Headline Laporan Utama

Sunday, 1 September 2019 - 09:30 WIB

3 months yang lalu

Terdakwa kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak di Mojokerto, M. Aris yang tengah menanti pelaksanaan eksekusi kebiri kimia [Foto: Serambi Indonesia]

Terdakwa kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak di Mojokerto, M. Aris yang tengah menanti pelaksanaan eksekusi kebiri kimia [Foto: Serambi Indonesia]

Aris Ciut Nyali, Pilih Mati Ketimbang Kebiri

TBonline [SURABAYA] – M. Aris [21 tahun], terpidana kasus pelecehan seksual dan kekerasan terhadap 9 anak yang berasal dari Dusun Mengelo, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur bakalan menjadi predator anak pertama yang akan menjalani vonis hukuman kebiri kimia, sejak undang-undang ini resmi disahkan pada Oktober 2016.

Selain kebiri kimia Aris juga bakal menjalani pidana kurungan 20 tahun, hal ini berdasarkan putusan di PN Mojokerto dan PT Surabaya. “Jika menjalani sepenuhnya, akumulasinya menjadi 20 tahun,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Sunarta kepada wartawan, Jumat (30/8/2019).

Namun hukuman mencolok yang menjadi kerisauan hati Aris ialah vonis tambahan kebiri kimia yang akan dijalaninya, bahkan dia mengaku lebih memilih dihukum mati daripada dikebiri kimia. “Saya keberatan dengan hukuman suntik kebiri kimia. Saya menolak karena efek kebiri berlaku sampai seumur hidup. Mending saya dihukum dua puluh tahun penjara atau dihukum mati. Setimpal dengan perbuatan saya,” ujarnya di Lapas Mojokerto, Jawa Timur, Senin (26/8/2019).

Aris tampak membela diri dengan mengaku tidak melakukan penganiayaan terhadap korbannya, namun dilakukan dengan memberikan iming-iming jajan. “Saya cari dulu [korban] keliling begitu. Setelah ketemu, saya iming-imingi jajan. Tidak pernah menganiaya, ya tidak saya paksa. Kemudian (saya bawa) ke tempat sepi. Iya pernah di Masjid, tapi diluarnya,” katanya.

Bahkan demi membatalkan putusan hukuman tambahan kebiri kimia ini, melalui kuasa hukumnya, Aris berencana mengajukan Peninjauan Kembali [PK] ke Mahkamah Agung [MA]. Dilansir dari merdeka.com kuasa hukum Aris, Handoyo mengatakan, kliennya memang berencana mengajukan upaya hukum lain. Tujuannya agar dapat membatalkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur. “Upaya hukum yang bisa dilakukan memang mengajukan PK. Karena di tingkat banding kan sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah),” ujarnya, Selasa (27/8).

Dia mengungkapkan, pihaknya mengajukan PK lantaran peraturan pemerintah yang mengatur soal pelaksanaan teknis kebiri kimia itu masih belum ada. Sehingga, hukuman tambahan tersebut harusnya tidak dapat dilaksanakan. Ia menambahkan, hukum tidak berlaku surut. Jika belum ada aturan yang mengaturnya, maka hukuman tersebut belum dapat diterapkan. “Peraturan pemerintahnya (soal pelaksanaan hukuman kebiri kimia) belum ada. Bagaimana bisa melaksanakan. Sedangkan hukum tidak berlaku surut. Untuk itu lah kita ajukan PK,” tambahnya.

Menangkap kegusaran Aris, kakak tertuanya Sobirin (33) berharap agar adiknya bisa dirawat di Rumah Sakit Jiwa [RSJ] saja. Ia mengatakan sejak masih anak-anak, adik bungsunya itu menunjukkan indikasi gangguan jiwa. Aris kecil sering dikucilkan karena dianggap berperilaku yang tak lazim, seperti suka berbicara sendiri baik saat di jalan atau saat di rumah. “Kelakuannya seperti anak kecil. Di lingkungan sini dia dikucilkan, tapi dia tidak pernah mengamuk karena takut sama saya,” kata Sobirin, Selasa (27/8/2019). “Kasihan dia enggak tahu nanti akan bagaimana. Harapan saya sih dia bisa dirawat dan pikirannya dijernihkan. Kalau bisa dirawat di rumah sakit jiwa, supaya dia bisa normal,” tuturnya.

Aris merupakan anak keempat dari pasangan Abdus Syukur (50) dan Askinah. Askinah meninggal lima tahun lalu.

Sementara itu Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono menuturkan pihaknya sudah menerima berkas berupa surat keterangan kesehatan jiwa dari penyidik Polres Mojokerto yang menerangkan Muhamad Aris tidak memiliki gangguan kejiwaan. “Itu artinya hukuman tambahan kebiri kimia bisa dilakukan terhadap terpidana Aris karena dia sehat mental dan fisik,” kata Rudy di Surabaya, Kamis (29/8/2019). Menurut dia jaksa sudah menerima surat keterangan sehat. Jika tidak ada surat itu, kan tidak bisa diajukan ke persidangan. “Jaksa sebagai eksekutor hukuman kebiri sampai saat ini masih menunggu petunjuk dari Kejaksaan Agung tentang teknis hukuman kebiri tersebut karena selama ini memang belum ada petunjuk teknis tentang hukuman kebiri kimia tersebut”.

Dihimpun dari berbagai sumber, eksekusi kebiri kimia ini dilakukan dengan memasukkan zat kimia anti-androgen ke tubuh seseorang lewat pil atau suntikkan. Tujuannya, agar produksi hormon testosteron yang mengatur banyak fungsi, termasuk fungsi seksual, di tubuh mereka berkurang. Dengan demikian, gairah seksual mereka pun berkurang. Selain mempengaruhi gairah seksual, kebiri kimia juga dapat menimbulkan berbagai reaksi pada tubuh. Reaksi negatifnya meliputi penuaan dini karena cairan anti-androgen mampu mengurangi kepadatan tulang sehingga menjadi keropos dan risiko osteoporosis meningkat. Redaksi ***

Artikel ini telah dibaca 93 kali

Baca Lainnya