport Cangka Kelapa Sawit PT BAS di Pelabuhan Tanjung Gudang, Belinyu [foto; Andi Belinyu]

Bahan baku Palm Kernel Shell, lanjut Yudi, sementara di dapat dari pabrik perkebunan sawit di Pulau Bangka. “Sementara kita diberi alokasi 30.000 ton pertahun. Sebenarnya ini merupakan angka kecil, namun kita coba dengan asumsi setiap pengiriman, karena fasilitas pelabuhan kita belum begitu baik, baik dari segi kedalaman alur dan fasilitas yang ada, sehingga kita berupaya mencari letak pelabuhan yang secara geografis mampu melayani eksport Palm Kernel Shell ini. Salah satunya kita pilih Pelabuhan Tanjung Gudang yang berada di Kecamatan Belinyu. Secara strategis dan teknis kita upayakan bagaimana ini menjadi arahan dan informasi kepada dunia internasional bahwa produk Palm Kernel Shell ini memiliki pabrik di Pulau Bangka dan bisa eksport dari Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu,” katanya.Dengan kuantitas maksimal pengiriman 10 ribu ton setiap pengiriman. “Untuk 10 ribu ton PT. BAS memerlukan waktu pengumpulan bahan baku siap eksport selama 5 bulan. Kita bisa melakukan pengiriman di atas itu namun dikarenakan faktor cuaca dan letak geografis, dengan kita membawa bobot kapal berkapasitas 50 ribu ton, kita terpaksa bekerja di luar dermaga Pelabuhan Tanjung Gudang dengan cara pengangkutan bahan baku Palm Kernel Shell dari darat diangkut mengunakan tongkang dengan kapasitas 500 ton dan dari tongkang diangkut ke kapal. Memang ini merupakan pekerjaan yang mahal tapi apa boleh buat, kalau kita tidak mencoba mengunakan sistem ini artinya kapan kita akan bisa menampakkan bahwa kita bisa. Apa lagi Belinyu, saya pikir dari jaman dulu kita sudah tahu kondisinya harus didukung, karena geogarfisnya sangat mendukung dan kita berharap kalau pun kita harus mengekspor ke Singapura jarak kita lebih dekat, maka kita bekerja ingin menyampaikan pesan kepada semua baik pemerintah dan otoritas setempat, ayo bahwa kita mampu mengerjakan ini untuk menciptakan ekonomi baru di Kecamatan Belinyu dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada khusus nya,” kata Yudi.Terakhir, ia berharap eksport 10 ribu ton Palm Kernel Shell ini bisa berjalan dengan lancar sehingga masih ada 20 ribu ton lagi Palm Kernel Shell yang harus dikirim kembali pada waktu dekat ini, sekitar bulan September karena setelah itu akan memasuki musim barat dan tak bIsa lagi melakukan pekerjaan dikarenakan faktor cuaca dan gelombang yang agak besar akan menggangu aktifitas bongkar buat ke kapal.

Di tengah kondisi darurat pandemi COVID-19 ekspor komoditas cangkang kelapa sawit atau disebut Palm Kernel Shell/PKS ke pasar Jepang berpotensi mengalami peningkatan.

Palm Kernel Shell [PKS] Yang Laris Manis di Jepang

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyatakan, pemberlakuan kondisi darurat COVID-19 di Indonesia tidak menyurutkan kinerja Kementerian Perdagangan dalam mendorong ekspor Indonesia ke pasar global, seperti komoditas palm kernel shell ini ke Jepang. “Meskipun, Pemerintah Jepang memberlakukan kondisi darurat akibat pandemi COVID-19 di seluruh wilayah di Indonesia sejak 7 April 2020, Kemendag terus mendorong berbagai potensi produk ekspor, seperti komoditas palm kernel shell ke Jepang yang tercatat relatif stabil dan bahkan berpotensi meningkat,” ungkap Mendag Agus.

Sementara itu, Atase Perdagangan [Atdag] RI di Tokyo, Arief Wibisono menuturkan bahwa Jepang merupakan salah satu negara yang sedang menggalakan penggunaan sumber energi terbarukan, termasuk energi biomassa.

Berdasarkan data Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri [METI] Jepang, kebutuhan akan energi listrik di Jepang hingga 2030, sebagian besar akan disuplai oleh batubara sebesar 26 persen dan energi terbarukan sebesar 22—24 persen.

Dari nilai tersebut, energi terbarukan tercatat mengalami peningkatan cukup signifikan yaitu sebesar 10,3 persen dari seluruh pasokan energi nasional Jepang dibanding tahun 2016.

Melihat peluang tersebut, Atdag Tokyo bersama Indonesia Trade Promotion Center [ITPC] di Osaka, terus aktif mempromosikan dan melakukan kampanye produk turunan kelapa sawit secara virtual di Jepang di tengah kondisi sulit corona ini, selain aktif membawa potential buyers pada TEI 2019 dan berpartisipasi dalam pameran International Biomass Expo 2020 di Tokyo Februari lalu.“Produk biomassa ini akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Jepang dengan skema Feedin Tariff. Mengingat kebutuhan akan energi yang besar dan terus meningkat di Jepang, Indonesia akan secara kontinyu mengekspor produk ini ke Jepang,” kata Atdag Arief.

ADVERTORIAL PT BUDI AGRI SEJAHTERA [BAS]