Headline Hukum Metropolitan

Thursday, 5 September 2019 - 20:14 WIB

2 weeks yang lalu

Forum Wartawan Jakarta [FWJ] menggelar konferensi pers, pada Rabu [4/9/2019] terkait dugaan pelecehan dan kriminalisasi terhadap jurnalis Esa Tjatur Setiawan [Foto: Istimewa]

Forum Wartawan Jakarta [FWJ] menggelar konferensi pers, pada Rabu [4/9/2019] terkait dugaan pelecehan dan kriminalisasi terhadap jurnalis Esa Tjatur Setiawan [Foto: Istimewa]

Dianggap Kriminalisasi Profesi Jurnalis,  FWJ Tunggu Pihak Ancol Minta Maaf  

TBOnline [JAKARTA] – Forum Wartawan Jakarta [FWJ] menggelar konferensi pers, pada Rabu [4/9/2019] terkait dugaan pelecehan dan kriminalisasi terhadap Esa Tjatur Setiawan, jurnalis lampumerah.co.id oleh oknum security PT. Jaya Ancol [PJA] dan salah seorang Panit di Polsek Pademangan, Jakarta Utara.

Bertempat di Sekretariat Forum Wartawan Jakarta [FWJ], Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih No. 32-34, Lt. 3 Jakarta Pusat, acara ini mengulas kronologis kejadian yang menimpa anggota FWJ Esa Tjatur Setiawan pada 17 Agustus 2019 saat terjadi aksi demo didepan pintu Ancol. Selain Esa yang hadir bersama kuasa hukumnya Mifta Chatul [Meta], hadir juga Pitra Romadhoni Nasution, kuasa hukum dari Forum Wartawan Jakarta [FWJ].

Pitra menyayangkan peristiwa dugaan pelecehan dan kriminalisasi terhadap profesi wartawan ini, menurutnya wartawan dalam mencari berita dilindungi undang-undang. “Peristiwa yang dilakukan pihak PJA dan oknum Panit Polsek Pademangan terhadap Esa rekan jurnalis sungguh melecehkan profesi wartawan, untuk itu kami dari advokad Forum Wartawan Jakarta [FWJ] akan menggugat PT. Jaya Ancol dan oknum Panit Polsek Pademangan,” kata Pitra. Ia juga meminta Mifta Chatul, agar totalitas mendampingi Esa Tjatur Setiawan dalam kasus ini. Sementara itu, Mifta Chatul [Meta] menjelaskan pihaknya telah melayangkan somasi kedua ke PT. Jaya Ancol, namun sampai detik ini belum ada tanggapan. “Kami sudah layangkan somasi kedua ke PT. Jaya Ancol [PJA], namun hingga detik ini somasi kami seperti diabaikan ya, jadi kami kasih waktu hingga 3 hari kedepan, jika tidak ada tanggapan juga, maka pihak Forum Wartawan Jakarta [FWJ] akan melakukan gugatan hukum,” terang Meta.

Gedung Ancol Beach City [ABC] yang didemo mahasiswa [Foto: Okezone]

Tanggapan serius juga dilontarkan Ketua Forum Wartawan Jakarta [FWJ], Mustofa Hadi Karya [Opan]. Ia menyatakan FWJ akan mengambil sikap tegas atas perlakuan yang dilakukan oknum security Ancol dan oknum Panit Polsek Pademangan terkait kriminalisasi dan pelecehan terhadap anggotanya Esa Tjatur Setiawan. “Yang jelas, FWJ akan mengambil sikap tegas dan akan berkordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mendorong kasus ini menjadi terang benderang,” ucap Opan.

Selain itu, Opan juga berjanji akan menggerakan seluruh anggotanya untuk mendesak pihak PT. Jaya Ancol membuat surat resmi permintaan maaf dan diumumkan di media-media yang bermitra dengan PJA. “Tindakan oknum security PJA dan oknum Panit Polsek Pademangan sudah diluar batas, dan itu tidak bisa kami biarkan,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini Esa Tjatur Setiawan kembali mengenang peristiwa yang dialaminya pada 17 Agustus 2019 lalu, ketika demo mahasiswa di Pantai Jaya Ancol (PJA) yang dipimpin Chairul. Menurut Esa, dalam aksi tersebut, Chairul menyuarakan aspirasi orang banyak tentang kebenaran, namun anehnya malah ditangkap polisi.

Padahal lanjut Esa, demo tersebut berlangsung damai dan tertib, bahkan tidak terlihat adanya tindakan melawan hukum. “Mereka menamakan dirinya dari Aliansi Komunitas Peduli Aset Negara (KPAN) saat menggelar demo, dan meneriakkan yel-yel mendesak pimpinan maupun direksi PJA agar bersikap tegas terkait pengelolaan gedung ABC Ancol yang selama 15 tahun terakhir dinilai gagal memberikan kontribusi keuntungan bagi PJA,” kata Esa. bahkan pihak tersebut alih-alih memberikan keuntungan, WAIP selaku pengelola justru menghadirkan image buruk bagi PJA, terkait wanprestasi, kewajiban bayar pajak, minimum charge dan terlibat masalah hukum dengan pihak ketiga yang menyebabkan gedung ABC Ancol harus disegel dan di police line oleh pihak Bareskrim Polri. “Yang saya liput saat demo tersebut, terdengar jelas Chairul berorasi lantang. Sebagai korlap demo, Chairul membeberkan kasus PJA tersebut tidak kunjung tuntas, dan berakibat kerugian besar bagi PJA. Namun mengapa pimpinan dan direksi PJA tidak segera mengambil alih pengelolaan, bahkan seperti takut dengan bos WAIP yang jelas-jelas memberikan kontribusi negatif bagi pendapatan pemerintah. “Sayangnya, aksi yang berlangsung tertib dan damai, namun pada pukul 16:00 Wib mendadak ricuh,” kenangnya.

Menurut Esa, kericuhan terjadi setelah petugas security PJA bertindak secara berlebihan dengan merampas ban dan spanduk maupun atribut peraga lainya, sehingga memancing cekcok mulut dan aksi saling dorong. “Posisi saya saat itu sedang menjalankan tugas wartawan dengan mengambil gambar demo yang diikuti sekitar 22 orang, hingga kenapa saya juga ikut ditangkap dan dibawa ke Polsek Pademangan,” tanyanya.

Awal kericuhan terjadi ketika ada 2 motor dengan kecepatan tinggi yang dikendarai dua security PJA sengaja menerjang kearah kerumunan peserta demo, hingga formasi aksi jadi porak poranda dan bubar. “Security PJA pun semakin beringas dengan menangkap dan mendorong kordinator lapangan Chairul, yang belum lama menjalani ujian akhir di Universitas Bung Karno itu. Lalu petugas memasukkan Chairul dalam sebuah mobil bersama beberapa peserta demo, yakni Eka Romdhani, mahasiswa semester 3 Ibnu Choldun – Jakarta. Keduanya aktifis HMI cabang Jakarta, dan saya yang sedang menjalankan tugas wartawan saat mengambil momen demo tersebut juga ikut dibawa”. Kami bertiga, lanjut Esa, dibawa pergi kedalam menuju pos polisi utama, meninggalkan lokasi aksi di depan pintu timur PJA.

Tak lama setelah itu, jelang maghrib, oleh petugas Polsek Pademangan, kami dipindahkan ke Mapolsek Pademangan, Jakarta Utara. “Baru sore esok harinya, kami diperbolehkan pulang setelah BAP dan dikenakan wajib lapor,” ujarnya. ***

Artikel ini telah dibaca 88 kali

Baca Lainnya