Nasional

Sabtu, 6 November 2021 - 11:41 WIB

3 bulan yang lalu

Diskusi para wartawan yang berlangsung, Jumat (5/11/2021) di Saung Perjuangan depan IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, menyoal perkataan oknum pegawai BWSS (Foto : Ist)

Diskusi para wartawan yang berlangsung, Jumat (5/11/2021) di Saung Perjuangan depan IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, menyoal perkataan oknum pegawai BWSS (Foto : Ist)

Buntut Perkataan “Itu Media Kurang Ajar” Oknum Pegawai BBWSCC

TBOnline [CIREBON] — Empat organisasi wartawan (PWI, IWO, IJTI dan AJI) sepakat bahwa oknum pegawai Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung berinisial Is melakukan kekerasan verbal terhadap jurnalis. Kalimat “itu media kurang ajar” yang dilontarkan Is jelas melukai para wartawan secara umum, tidak hanya jurnalis yang sedang ada di lokasi saja. Hal ini mengemuka dalam diskusi yang berlangsung, Jumat (5/11/2021) di Saung Perjuangan depan IAIN Syekh Nurjati, Cirebon.

Diskusi menghadirkan pembicara Ketua PWI Cirebon Moh. Noli Alamsyah, Ketua IJTI Cirebon Raya Faizal Nurathman, Ketua IWO Cirebon Raya Muslimin dan pengurus AJI Bandung M. Syahri Romdhon.

Kegiatan berlabel ‘Jumat Juang’ dengan tema kekerasan terhadap jurnalis ini dipandu moderator Fikri dari Kompas, yang diikuti para wartawan cetak, televisi, radio dan online yang ada di Cirebon serta para mahasiswi dari pers kampus.

Diskusi ini digelar atas peristiwa yang terjadi pada Jumat sore, 29 Oktober 2021 di kawasan Krucuk, Kota Cirebon. Saat itu, petugas gabungan dari Polres Cirebon Kota dan Dinas Perhubungan sedang melakukan check point pemeriksaan kartu vaksin terhadap pengendara ber plat nomor dari luar Cirebon. Petugas kemudian menghentikan mobil dengan plat nomor luar Cirebon yang dikemudikan Is, saat dimintai kartu vaksin, Is malah mengaku seorang pegawai di BBWS, selanjutnya melontarkan kalimat “itu media kurang ajar” saat melihat para jurnalis mengambil gambar.

Lontaran kalimat ini yang mengundang reaksi para jurnalis hingga sejumlah organisasi wartawan mengeluarkan pernyataan sikap baik IJTI, IWO, PWI dan AJI, bahkan IWO dan PWI melakukan pelaporan atau pengaduan ke Polres Cirebon Kota.

Dalam diskusi di Saung Perjuangan, Ketua PWI Cirebon Noli Alamsyah berpendapat kata-kata yang dilontarkan Is jelas kekerasan verbal terhadap wartawan. “Maka kami dari PWI menilai apa yang disampaikan Is merupakan penghinaan dan ungkapan kebencian terhadap wartawan,” tandasnya.

Hal senada dikemukakan Ketua IWO Muslimin yang berpendapat bahwa perbuatan Is masuk kategori tidak menyenangkan yang dialami para jurnalis. “Harusnya yang bersangkutan cepat menyampaikan permohonan maaf yang dikemukakan secara terbuka di hadapan para jurnalis,” ujarnya.

Ketua IJTI Faizal mengemukakan, Is mengaku spontan melontarkan kata-kata itu, meski pihaknya dua kali bertemu dengan Is, namun tidak ada komitmen apapun. “Ya, kami dari IJTI sudah bertemu 2 kali dengan yang bersangkutan, tapi tidak ada apa-apa,” lanjutnya.

Pengurus AJI M. Syahri Romdhon mengatakan, persoalan ini seharusnya bisa cepat diselesaikan dengan permohonan maaf secara terbuka. Bila itu dilakukan sejak awal, masalah tidak akan menjadi besar.

“Kami menghormati IWO dan PWI yang membuat pengaduan masyarakat (dumas) maupun pelaporan ke pihak kepolisian. Kami sepakat yang bersangkutan memang salah, namun masih bisa diselesaikan persoalannya lewat jalur komunikasi atau musyawarah,” pungkas jurnalis yang akrab disapa Aray ini. Agung Laksono

Artikel ini telah dibaca 285 kali

Baca Lainnya