Nasional

Sabtu, 17 Oktober 2020 - 05:40 WIB

5 hari yang lalu

Sopiah (Pasien) warga asal Kampung Cibangkur, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, tengah dibawa menggunakan kendaraan pribadi Ketua RW 01 menuju RSUD Adjidarmo Rangkasbitung (foto: juaramedia)

Sopiah (Pasien) warga asal Kampung Cibangkur, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, tengah dibawa menggunakan kendaraan pribadi Ketua RW 01 menuju RSUD Adjidarmo Rangkasbitung (foto: juaramedia)

Diduga Ditelantarkan Ambulance Puskesmas Cikulur, Soleh : Sulit Jadi Rakyat Kecil Dapat Pelayanan Pemerintah

TBOnline [LEBAK] — Dugaan buruknya pelayanan moda transportasi kesehatan ambulance di Puskesmas Cikulur, dengan menurunkan pasien di tengah perjalanan menuju RSUD Adjidarmo, Rangkasbitung, yang terjadi beberapa waktu lalu ditanggapi pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak.

Melalui dr Budi Mulyanto, Kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK) Farmasi dan POM diperoleh keterangan bahwa pasien tersebut sebelumnya telah meminta rujukan ke RS. Kemudian, pihak puskesmas menawarkan pasien, mau dibawa menggunakan kendaraan ambulance setempat atau pribadi.

“Pasien berbicara akan menggunakan kendaraan pribadi. Karena, kendaraan yang disewanya belum datang. Akhirnya, petugas puskemas mengantarkan pasien ke kediamannya terlebih dahulu,” katanya.

Kemudian, kata Budi, kendaraan yang disewa pasien seperti mobil angkot lewat dan berhenti di rumah pasien.

“Boleh ditanyakan langsung kepada sopir angkot yang disewanya,” singkat Budi melalui seluler.

Sementara keterangan berbeda diperoleh dari Soleh, suami pasien Sopiah, warga Kampung Cibangkur, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur-Kabupaten Lebak, terkait dugaan penelantaran yang dilakukan oknum Puskesmas Cikulur ini.

“Awalnya saya bersama istri saya berangkat dari rumah menggunakan motor ke Puskesmas Cikulur untuk meminta pertolongan medis. Kemudian, setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas, pasien harus secepatnya di rujuk ke RSUD,” kata Soleh saat ditemui di halaman RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Selasa (13/10/2020).

Dijelaskan Soleh, setelah mendapatkan rujukan ke RSUD Adjidarmo, ia kemudian meminta pertolongan agar diantarkan ke Rangkasbitung menggunakan ambulance.

“Pada saat itu kami dipersilahkan menggunakan kendaraan mobil ambulance untuk menuju rumah sakit rujukan. Namun, di tengah perjalanan. Kita disarankan oleh sopirnya untuk turun dari mobil ambulance dan diminta agar menggunakan jasa angkutan umum,” ujar nya.

Alasan sopir, lanjut Soleh, karena ambulance tidak bisa masuk dan berhenti di halaman rumah sakit rujukan. Terlebih, persyaratan administrasinya terlalu banyak.

“Alasannya tidak bisa di parkir di pekarangan RS rujukan dan syarat administrasinya banyak,” ungkapnya.

Karena Soleh harus segera membawa istri ke RS rujukan dan sulit mencari kendaraan umum (angkot), kemudian ia meminta pertolongan kepada Ketua RW setempat untuk mengantarkannya ke RSUD Adjidarmo Rangkasbitung.

“Jujur jadi rakyat biasa sulit mendapatkan pelayanan dari pemerintah. Khususnya, kendaraan ambulance di Puskesmas Cikulur,” tukasnya.

Di tempat berbeda, Kepala Puskesmas Cikulur, Juanda mengaku jika ia belum mengetahui persoalan ini. Sebab, ketika itu masih menghadiri kegiatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Polsek setempat.

“Saya akan koordinasi dulu dengan petugas yang di Puskesmas Cikulur,” ujar Juanda. Ade KS & Suud

 


TBO mendukung pemerintah mencegah penyebaran COVID 19. Situasi dan perkembangan terkini sebaran VIRUS COVID 19 nasional tekan disini 

 

 

Artikel ini telah dibaca 137 kali

Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A
Baca Lainnya